Showing posts with label perabot. Show all posts
Showing posts with label perabot. Show all posts

Thursday, September 6, 2012

SENTRA PERABOTAN RUMAH TANGGA SOLO, JAWA TENGAH

SENTRA PERABOTAN RUMAH TANGGA SOLO, JAWA TENGAH

Sentra perabot Solo: Pusat kulakan pedagang (1)

Sentra perabot Solo: Pusat kulakan pedagang (1)
Sejak tahun 1980-an, Jalan Perintis Kemerdekaan, Solo, Jawa Tengah menjadi sentra penjualan aneka perabotan rumah tangga yang terbuat dari aluminium, seng, dan plastik.

Di sepanjang ruas jalan ini terdapat belasan toko yang menjual hampir semua jenis perabotan rumah tangga. Di antaranya ada dandang, panci, wajan, oven, loyang dan aneka cetakan kue, serok sampah, drum, kompor, dan lainnya.

Selain keperluan rumah tangga, ada pula pedagang yang menjual aneka model kubah masjid berbahan aluminium. Tak hanya itu, pedagang juga memasok sejumlah barang dari plastik dan karet.

Bagi warga Solo dan sekitarnya, sentra ini sudah sangat dikenal. Mereka biasa menyebut sentra ini sebagai Pasar Kabangan, Jongke. Lokasinya berada di sebelah utara sentra batik Laweyan.

Pasar Kabangan cukup nyaman sebagai tempat belanja. Lokasinya di pinggir jalan dengan area pelataran toko yang cukup luas.

Hampir semua pedagang memang menaruh barang dagangannya di pelataran toko. Namun, masih ada area bagi pengunjung melihat-lihat dan memarkirkan motor. Kawasan ini pun terhitung bersih.

Salah seorang pedagang bernama Budi mengaku, sudah berjualan di sentra ini sejak 15 tahun silam. "Saat saya masuk, kawasan ini memang sudah ramai oleh pedagang perabotan aluminium," ujarnya.

Dari informasi yang diterimanya, sebelum menjadi sentra peralatan aluminium dan seng, sejak tahun 1960-an kawasan ini telah menjadi pasar kebutuhan pokok. Namun, lama-kelamaan jenis barang yang dijual berganti menjadi perabotan aluminium hingga saat ini.

Menurut Budi, Pasar Kabangan tempatnya berjualan merupakan pusat penjualan perabotan aluminium terbesar di Solo. "Semua kalau mau membeli peralatan seperti ini, ya belinya di sini. Di sini kan sudah termasuk pusatnya," ujar Budi.

Selain dari Solo, konsumen bahkan datang dari wilayah Sragen, Karanganyar, Wonogiri, Klaten, dan Boyolali. Bahkan, ada juga konsumennya yang berasal dari Yogyakarta. Budi juga pernah melayani pembeli yang membawa barang-barang tersebut ke kawasan Sumatera.

Selain pembeli eceran, ia juga banyak melayani pembeli grosir atau bakulan untuk dijual kembali. Omzetnya dari usaha ini sekitar Rp 500.000 hingga
Rp 2 juta per hari.

Pedagang lain, Teguh mengatakan, banyak konsumennya merupakan pedagang eceran. "Biasanya mereka pedagang keliling atau pedagang ke pasar-pasar kecil," ujar Teguh.

Para pedagang berburu perabotan aluminium di kawasan ini karena harganya lebih murah, terutama bila membeli dalam jumlah besar. Teguh juga kerap memberikan potongan harga bagi konsumen yang membeli dalam jumlah banyak. "Kalau membeli banyak harganya jauh lebih miring," kata Teguh yang mengaku mengantongi omzet belasan juta rupiah per bulan.

Pasar Kabangan ini buka setiap hari. Di hari kerja, pasar ini buka mulai pukul 07.30 WIB pagi hingga pukul 21.00 WIB. Pada hari kerja, pasar ini biasanya selalu ramai pengunjung. Setiap hari, pembeli terlihat terus berdatangan silih berganti ke pasar ini.

