Showing posts with label kebaya. Show all posts
Showing posts with label kebaya. Show all posts

Tuesday, September 11, 2012

SENTRA PEMBUATAN KEBAYA KRAMAT JATI

SENTRA PEMBUATAN KEBAYA KRAMAT JATI, JAKARTA TIMUR

Sentra Kebaya Kramatjati: Hanya terima jahit (1)

Sentra Kebaya Kramatjati: Hanya terima jahit (1)

Kebaya merupakan salah satu pakaian tradisional yang paling populer di Indonesia. Banyak wanita Indonesia menggunakan pakaian tradisional ini untuk menghadari berbagai acara, termasuk acara-acara resmi.
Selain ibu-ibu, banyak juga kalangan remaja gemar menggunakan kebaya. Di Jakarta, sentra penjahit kebaya bisa ditemukan di Pasar Kramatjati, Jakarta Timur.
Di lantai dua pasar ini terdapat sekitar 20 kios yang khusus menawarkan jasa penjahitan kebaya. Setiap gerai memiliki dua sampai lima orang penjahit.
Saat KONTAN menyambangi sentra ini pada Agustus lalu, nampak kesibukan para penjahit yang tengah memenuhi pesanan pelanggan.Tangan-tangan terampil mereka dengan cekatan memadukan potongan-potongan kain menjadi satu kesatuan pakaian yang utuh dan indah.
Diana Sinaga, salah seorang pemilik kios mengaku, sudah bergabung di sentra ini sejak tiga tahun terakhir. Sementara sentranya sendiri sudah ada sejak 15 tahun lalu.
Menurutnya, sentra ini terus bertahan karena memang peminat kebaya terus meningkat dari tahun ke tahun. Diana sendiri hanya menerima jasa pembuatan kebaya saja. "Saya tidak menyediakan bahan untuk pembuatan kebaya," ujarnya.
Selama ini, para pelanggan memang membawa sendiri bahan kain untuk dibuatkan menjadi kebaya. Setelah diukur sesuai postur tubuh konsumen, Diana langsung menjahitnya.
Bila tidak sempat datang langsung, konsumen bisa mengirim bahan lengkap dengan ukurannya. Jadi, Diana tinggal menjahitnya saja dan memberikan tambahan aksesoris, seperti kancing, payet, dan renda pada kebaya tersebut.
Rata-rata dalam sehari, Diana bisa menjahit sebanyak empat sampai enam kebaya. Biaya jahit ini dibanderol Rp 400.000 per kebaya. Namun, bila yang dijahit hanya baju atasan kebaya saja, biaya jahitnya mulai Rp 80.000.
Khusus untuk kebaya pesta atau gaun pengantin, ongkos jahitnya jauh lebih mahal, bisa mencapai Rp 3 juta per pasang. Dari jasa menjahit kebaya ini, Diana bisa meraup omzet rata-rata Rp 50 juta hingga Rp 70 juta per bulan. Omzet sebesar itu didapat dengan dibantu tiga penjahit. Laba usaha ini cukup besar, sekitar 45% dari omzet.
Pemain lainnya, Jalirom Jali mengaku sudah bergabuing dengan sentra penjahit kebaya ini sejak enam tahun silam. Selain jasa menjahit kebaya, ia juga menawarkan jasa bordir pakaian-pakain wanita.
Jali mematok biaya pembuatan kebaya mulai Rp 150.000 sampai Rp 500.000 per pasang.Namun, kebanyakan konsumen memilih meminta dibuatkan kebaya dengan tarif sebesar Rp 300.000 per pasang.
Biaya pembuatan kebaya bisa lebih mahal lagi bila pelanggan meminta diberikan aksesoris dan segala perlengkapannya. biayanya bisa membengkak menjadi Rp 1,5 juta per pasang. "Harga pembuatan selendang saja bisa mencapai Rp 1,5 juta kalau harus disertai aksesori plus bordir dan jahit," jelasnya.
Dalam sehari, Jali rata-rata bisa membuat dua pasang kebaya dengan omzet sekitar Rp 20 juta per bulan. 

