Showing posts with label komitmen. Show all posts
Showing posts with label komitmen. Show all posts

Friday, July 20, 2012

7 Tanda Anda Entrepreneur yang Berkomitmen Tinggi


Hits : 1829 PDF Cetak E-mail
Kamis, 19 Juli 2012 08:35
Aral dalam perjalanan seorang entrepreneurship menuju puncak sukses tak terhitung banyaknya. Bila Anda mengaku sebagai seorang entrepreneur tetapi memperlakukannya hanya sebagai pengisi waktu luang, bisa jadi Anda kurang memiliki komitmen yang  tinggi. Ukurlah kadar komitmen Anda pada bisnis dengan mengecek kembali  sejumlah indikator penting berikut ini dalam diri Anda:
  1. Anda secara aktif mencari kepemimpinan dan tanggung jawab. Banyak orang membutuhkan kenyamanan menjadi pengikut, daripada menjadi pemimpin di depan. Saat muncul masalah, akan lebih mudah bagi Anda untuk menyalahkan orang lain. Sebagai entrepreneur, janji yang dibuat oleh orang lain atas nama Anda adalah juga beban Anda. Anda harus siap menerima
  2. Anda menunjukkan ambisi yang tak kenal lelah. Entrepreneur sukses umumnya memiliki ambisi yang tinggi dan kepercayaan diri yang melimpah terhadap kemampuan diri mereka. Mereka memiliki banyak ide, sebagian di antaranya mampu diwujudkan menjadi bisnis yang nyata. Kegagalan dianggap sebagai pelaung belajar, sehingga tidak ada penghakiman jika ide pertama tak berhasil seperti yang direncanakan.
  3. Anda terbuka menerima masukan demi kemajuan bisnis.Sebagaimana banyak dialami oleh entrepreneur sukses, Anda memerlukan bantuan orang lain. Jika jiwa Anda hanya membutuhkan masukan positif dan pemasukan yang stabil dari waktu ke waktu, mungkin Anda kurang sesuai untuk menjadi entrepreneur. Entrepreneur perlu memiliki ketangguhan mental dalam menghadapi kritikan sepedas apapun dan mereka bermental anti kemapanan.
  4. Kehidupan sosial Anda bukan prioritas utama. Jika Anda merasa tak mampu menjernihkan pikiran dari bebank pekerjaan di malam hari, itulah komitmen seorang entrepreneur. Hubungan sosial penting dan Anda memang perlu meninggalkan pikiran tentang pekerjaan sesekali. Namun prioritas sosial sebaiknya tak menduduki peringkat pertama jika Anda memang memiliiki komitmen tinggi terhadap pekerjaan Anda.
  5. Anda merasa nyaman dengan jam kerja yang tak teratur. Sebagian orang membutuhkan jadwal kerja yang teratur, karena menginginkan adanya waktu untuk keluarga atau demi ketenangan pikiran. Entrepreneur perlu memahami pentingnya fleksibilitas jam kerja dan berpikir bahwa ia tak akan bisa bekerja dari jam 9 hingga 5 sore layaknya karyawan. Jika Anda merasa jengkel dengan jadwal kerja yang tak bisa diduga, komitmen Anda patut dipertanyakan.
  6. Liburan hanyalah sebuah jeda. Sebagian besar entrepreneur sukses mungkin lupa kapan terakhir kali mereka berlibur dalam arti yang sebenarnya. Karena bahkan saat berlibur pun, ada kemungkinan mereka harus membawa pekerjaan. Mungkin ini kurang sehat bagi banyak orang, tetapi hal itu menunjukkan tingginya komitmen Anda pada pekerjaan. Jika Anda ingin benar-benar berlibur tanpa sekalipun bisa dihubungi jika terjadi kepentingan bisnis yang mendesak, mungkin Anda lebih tepat menjadi seorang pegawai yang berlibur dengan uang saku.
  7. Anda belum pernah berpikir untuk pensiun dini. Banyak orang terjun dalam dunia wirausaha dengan tujuan dapat pensiun dini karena kaya raya dengan lebih cepat. Entrepreneur yang berkomitmen lebih tinggi lebih sedikit yang berpikir ingin pensiun dini dan bahkan mereka terus terpacu untuk bekerja di masa senja. Mereka menikmati pekerjaan, bukan menganggapnya sebagai beban.
Berkomitmen ialah isu yang serius bahkan sebelum Anda memulai terjun berbisnis. Dan Anda jangan sampai meremehkan karena inilah pondasi tak kasat mata yang melandasi kegiatan bisnis Anda seterusnya. (*AP)

Sumber gambar: Betterbusinessgrowthfaster.com

http://www.ciputraentrepreneurship.com/tips-bisnis/47-memulai-bisnis/18711-7-tanda-anda-entrepreneur-yang-berkomitmen-tinggi.html

Sunday, April 8, 2012

Jadi Entrepreneur Perlu Komitmen Total


Views :865 Times PDF Cetak E-mail
Minggu, 08 April 2012 08:29
entrepreneur0412Seorang karyawan yang sudah mapan bekerja, sering kali terganggu dengan pikiran untuk membuka usaha sendiri. Namun, sering kali pula mereka tidak yakin dengan waktu, kapan saat yang tepat memulai bisnis?