Sebaliknya akhir pekan lebih sepi. Makanya, bila hari Minggu jam buka toko lebih siang. Rata-rata pedagang baru membuka tokonya di pukul 09.000 WIB.

Sentra perabot Solo: Boleh bayar belakangan (2)

Sentra perabot Solo: Boleh bayar belakangan (2)

Sentra perabot rumah tangga berbahan aluminium di Solo, Jawa Tengah menjadi tempat kulakan para pedagang eceran. Lantaran sudah saling kenal, para pedagang eceran ini banyak yang berutang. Mereka akan mengambil barang dulu dan membayarnya kemudian. Cara ini berlaku hanya berdasarkan rasa saling percaya.

Berdiri sejak 1980-an, sentra penjualan aneka perabotan rumah tangga yang terbuat dari aluminium, seng, dan plastik di Solo, Jawa Tengah, selalu ramai dikunjungi pembeli.

Semua pedagang di lokasi ini sudah memiliki pelanggan tetap dari berbagai daerah di Solo dan sekitarnya, seperti Sragen, Karanganyar, Wonogiri, Klaten, Boyolali, dan Yogyakarta.

Lantaran sudah saling kenal, pedagang sering memberikan utang kepada para pelanggannya ini. Caranya, pembeli mengambil barang dulu dan membayarnya kemudian.

Cara pembayaran seperti ini disebut sistem tempo. Nilai utang pembeli pun terhitung tak sedikit, bisa mencapai jutaan rupiah. Namun, para pedagang menilai hal ini sudah biasa berlaku di tempat mereka berjualan.

Salah seorang pedagang, Budi termasuk yang memberikan fasilitas pinjaman ini. Di dalam tokonya tampak banyak sekali bon utang para pelanggan yang ditempelkan di dinding. "Kalau sama saya sistemnya kepercayaan saja, bayarnya tidak ada ikatan," ujar Budi.

Ia menjelaskan, sudah sejak lama sistem utang ini berlaku di sebagian pedagang perabotan rumah tangga. Nilai utang bisa mulai ratusan ribu hingga jutaan rupiah. Namun, sejak beberapa tahun lalu, Budi membatasi utang maksimal Rp 5 juta bagi pelanggan tetapnya.

Para pelanggan yang berutang ini kebanyakan para pedagang. Jadi, mereka akan melunasi utangnya setelah barang dagangan laku.

Namun, tak lama biasanya mereka akan berutang lagi ke pedagang perabotan. Budi mengakui, sistem ini sebenarnya kurang menguntungkan pedagang. Terutama, saat pedagang sedang membutuhkan uang dalam jumlah banyak.

Pernah suatu ketika istri Budi sakit dan membutuhkan biaya pengobatan lumayan besar. "Terpaksa saya menyambangi satu per satu rumah langganan untuk meminta pelunasan utang," ujarnya.

Pedagang lain, Parno juga memberikan utang kepada para pelanggannya. Namun, ia cukup selektif. "Saya hanya memberikan utang kepada orang yang saya kenal saja," ujar Parno.

Selain itu, ia memberi batasan para pelanggannya untuk melunasi utang maksimal dua minggu. Batas nilai pinjaman juga maksimal Rp 5 juta per orang.

Ia mengaku, sejauh ini penagihan utang kepada para pelanggannya tidak pernah menemui kesulitan. Kalaupun ada beberapa yang sulit melunasi, Parno memilih tak ambil pusing.

Khusus bagi pelanggan luar kota, Parno mewajibkan pembayaran tunai. Berbeda dengan pedagang lain yang kebanyakan menjual perabotan rumah tangga kecil, Parno khusus menjual perabot-perabot besar, seperti jemuran, rak piring, pintu kamar mandi, hingga sekat-sekat bilik.

Ia mengaku selektif memberikan utang demi kelancaran usahanya. Bila tidak selektif, ia khawatir ada pelanggan yang lari dari tanggung jawab.