Sentra Kebaya Kramatjati: Harus bisa desain (2)

Sentra Kebaya Kramatjati: Harus bisa desain (2)

Sentra penjhait kebaya di Pasar Kramatjati, Jakarta Timur telah hadir sejak 15 tahun silam. Di sentra ini terdapat sekitar 20 kios penjahit kebaya. Masing-masing kios mempekerjakan lebih dari satu penjahit.
Bahkan, untuk kios lumayan besar bisa memiliki tiga sampai lima penjahit. Agar bisa bersaing, setiap kios saling berlomba menawarkan desain yang menjadi ciri khas dalam menjahit kebaya.
Diana Sinaga, salah seorang pemilik kios penjahit kebaya mengatakan, tidak mudah menjajakan jasa menjahit kebaya di sentra ini tanpa keterampilan yang desain mumpuni.
Pasalnya, persaingan di sentra ini sudah lumayan ketat. Setiap konsumen memiliki banyak pilihan penjahit. "Makanya Agar bisa menarik perhatian pelanggan, setiap penjahit harus memiliki keunikan dan ciri khas masing-masing," ujar Diana.
Diana bilang, setiap kios memiliki ciri khas desain yang berbeda-beda. Selain desain ciptaan sendiri, setiap kios juga dituntut untuk bisa memenuhi desain sesuai keinginan pelanggan.
Apalagi, kebanyakan pelanggan menginginkan kebaya yang mengandung nilai artistik tertentu. Dan, itu hanya bisa dipenuhi jika penjahit memiliki keterampilan mendesain kebaya.
Untuk membuat desain yang menarik tidak cukup hanya dari segi model pakaiannya. Tapi juga harus bisa dipadupadankan dengan berbagai hiasan dan ornamen yang menarik. "Mendesain bahan pakaian kebaya secara lebih baik seperti memberikan hiasan yang unik dan anggun bisa menarik konsumen,"ujarnya.
Jika konsumen merasa puas dengan desain kebaya yang dibuatkan, mereka akan merekomendasikannya kepada para kerabat dan kenalannya.
Konsume itu juga tidak bakal lari lagi ke pemain lainnya. "Yang penting jangan sampai pelanggan kecewa dengan model desain kita," papar Diana.
Pemain lain, Jalirom Jali mengatakan, menjahit kebaya memerlukan keterampilan tambahan. Pasalnya, penjahit kebaya berbeda dengan penjahit konveksi. Menjahit kebaya tidak hanya membutuhkan keterampilan dalam hal menjahit, tapi juga membutuhkan keterampilan dalam mendesain pakaian yang dijahit.
Selain itu, dibutuhkan pengetahuan seputar bordir dan kreativitas dalam memilih dan memasang aksesoris yang tepat. Jali bilang, hampir setiap kios di sentra ini mempekerjakan satu orang yang khusus menguasai seputar desain kebaya.
Bahkan, ada pemilik kios yang merangkap sebagai desainer. Kalau memiliki desain yang bagus dan sesuai selera konsumen, maka usaha bisa maju dan banyak pelanggannya. "Tentu setiap karya desain perlu di pasarkan juga," ujarnya.
Jali sendiri termasuk rajin mempromosikan desain kebayanya lewat kenalan, pelanggan, dan kerabatnya. Lativa, pemain lainnya menambahkan, keterampialn mendesain pakaian memang menentukan kelancaran usaha ini. Ia sendiri gencar mempromosikan karya desain lewat pameran-pameran kebaya.
Melalui pameran itu, ia banyak mendapat pesanan dari para pelanggan yang minta dibuatkan kebaya. 

