Showing posts with label mitos. Show all posts
Showing posts with label mitos. Show all posts

Wednesday, May 16, 2012

Inilah Mitos Memulai Bisnis

Views :314 Times PDF Cetak E-mail
Rabu, 16 Mei 2012 10:39
memulai_bisnis0212Menjadi seorang entrepreneur saat ini sudah menjadi pilihan banyak orang, ketimbang menjadi karyawan. Entrepreneurship menawarkan manfaat yang besar bagi banyak orang. Selain itu, anggapan bisa bekerja sendiri di rumah, kebebasan dalam mengatur waktu, atau lebih cepat mendatangkan uang menjadi daya tarik tersendiri.

Meski kelihatannya mudah, namun menjadi entrepreneur tidak semudah yang dibayangkan. Karena dianggap mudah, tak jarang orang jadi terkesan menyepelekan prosesnya, dan akhirnya malah gagal. Bila Anda sudah bertekad untuk berbisnis dan mengendalikan sepenuhnya kegiatan operasional bisnis Anda, pahami dulu beberapa mitos tentang memulai bisnis agar tak kaget saat menjalaninya.

1. Bekerja dari rumah berarti lebih santai

Jika Anda berpikir bahwa menjadi entrepreneur bisa membuat Anda bisa bekerja lebih santai, pikirkan lagi. Justru dalam banyak kasus, para pengusaha harus bekerja lebih lama dari pegawai kantoran. Hanya saja, ketika Anda bekerja untuk diri sendiri, Anda bisa mengontrol jadwal Anda sendiri. Ini berarti Anda lebih fleksibel untuk menjalankan pekerjaan di tengah hari atau justru di tengah malam sesuai dengan waktu produktif Anda.

Namun yang perlu diingat adalah, fleksibilitas juga berarti bahwa Anda harus bersaing dengan batas yang tak jelas antara waktu pribadi dan karier, terutama saat baru mulai berbisnis. Sebab, Anda harus mengurus semua aspek bisnis Anda sendiri. Pembagian waktu yang jelas dan disiplin antara waktu pribadi dan waktu kerja sangat dibutuhkan agar kedua hal ini berjalan seimbang. Yang penting, pastikan Anda melakukan semua hal untuk sesuatu yang Anda cintai.

2. Bisa terbebas dari bos

Jika Anda berpikir bahwa menjadi seorang entrepreneur berarti bisa terbebas dari bos, pikirkan sekali lagi. Ketika bekerja sendiri, Anda justru memiliki "bos" yang lebih banyak lagi, yaitu klien atau pelanggan Anda. Ketika menjadi karyawan, Anda mungkin telah bekerja keras untuk menyenangkan bos Anda. Namun ketika menjadi pengusaha, Anda harus bekerja lebih keras untuk membuat klien Anda senang dengan layanan Anda. Jika tidak mampu memenuhi kebutuhan klien, Anda akan kehilangan pelanggan. Meski begitu, keuntungan dengan bekerja sendiri adalah, Anda bisa bebas memilih orang-orang yang akan bekerja sama dengan Anda. Juga, menciptakan suasana atau kultur perusahaan sesuai keinginan Anda.

3. Bisa bekerja sekaligus mengasuh anak

Seorang ibu bekerja pasti tahu bahwa biaya untuk merawat dan membayar pengasuh anak tergolong cukup mahal. Banyak perempuan yang lantas berpikir untuk menjadi seorang pengusaha dengan harapan bisa sekaligus merawat anak dari rumah. Namun, Anda harus realistis dengan situasi yang Anda hadapi. Coba pikirkan situasinya, misalnya berapa banyak waktu yang bisa Anda dedikasikan untuk anak tanpa ada tekanan dari partner bisnis atau relasi Anda. Benarkah Anda betul-betul leluasa untuk membagi waktu antara mengasuh anak dan menjalankan bisnis?

4. Bisnis skala kecil untuk tahu tentang aspek hukum

Banyak pemilik bisnis kecil (UKM) berpikir bahwa bisnis mereka terlalu kecil untuk dikelola secara profesional, dengan membentuk struktur bisnis atau memenuhi aturan-aturan hukum lainnya. Namun, konsultan entrepreneurship menyarankan untuk tetap berpikir ke arah ini. Ketika Anda bergabung dalam wadah pengusaha kecil, misalnya, Anda akan membantu melindungi aset pribadi pemilik dari segala kewajiban perusahaan. Jika suatu saat bisnis Anda mengalami masalah atau pailit, aset pribadi Anda juga masih bisa dilindungi. Selain itu, bantuan dari lembaga pengusaha bisa membantu Anda mengatasi kesulitan yang mungkin dialami.