Parno sendiri selalu mengusahakan kas toko dia memiliki persediaan uang yang cukup. Soalnya, ia masih harus membiayai para produsen perabot tempatnya berlangganan selama ini.

Selama ini, barang dagang Parno banyak dipasok para perajin di daerah Laweyan, Solo. Jika ada pesanan dari konsumen, ia akan meneruskannya kepada para perajin langganannya itu. Tentu, ia harus mengeluarkan modal terlebih dahulu.

Budi juga kerap mengutangi atau membiayai para perajin yang kerap menjadi langganannya. Para perajin langgan Budi, kebanyakan berasal dari Klaten, Jawa Tengah.

Biasanya, para perajin meminjam uang untuk membeli bahan. Semuanya berjalan dengan sistem kepercayaan. "Kalau ada yang curang, mungkin bukan rezeki kita," ujar Budi.

Sentra perabotan Solo: Andalkan pembeli bakulan (3)


Sentra perabotan Solo: Andalkan pembeli bakulan (3
Kendati penjualan lumayan, pembeli langsung di sentra penjualan perabotan rumah tangga Pasar Kabangan Solo, tak terlihat ramai. Maklum, pedagang di tempat itu sudah punya pelanggan tetap. Mereka tak perlu datang langsung tinggal pesan via telepon, barang bisa diambil sendiri atau diantar sampai tujuan.

Minggu pagi itu, Budi, salah seorang pemilik toko perabotan rumah tangga dari aluminium di Pasar Kabangan, Solo tengah sibuk mengumpulkan 200 serokan serta puluhan kompor kecil. Pelanggannya sebentar lagi akan datang untuk mengambil pesanan. Ia masih menghitung-hitung jumlah barang pesanan. Jika masih kurang, Budi tak sungkan mengambil dari toko sebelah.

Pedagang di kawasan Pasar Kabangan memang rata-rata sudah memiliki pelanggan tetap. Tinggal pesan via layanan pesan pendek (SMS) atau telepon, barang pun bisa langsung diangkut.

Soal harga tak menjadi soal, karena pedagang di Pasar Kabangan tak akan memainkan harga. "Kalau untuk pembeli bakulan (banyak), keuntungan tidak sampai sepersepuluhnya dari harga barang," ujar Budi.

Budi mencontohkan, serokan yang ia jual tersebut dihargai Rp 4.500 per buah kepada pembeli bakulan. Harga itu tak bisa ditawar. Namun, untuk pembeli eceran, ia akan membuka harga mulai dari Rp 8.000 hingga Rp 10.000 per buah, tapi masih bisa ditawar.

Keuntungan dari penjualan partai besar memang sangat sedikit, apalagi jika harga barangnya mahal. Barang seperti dandang misalnya, Budi bisa untung hingga Rp 20.000 per buah dari pembeli eceran, tetapi hanya Rp 4.000 dari pembeli bakulan. Namun, perputaran barang pembelian bakulan jauh lebih cepat dari penjualan eceran.

Nah, untuk pembelian dalam partai besar ini, Budi menyediakan layanan khusus bagi pelanggannya. Mereka tinggal menanyakan ketersediaan barang via SMS atau telepon, lalu mengambilnya. "Saya juga menyediakan jasa antar kalau mereka tak sempat ambil. Saya sendiri yang mengantar," ujar Budi.

Hal serupa dilakukan Parno, pemilik Mila Toko. Ia bahkan sudah mulai memasarkan tokonya di internet. Maka, jaringan dia sudah sampai ke luar kota Solo. Hampir seluruh pembeli toko Mila melakukan transaksi melalui pesan antar dan tidak perlu mengunjungi toko lagi untuk melihat barang.

Di luar pesan antar, Parno juga menerima pembuatan aneka barang sesuai keinginan pembeli. Ukuran maupun kualitas bahan yang dipakai bisa disesuaikan.

Ini membuat variasi produk Parno semakin banyak. Bahkan, ia terbuka dengan pembuatan produk baru. Ia kini tak hanya menjual perabotan rumah tangga, tapi sudah merambah membuat sekat-sekat untuk bilik kantor sampai pintu kamar mandi berbahan aluminium.