Sentra kebaya Kramat Jati: Bisa lewat telepon (3)

Sentra kebaya Kramat Jati: Bisa lewat telepon (3)


Sentra penjahit kebaya di Pasar Kramat Jati, Jakarta Timur sudah berdiri sejak 1990-an. Sentra kebaya ini sudah dikenal luas di kalangan masyarakat Jakarta. Selain Jakarta, banyak juga pelanggan dari daerah yang minta dijahitkan kebaya di tempat ini.

Sentra penjahit kebaya di Pasar Kramat Jati, Jakarta Timur sudah lumayan kesohor. Sebagian besar pelanggan di sentra ini berasal dari wilayah Jakarta dan sekitarnya.

Namun, ada juga pelanggan dari luar kota bahkan hingga luar Jawa. Pelanggan dari luar kota biasanya sudah lama memiliki hubungan dengan para penjahit.

Hubungan baik itu tetap terjalin karena mereka merasa cocok dengan desain dan model kebaya yang dibuat para penjahit di sentra ini. Diana Sinaga, salah seorang pemilik kios penjahit di Kramat Jati bilang, pelanggannya sebagian besar berasal dari Jakarta.

Namun, ia juga memiliki pelanggan dari luar kota, seperti Bogor, Bandung, dan Palu, Sulawesi Tengah. Mereka umumnya meminta dijahitkan aneka bentuk kebaya.

Biasanya para pelanggan ini memesan kebaya untuk seragam wisuda, pengantin, atau untuk kepentingan pesta. "Sebagian besar pelanggan saya adalah orang Batak," jelas Diana.

Menurut Diana, pelanggan dari luar kota biasanya memesan lewat telepon. Kemudian mereka mengirimkan bahan kain dan ukuran yang dibutuhkan.

Karena sudah berlangganan lama, konsumen dari luar kota ini sudah percaya. Diana sendiri selalu berusaha mempertahankan kualitas jahitan dan desain kebaya yang dibuatnya. "Hal itu penting untuk menjaga kepercayaan konsumen," katanya.

Menurut Diana, bila kebaya yang mereka pesan tidak sesuai dengan permintaan, jangan harap mereka akan kembali melakukan pemesanan.

Selain menjaga kualitas kebaya, Diana juga konsisten menyelesaikan kebaya tepat waktu. Selama ini, ia selalu menyelesaikan penjahitan kebaya dalam waktu satu minggu sejak dipesan.

Kalaupun molor paling lambat dua minggu. Dan, itu pun harus diberitahu sebelumnya agar konsumen tidak protes. Tapi, khusus untuk pembuatan kebaya pengantin membutuhkan waktu lebih lama, sekitar dua minggu hingga satu bulan.

Pembuat kebaya lainnya, Jalirom Jali juga memiliki pelanggan terbanyak dari Jakarta. Namun ada juga dari luar kota, seperti Bandung, Cianjur, dan Ciamis. "Pelanggan saya juga banyak orang Batak," katanya.

Untuk menggaet pelanggan dari daerah, ia rajin mengikuti pameran desain pakaian kebaya di daerah-daerah. Jali mengaku, dengan ikut pameran kerap mendapatkan pelanggan baru.

Untuk memudahkan pelanggan, Jali juga menyediakan kain sebagai bahan kebaya. Namun, pelanggan harus membayar minimal 50% di awal. "Jadi harus pasti, supaya saya tidak rugi kalau dibatalkan," ujarnya.

Lativa, pembuat kebaya lain mengaku, sudah mengenal baik sebagian besar pelanggannya. Soalnya, mereka selama ini sudah sering memesan kebaya di tempatnya. "Karena sudah kenal banyak yang pesan lewat telepon," ujarnya.