5. Perlu banyak uang untuk memulai usaha

Menjadi entrepreneur mungkin bukan masalah besar untuk Anda yang punya banyak modal. Namun, ini tak berarti butuh banyak modal untuk berbisnis. Investasi minimal juga bisa digunakan untuk memulai usaha dengan tambahan sedikit kreativitas. Sebagai contoh, bisnis di bidang jasa dinilai memerlukan biaya yang lebih rendah dibanding usaha lainnya. Namun, yang paling penting adalah menjadi realistis tentang kondisi keuangan Anda, dan yakin bahwa membangun bisnis yang sukses tak hanya didasarkan pada modal besar. (*/Kompas.com)

Sumber:
http://ciputraentrepreneurship.com/tips-bisnis/47-memulai-bisnis/16881-inilah-mitos-memulai-bisnis.html

Tuesday, April 17, 2012

Inilah Mitos Investasi yang Menyesatkan


Views :339 Times PDF Cetak E-mail
Selasa, 17 April 2012 13:37
invest0112Sangat penting untuk mengevaluasi kebijaksanaan konvensional dalam mengelola keuangan pribadi. Pastikan berlaku adil dalam menginvestasikan aset-aset Anda. Selain itu perhatikan mitos berikut ini yang bisa mengganggu siklus investasi Anda:

1. Semua akuntan pandai berinvestasi

Akuntan pintar dan sangat terlatih tidak secara otomatis mampu menerjemahkan pemahaman tentang keuangan. Sebenarnya kebijaksanaan konvensional berinvestasi berasal dari teman dan keluarga yang berpengalaman.

2. Media adalah sumber baik untuk penelitian keuangan

Wartawan tidak dilatih atau dibayar untuk memberikan nasihat investasi sehat. Media hanya menjual publikasi dan terkadang melakukan penggambaran keuangan secara sensasional sehingga dapat membangkitkan reaksi emosional cepat dari investor.

3. Pendapatan menjadi pendorong penting dari kekayaan

Akuntan dengan pendapatan moderat dan rencana penghematan ketat akan jauh lebih kaya dari waktu ke waktu dari mitranya yang mengabaikan untuk menyimpan investasi. Jangan fokus pada apa yang Anda buat, fokus pada apa yang Anda simpan.

4. Bertujuan untuk tidak membayar pajak

Akuntan sering berusaha meminimalkan pajak. Akuntan profesional pun sering terlibat hilangnya uang pajak. Jika ingin meminimalkan pajak kemudian merugi keuntungan investasi pun mengecil.

5. Perlu bantuan profesional

Sementara yang lain menyewa profesional keuangan, sebaiknya kelola keuangan sendiri dengan pengetahuan dan keahlian yang tepat. (*/mediaindonesia.com)

Sumber:
http://ciputraentrepreneurship.com/tips-bisnis/182-investasi/16137-inilah-mitos-investasi-yang-menyesatkan.html

Friday, January 27, 2012

10 mitos entrepreneurship yang harus Anda dobrak!

10 Mitos Entrepreneurship yang Harus Anda Dobrak Views :699 Times PDF Cetak E-mail
Jumat, 27 Januari 2012 10:34

ciputra_30thSelama bertahun-tahun saya mencoba merenung tentang semua pengalaman saya dalam dunia entrepreneurship, saya pun menemukan  beberapa mitos yang berkembang. Salah satu yang paling banyak saya temui ialah bahwa masih banyak orang Indonesia yang menganggap entrepreneurship merupakan sebuah bakat genetis, bukan sebuah bidang ilmu pengetahuan yang ilmiah dan bisa dipelajari. Berkali-kali saya serukan bahwa itu kurang benar. Semua orang, tanpa memandang suku, agama, ras, status sosial, bisa mempelajari entrepreneurship. Tinggal tekad, kemauan dan kerja kerasnya tinggi atau tidak.

Itu hanya satu mitos saja. Tetapi saat saya membaca paparan Donald F. Kuratko mengenai mitos-mitos entrepreneurship, saya menyadari bahwa mitos lain juga banyak berkembang. Tak hanya di negara kita saja, tetapi mitos-mitos ini juga bisa dijumpai di banyak negara.

Mitos 1: Entrepreneur bertumpu pada tindakan bukan pikiran
Entrepreneur memang menekankan eksekusi, pelaksanaan, tindakan nyata. Akan tetapi saya juga sadari bahwa diperlukan sebuah pemikiran mendalam sebelum seorang entrepreneur bertindak.  Entrepreneur idealnya mampu menyeimbangkan antara dua aspek ini: tindakan dan pikiran.

Mitos 2: Entrepreneurship ialah bakat yang tak bisa dipelajari
Seperti yang pernah diungkapkan Peter F. Drucker, saya juga yakin bahwa entrepreneurship merupakan disiplin ilmu yang bisa dipelajari dan diterapkan semua orang di muka bumi. Memang ada sifat-sifat tertentu yang bisa ditemukan dalam kepribadian para entrepreneur sukses, namun entrepreneurship juga memiliki model, proses, dan studi kasus yang semuanya bisa ditelaah secara ilmiah dan dipelajari.

Mitos 3: Entrepreneur juga penemu
Tidak selalu benar. Entrepreneur tak selalu harus menemukan atau merancang produk baru. Meskipun banyak penemu juga seorang entrepreneur, tapi pada kenyataannya banyak entrepreneur memiliki banyak bidang yang mereka geluti.Yang paling penting ialah bahwa entrepreneurship mesti dipahami sebagai sebuah pemahaman menyeluruh mengenai perilaku inovatif dalam segala bentuk dan macamnya.