"Awalnya ada yang pesan sekat kantor, saya terima, ternyata banyak peminatnya, sekarang sudah saya jual partai besar mulai dari kantor sampai kampus," ujar Parno.

Budi pun melakukan hal serupa. Banyak pelanggannya yang ingin membeli tong sampah dengan ukuran sangat besar setinggi lebih dari satu meter. Ia pun mencari aneka limbah tong plastik maupun seng dari pabrik-pabrik. Limbah ini ia bersihkan, cat dan dijual kembali. "Pokoknya kalau pesanannya masih sekitar barang ini dan bisa, akan diusahakan," ujar Budi.

Tuesday, August 28, 2012

SENTRA PERABOTAN RUMAH TANGGA PASAR JATINEGARA, JAKARTA TIMUR


Sentra Perabot: Tempat berburu perabot murah (1)

Sentra Perabot: Tempat berburu perabot murah (1)
Sentra perabotan rumahtangga merupakan satu dari sekian banyak sentra produk lain di kawasan Pasar Jatinegara, Jakarta Timur. Sentra perabotan rumahtangga ini sudah di Pasar Jatinegara sejak 1980-an. Lokasinya tidak jauh setelah Halte Transjakarta Pasar Jatinegara. Sentra ini berada di pinggir Jalan Pasar Jatinegara. Tapi, ada juga pedagang yang kiosnya di dalam gang yang sepanjang jalannya penuh kios perabotan rumahtangga.
Di sentra ini ada sekitar 25 pedagang. Sebagai pusat perabotan rumahtangga, tempat tersebut menjual hampir semua jenis perabotan rumahtangga. Mulai dari perabotan kecil, seperti kemoceng, gantungan baju, dan keset, hingga perabot besar semisal lemari kabinet dan tempat tidur. Selain itu, juga banyak dijual produk-produk elektroknik rumahtangga, semacam kipas angin, setrika, dan rice cooker.
Zubaedah, salah satu pedagang di sentra ini, mengaku menyediakan hampir semua jenis perabot rumahtangga. Harganya berkisar mulai Rp 10.000 untuk perabot kecil, hingga Rp 800.000 untuk perabot besar seperti tempat tidur. Ia juga menjual peralatan dapur seperti panci, penggorengan, dan kompor.
Dari usahanya ini, Zubaedah bisa mengantongi omzet minimal sebesar Rp 1 juta per hari. Menurutnya, omzetnya lumayan besar karena sentra ini selalu ramai dikunjungi pembeli. Maklum, sentra ini sudah kesohor di Jakarta dan sekitarnya. "Tempat berjualan kami ini sudah 30 tahun, turun-temurun dari kakek," jelas Zubaedah.
Awalnya, Zubaedah bilang, pedagang perabotan rumahtangga di Jatinegara yang di zaman Belanda bernama Meester Cornelis baru ada enam orang. Toko mereka belum sebesar sekarang. Tapi sekarang, selain jumlah pedagangnya makin banyak, tokonya juga besar-besar dengan barang dagangan yang makin lengkap.
Samadi, pedagang lainnya, termasuk pedagang senior. Ia sudah berjualan di tempat ini sejak 20 tahun lalu. Ia membenarkan, jumlah pedagang sekarang jauh lebih banyak dari saat awal ia berjualan. "Meski pedagang kian banyak, pembelinya juga bertambah," katanya.
Pembeli semakin ramai, Samadi menjelaskan, lantaran sentra ini semakin dikenal luas masyarakat dan semakin lengkap barang dagangannya. Ia sendiri memiliki dua toko di Pasar Jatinegara. Kedua kiosnya itu bisa meraup omzet minimal Rp 7 juta-Rp 8 juta sehari.Adapun laba bersihnya 10% hingga15% dari omzet.
Samadi mengungkapkan, sebagian besar pelanggan sentra ini merupakan warga Jabodetabek. Selain konsumen pengguna, banyak juga pelanggan sentra ini berprofesi sebagai pedagang. Biasanya, mereka menjual lagi perabotan tersebut di daerah lain. "Kalau harganya cocok dan masih bisa untung, mereka ambil barang dari sini," ungkap Samadi.
Harga perabot di tempat ini memang terhitung miring. Ambil contoh, rice cooker yang di supermarket biasanya Rp 500.000 per unit, di sini hanya Rp 350.000.