Jawaban atas pertanyaan tersebut sangat bergantung pada situasi si karyawan dan jenis bisnis yang akan dijalankan. Namun, sebagian orang akhirnya mengambil keputusan untuk memulai bisnis sebagai pekerjaan sambilan. Mereka lakukan di sela-sela waktu rutin bekerja atau akhir pekan. Sebagian lagi justru memilih berhenti dari pekerjaan dan mulai berbisnis secara penuh. Alasannya, mereka tidak ingin dikacaukan dengan pekerjaan.

Di samping itu, mereka perlu menunjukkan komitmen terhadap konsep bisnis yang ingin mereka bangun. Pandangan-pandangan tersebut pun diakui sejumlah pakar bisnis. Sebagian pakar menilai seorang karyawan bisa berwirausaha secara paruh waktu untuk awalnya. Kemudian secara perlahan, mereka menetapkan komitmen untuk menjalankannya secara penuh. Namun, sebagian pakar lainnya justru menekankan agar karyawan yang ingin berwirausaha harus menunjukkan komitmen yang kuat sejak awal.

Kendati begitu, Therese Prentice, seorang konsultan bisnis asal New York, mencoba jalan tengah terhadap dua pandangan tersebut. Menurut dia, calon pengusaha tidak harus meninggalkan pekerjaan sampai mereka membuktikan ide-ide bisnis berjalan dengan baik. Prentice menyarankan seorang karyawan jangan meninggalkan pekerjaannya meski berniat mendirikan usaha, walaupun si karyawan memiliki cukup modal. “Anda harus menguji segala sesuatunya. Anda bisa punya ruang untuk merencanakan, melakukan, dan mengkaji bisnis meski masih menjadi karyawan sebuah perusahaan,” ujarnya seperti dilansir The Saturday Post.

Seorang calon pengusaha harus menunggu sampai usaha barunya meraih pendapatan sekitar dua pertiga dari pendapatan mereka menjadi karyawan. Setelah itu, mereka bisa mengambil keputusan untuk berhenti bekerja. Sebaliknya, Patrick K FitzGerald, seorang pengajar entrepreneur di Universitas Pennsylvania, tidak setuju dengan pendapat Prentice. Menurut dia, seorang calon pengusaha jangan bermain di dua kaki. Satu di perusahaan tempat dia bekerja, sementara kaki yang lain di dunia usaha yang dia jalankan.

“Orang akan menilai konsep bisnis semacam itu setengah matang. FitzGerald, yang juga salah satu pendiri Recyclebank di Philadelphia, meyakini entrepreneurship adalah sebuah pilihan yang berkaitan dengan konsumen dan itu sangat tidak mungkin dilakukan setengah hati dalam paruh waktu. “Tidak ada istilah bertaruh dalam menjalankan wirausaha. Semua harus dijalankan secara total,” tegas Fitz Gerald.

Hal senada disampaikan Phillip Moorcroft, seorang konsultan bisnis di Moorcroft Group Professional Services (MGPS) di Toronto, Kanada. Menurut dia, berniat menjadi wirausaha secara paruh waktu sangat krusial bisa mengurangi psikologis binis dan keuangan.

Hal ini akan menjadi satu kendala untuk berhasil. “Ada orang yang berniat wirausaha, tetapi memiliki rencana lain. Misalnya dia mencoba selama enam bulan, kalau gagal dia akan bekerja pada orang lain. Cara itu tidak bisa diterapkan,” ujarnya.

Beberapa contoh kasus pengusaha sukses karena berkomitmen secara total dilakoni dua saudara, Shep dan Ian Murray. Dua bersaudara ini awalnya hanya karyawan biasa di Manhattan. Keduanya merasa “frustrasi” dengan pekerjaan yang hanya berkutat di belakang meja.

Shep sebelumnya bekerja sebagai account executive di sebuah perusahaan periklanan, sementara Ian bekerja di sebuah perusahaan kecil yang bergerak di bidang hubungan masyarakat. Pada 1998, keduanya memutuskan untuk keluar kerja,hanya berselang 10 menit setelah salah satunya mengajukan pengunduran diri. Mereka selanjutnya mengambil uang tunai dari kartu kredit untuk mulai mendirikan Vineyard Vines, sebuah industri dasi rumahan. Ide mereka mengambil uang tunai dari kartu kredit sempat dicemooh dan dinilai bodoh.

Pada awalnya, mereka menjual dasi-dasi itu di tas ransel, di pantai, di kapal, dan di bar. Mereka menjual habis 800 dasi dalam pekan pertama. Karena keduanya berkomitmen secara total, akhirnya bisa sukses dan memiliki kantor sendiri. Saat ini ada 18 toko ritel Vineyard Vines di seluruh Amerika, dan jaringannya dapat ditemukan di hampir 500 toko. Vineyard Vines mampu mencetak penjualan hingga USD100 juta pada 2011.

Berbagai kisah sukses itu membuktikan bahwa untuk mengambil keputusan berhenti dari pekerjaan tidak ada kata lain selain berkomitmen total. Pasalnya, wirausaha adalah terkait keputusan melakukan atau bangkrut. (*/Harian Seputar Indonesia)

Sumber:
http://ciputraentrepreneurship.com/tips-bisnis/47-memulai-bisnis/15878-jadi-entrepreneur-perlu-komitmen-total.html