Lativa bilang, pelangganya sebagian besar dari Jakarta. Dari luar Jakarta juga ada, tapi jarang. Ia mengaku senang membuka kios di Pasar Kramat Jati, karena banyak aksesori kebaya bisa didapatkan di pasar ini.

http://peluangusaha.kontan.co.id/news/sentra-kebaya-kramatjati-hanya-terima-jahit-1/2012/09/09
http://peluangusaha.kontan.co.id/news/sentra-kebaya-kramatjati-harus-bisa-desain-2/2012/09/10
http://peluangusaha.kontan.co.id/news/sentra-kebaya-kramat-jati-bisa-lewat-telepon-3

Monday, May 7, 2012

Menjahit laba dari pesanan kebaya

TAWARAN KEMITRAAN BUSANA: KEBAYA

Menjahit laba dari pesanan kebaya


Menjahit laba dari pesanan kebaya

Kebaya tetap diminati di kalangan perempuan Indonesia. Tak hanya ibu-ibu, kalangan remaja juga banyak mengenakan kebaya. Lantaran banyak diminati, Rumah Kebaya menawarkan kemitraan senilai Rp 80 juta. Omzet mitra diperkirakan Rp 50 juta-Rp 60 juta per bulan.

Sejak abad ke-15, kebaya sudah menjadi busana khas perempuan Indonesia, terutama perempuan Jawa. Busana ini terdiri atas baju atasan yang dipadu dengan kain. Hingga saat ini, kebaya tetap disukai para wanita. Ragam kebaya sekarang pun semakin modis dan trendi.

Berbeda jauh dengan desain kebaya sebelumnya, kebaya masa kini desainnya beragam, lebih modis dan modern, sehingga bisa dikenakan pada acara apa pun. Penggemarnya pun tak lagi hanya ibu-ibu, kalangan remaja juga menyukai pakaian kebaya.

Tren seperti itu tentu memicu permintaan kebaya. Peluang itu juga yang ditangkap oleh Robertus Nico, pemilik butik Rumah Kebaya di Sidorajo, Jawa Timur. Merintis usaha sejak tahun 2005, ia mulai menawarkan kemitraan di bulan Maret 2012 ini.

Ia mengaku membuka kemitraan karena banyak pelanggannya yang mencari cabang Rumah Kebaya di daerah mereka, seperti Semarang atau Jakarta. "Banyak pelanggan tanya kenapa belum ada butik Rumah Kebaya di daerahnya," ujar Nico.

Pelanggan Rumah Kebaya bukan hanya dari Surabaya atau Jawa Timur. Banyak juga dari daerah lain, seperti Semarang, Jakarta, Medan, dan Balikpapan. Pelanggannya juga lintas profesi, mulai dari artis lokal hingga pejabat di daerah dan pusat.

Ia mengklaim, kebayanya diminati karena mengedepankan konsep eksklusif. Selain menyediakan desain sendiri, pelanggan bisa ikut menentukan model kebaya yang diinginkan. "Bahkan, desain kebayanya boleh jadi hanya pelanggan itu yang memilikinya," ujar Nico.

Kebaya buatan Nico dibanderol mulai Rp 3,5 juta hingga Rp 8 juta ke atas. Nah, dalam kemitraan ini, Rumah Kebaya menawarkan paket investasi Rp 80 juta. Paket ini sudah termasuk biaya kemitraan Rp 35 juta, paket produk senilai Rp 30 juta, desain interior, training sumber daya manusia, serta kebutuhan promosi untuk pembukaan butik. Namun mitra perlu menyiapkan tempat usaha sendiri. “Ya minimal sewa di ruko-ruko itu ya,” tandasnya.

Dengan target penjualan 12 gaun kebaya per bulan, rata-rata omzet yang bisa diraup mitra berkisar Rp 50 juta-Rp 60 juta per bulan. Menurut Nico, mitra bisa mendapatkan laba bersih sekitar 15% dari omzet. Dengan laba bersih sebesar itu, mitra bisa balik modal di bulan ke delapan.