Sentra perabot: Sesuai kebutuhan konsumen (2)

Sentra perabot: Sesuai kebutuhan konsumen (2)
Pedagang produk perabotan rumah tangga di Pasar Jatinegara, Jakarta Timur banyak memiliki pelanggan dari kalangan perusahaan, rumah sakit, sekolah-sekolah hingga universitas. Biasanya, mereka membeli dalam jumlah besar. Pedagang sendiri akan memasok perabot yang sedang banyak dicari.

Sentra perabotan rumah tangga di Pasar Jatinegara selalu ramai diserbu pembeli. Namun, tidak seluruh perabotan bisa laku dalam waktu yang sama. Biasanya ada musim-musim tertentu di mana satu produk lebih laku dari produk yang lain. Untuk itu, pedagang harus jeli membaca peluang tersebut.

Pada saat menjelang Lebaran, misalnya, produk stoples yang paling laris. Makanya, banyak pedagang menjajakan produk ini. Namun, setelah lebaran usai, stoples tersebut akan disimpan kembali.

Giliran produk lain yang akan ditonjolkan pedagang. "Kalau stoples dipajang khusus menjelang Lebaran dan tahun baru, karena tidak laku kalau enggak musimnya, jadi saya simpan saja," ujar Samadi, pedagang perabotan di Pasar Jatinegara.

Jika musim hujan, alat-alat kebersihan rumah yang paling banyak laku. Di saat-saat seperti itu, Samadi banyak memasok alat pel, ember, keset, tempat sampah dan alat kebersihan lainnya.

Jumlahnya lebih banyak ketimbang hari biasa. Selain pembeli eceran, banyak pula yang membeli barang tersebut dalam partai besar. Untuk alat-alat kebersihan semacam itu, langganannya banyak perusahaan penyedia jasa cleaning service perkantoran dan rumah sakit.

Sekali membeli, biasanya mereka memborong alat kebersihan sebanyak 50 hingga 100 buah. Menurut Samadi, mereka ini rutin datang berbelanja.

Pedagang lainnya, Doni juga mengaku kerap melayani melayani pembelian dari perkantoran dan rumah sakit. Selain itu, banyak juga sekolah atau kampus yang berbelanja di tempatnya.

Makanya, omzetnya pun terpengaruh dengan siklus penerimaan siswa atau mahasiswa baru. "Setiap musim ajaran baru, pemesanan perabot kebersihan lebih meningkat," katanya.

Jika membeli secara borongan, biasanya Doni memberi potongan harga. Mengenai pasokan barang, para pedagang mengaku tidak kesulitan.

Setiap hari selalu ada sales produk yang berkeliling menawarkan produk kepada para pedagang. Pedagang tinggal menyebutkan kebutuhan produknya dan barang tersebut akan dibawa keesokan harinya.

Selain itu, ada pula barang yang bisa dipesan langsung ke pabrik via telepon. Selanjutnya, barang akan diantarkan langsung ke pedagang.

"Setiap hari kami memasok barang baru. Maka, barang terus berputar. Pintar-pintar saja melihat mana yang sedang laku," ujar Doni.

Zubaedah juga jeli dalam memasok barang. Ia mengaku tidak mau memasok barang yang tidak begitu diminati dalam jumlah banyak. Sebaliknya, ia memilih mengikuti musim atau siklus barang yang sedang diminati konsumen.

Menjelang tahun baru mendatang, ia telah menyiapkan sejumlah produk yang banyak dicari konsumen, seperti kasur, lemari susun, rak, dan karpet. Saat sedang ramai dipesan, harga barang-barang tersebut terkadang lebih mahal dari biasanya.