Mitos 4: Entrepreneur adalah mereka yang terasing dalam masyarakat dan sekolah

Asumsi bahwa entrepreneur ialah mereka yang tidak sesuai dengan lingkungan sosial dan akademis dilatarbelakangi oleh banyak ditemuinya pemilik bisnis yang melejit setelah ia tinggalkan bangku pendidikan atau dianggap eksentrik oleh orang-orang di sekitarnya. Ini tidak sepenuhnya benar karena ini bisa terjadi karena iklim dan spirit sekolah-sekolah kita masih belum siap mengenali bakat-bakat entrepreneurship dalam diri anak-anak didiknya. Entrepreneur juga masih perlu pendidikan, baik formal dan informal, karena tantangan dalam bisnis terus berkembang. Pendidikan sepanjang hayat bagi entrepreneur adalah kewajiban jika tak ingin tergulung persaingan.

Mitos 5: Entrepreneur harus sesuai persyaratan
Mungkin Anda sudah banyak temukan banyak bacaan yang memuat karakteristik entrepreneur sukses. Saat Anda ingin menjadi entrepreneur sukses, Anda pun menjadikan daftar ini sebagai acuan ,dan saat Anda merasa tidak memenuhi sebagian syarat-syarat itu, Anda merasa gentar dan mengurungkan niat terjun berbisnis. Saya himbau jangan jadikan itu semacam patokan wajib, anggap saja sebuah panduan yang fleksibel. Bagaimanapun juga tak satu pihak pun bisa menentukan apakah seseorang akan menjadi entrepreneur sukses atau tidak di masa depan. Anda sendiri yang bisa menjawabnya. Jika memang Anda lemah dalam beberapa aspek, jalinlah kerjasam dengan mereka yang memiliki kelebihan dalam aspek yang menjadi kelemahan Anda. Tak perlu menunggu menjadi sempurna untuk bisa merintis usaha.

Mitos 6: Uang mutlak diperlukan dalam membangun bisnis
Benar bahwa setiap bisnis perlu uang untuk berjalan. Tetapi saat Anda menganggap ada tidaknya uang sebagai satu-satunya faktor penentu kesuksesan, maka Anda harus mengubah pola pikir itu. Kita memang banyak temui perusahaan bangkrut secara finansial karena tak ada dana tetapi kita lupa bahwa sesungguhnya masalah keuangan yang muncul itu hanya indikator paling mudah dilrasakan dari memburuknya aspek-aspek lain dalam bisnis yang kita miliki. Perencanaan yang buruk, kemampuan manajemen yang acak-acakan, komunikasi yang kurang, bisa jadi adalah akar masalah sebenarnya. Maka dari itu, jadikan kekayaan yang kita miliki sebagai sebuah alat bukan tujuan akhir.

Mitos 7: Entrepreneur mutlak perlu keberuntungan
Menemukan peluang yang tepat di saat yang tepat menjadi idaman bagi banyak entrepreneur. Sayangnya, banyak entrepreneur menganggap keberuntungan hanya sebuah kebetulan, minus kerja keras. Kenyataannya, keberuntungan juga merupakan sesuatu yang harus dibangun. Ia tak datang begitu saja menghampiri orang. Keberuntungan perlu dibangun dengan cara membangun kesiapan diri sebelum peluang emas mendatangi Anda.

Mitos 8: Entrepreneurship tak memiliki tatanan
Saya menemui banyak entrepreneur muda yang terlihat memiliki kepribadian periang dan penuh passion dalam menjalankan usaha mereka. Sekilas tak nampak kemampuan untuk mengatur. Padahal sebenarnya mereka memiliki sistemnya sendiri, dan sistem ini sering tidak bisa dipahami orang lain. Entrepreneur bukan sosok penuh kecerobohan yang asal menggarap peluang bisnis tertentu, mereka memiliki sistem berpikir yang unik, dan tak banyak dipahami orang kebanyakan.

Mitos 9: Mayoritas usaha baru pasti gagal
Banyak entrepreneur terjungkal sebelum mengecap keberhasilan. Kegagalan ini memang lazim dialami tetapi bukan itu yang paling penting. Hal terpenting dari kegagalan ialah bagaimana kita bisa mengambil pelajaran di baliknya. Saat entrepreneur mampu mempelajari dan menerapkan pelajaran itu dalam langkahnya yang berikut, maka ia pun makin dekat dengan keberhasilan. Anggap saja sebagai proses yang harus dilalui dan dinikmati agar diri kita menjadi sosok pribadi yang pantas untuk menikmati sukses.

Mitos 10: Entrepreneur ambil risiko baru berpikir
Konsep risiko harus dipahami sebagai risiko yang sudah diukur sebelumnya. Diperlukan pengamatan, kalkulasi dan penelitian untuk mengukur risiko yang akan diambil. Inilah yang kurang dipahami banyak orang.

Sumber:
http://www.ciputraentrepreneurship.com/ciputra-notes-inspirasi/14663-10-mitos-entrepreneurship-yang-harus-anda-dobrak.html