Sentra Perabot: Rukun karena satu kampung (3)

Sentra Perabot: Rukun karena satu kampung (3)

Sentra perabotan rumah tangga di Pasar Jatinegara, Jakarta Timur diramaikan sekitar 25 pedagang. Kendati saling bersaing mendapatkan pembeli, toh hubungan sesama pedagang tetap terjalin harmonis. Para pedagang hidup rukun dan saling dekat satu sama lain. Hubungan harmonis ini tercipta karena mereka semua bernaung di bawah Perkumpulan Pedagang Cirebon di Mesteer.
Kebetulan hampir semua pedagang perabotan rumah tangga di Pasar Jatinegara ini berasal dari Cirebon. Sejatinya, perkumpulan ini tidak hanya mengayomi para pedagang perabot saja. Tetapi, juga seluruh pedagang di Mesteer asal Cirebon yang jumlahnya lebih dari 200 orang.
Di dalam perkumpulan itu terdapat unit-unit usaha yang masing-masing memiliki ketua. Khusus untuk pedagang perabotan rumah tangga, ketua perkumpulan dijabat oleh Samadi.
Samadi mengaku ditunjuk ketua karena termasuk orang yang pertama berdagang perabot di Mesteer. "Karena saya yang dituakan, saya berusaha mengatur agar jangan ada persaingan tidak bagus di kawasan ini," ujar Samadi.
Di dalam perkumpulan, kata Samadi, para pedagang kerap melakukan pertemuan rutin. Makanya, komunikasi sesama pedagang terjalin dengan baik. Selain itu, pedagang juga kerap urunan biaya bila ada acara tertentu. Termasuk ketika ada anggota keluarga pedagang yang sakit.
Contoh lain, saat menjelang hari kemerdekaan 17 Agustus. Seluruh pedagang akan patungan untuk mengadakan acara perayaan kemerdekan di Cirebon. "Kebetulan kami semua satu kampung jadi bisa membuat acara seperti ini," ujar Samadi.
Samadi bercerita, bila ada kegiatan yang dilakukan di Cirebon, seluruh pedagang biasanya akan pulang kampung untuk mengikuti acara tersebut. Sementara penjualan akan dititipkan kepada karyawan.
"Makanya, perkumpulan ini yang dijaga hatinya, saling silaturahmi, sehingga satu sama lain tidak boleh sirik," ujar Samadi. Pedagang lainnya, Doni membenarkan hal tersebut. Menurutnya, selama berjualan di pasar itu hubungan sesama pedagang selalu rukun. Ia mencontohkan, ketika dirinya kehabisan stok barang saat ada pembeli.
Karena hubungan baik dengan sesama pedagang, ia bisa meminjam barang dari pedagang lainnya, sehingga tidak kehilangan pelanggan. Begitu pun sebaliknya. Kendati rukun, namun bukan berarti tidak ada persaingan sama sekali. Ia tak menampik, kadang-kadang ada pedagang yang menjual harga lebih murah. "Kalau jual murah, mungkin sedang butuh untuk bayar karyawan, rezeki masing-masing sudah ada yang mengatur," ujar Doni.
Ke depannya, Menurut Doni, persaingan sesama pedagang bakal semakin ketat. Setelah Lebaran biasanya akan datang lagi pedagang baru, baik dari Cirebon maupun dari tempat lain yang mencoba mengadu nasib dengan berjualan di kawasan ini.
Jika tak bertahan, mereka akan menjadi pedagang musiman. Namun jika bertahan biasanya menjadi anggota tetap perkumpulan pedagang kawasan itu. "Yang terpenting, persaingan tetap terjaga baik," timpal Zubaedah, pedagang lainnya.

http://peluangusaha.kontan.co.id/news/sentra-perabot-tempat-berburu-perabot-murah-1/2012/08/26
http://peluangusaha.kontan.co.id/news/sentra-perabot-sesuai-kebutuhan-konsumen-2/2012/08/27
http://peluangusaha.kontan.co.id/news/sentra-perabot-rukun-karena-satu-kampung-3