Amir Karamoy, Ketua Dewan Pengarah Perhimpunan Waralaba dan Lisensi Indonesia menilai, prospek kemitraan Rumah Kebaya cukup menjanjikan. Cuma, ia menyarankan agar Rumah Kebaya berani membuka cabang di Jakarta atau kota besar lainnya. Jika Rumah Kebaya berani membuka cabang di kota besar, niscaya mereka akan bisa meraup omzet lebih besar ketimbang di daerah. Soalnya, pasar di kota besar cukup menjanjikan untuk bisnis ini. “Harga kebaya itu Lebih cocok dengan kantong orang kota,” jelas Amir.

Bagi calon mitra, ia menyarankan untuk fokus mengikuti pelatihan dari kantor pusat, agar bisnisnya lancar.

Rumah Kebaya
Deltapuspa 122
Deltasari Baru - Waru, Sidoarjo, Jawa Timur
Telp: 031 8554216, HP: 0819 1324 0740

Sumber:
http://peluangusaha.kontan.co.id/news/menjahit-laba-dari-pesanan-kebaya

Monday, October 17, 2011

SENTRA PENJUALAN KEBAYA TANAH ABANG, JAKARTA


Peluang Usaha


Kamis, 13 Oktober 2011 | 14:00  oleh Dea Chadiza Syafina
SENTRA PENJUALAN KEBAYA TANAH ABANG, JAKARTA
Sentra kebaya Tanah Abang: Berbelanja Kebaya di Blok A dan F Tanah Abang (1)

Kalau ingin membeli kebaya jadi, datang saja ke Pasar Tanah Abang, terutama di Blok A dan Blok F. Harga kebaya di Blok F relatif lebih terjangkau dibanding dengan di Blok A. Maklum, selisih harga itu bisa jadi lantaran suasana di Blok A lebih nyaman dan lebih adem.

Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat, sudah lama tenar sebagai sentra penjualan kain dan pakaian. Tidak hanya menjadi rujukan bagi konsumen yang ingin membeli produk fashion berkualitas dan murah, Pasar Tanah Abang juga menjadi rujukan bagi pedagang fashion yang ingin menjual kembali ke daerah asalnya.

Salah satu area yang menarik untuk dikunjungi di Pasar Tanah Abang adalah tempat penjualan baju kebaya siap pakai. Tersebar di beberapa lokasi seperti Blok F dan Blok A, ada sekitar 25 pedagang di Blok F. Sedangkan di Blok A ada sekitar 30 pedagang.

Di Blok F, area kebaya berada di lantai 1; di Blok A area kebaya berada di lantai dasar (SLG). Walaupun sama-sama menjual kebaya, harga yang ditawarkan di Blok F relatif lebih murah. Contohnya, untuk kebaya berbahan dasar tile, di Blok A ditawarkan dengan harga mulai dari Rp 70.000 per potong. Sedangkan di Blok F, untuk bahan yang sama ditawarkan dengan harga Rp 50.000 per potong.

Penawaran harga yang lebih murah, mungkin disebabkan fasilitas bangunan di blok F tidak sebaik Blok A. Selain tidak berpendingin ruangan (AC), untuk menuju area kebaya Blok A harus menggunakan tangga manual bukan tangga berjalan. Sedangkan di Blok A suasana lebih mirip mal. Di blok ini pengunjung bisa merasakan dinginnya AC dan ber-eskalator.

Namun, meski ada selisih harga, dagangan kebaya itu sama larisnya. "Kebaya sekarang lagi digandrungi jadi penjualan lumayan," kata Sylvia, pemilik Toko Fedora di Blok A. Ia menambahkan, kebaya sudah menjadi pakaian yang tak hanya bisa dipakai untuk acara formal namun non formal.

Berbagai bentuk, warna, dan bahan kebaya dijual di Blok A maupun Blok F, Tanah Abang. Kebaya polos, kebaya bordir, kebaya dengan hiasan sulam pita, kebaya payet, kebaya dengan hiasan manik batu-batuan juga tersedia di sini.

Walau lebih banyak menjual bentuk jadi, namun pembeli tak perlu khawatir kebayanya kedodoran. Sebab, kalau ukurannya tidak ada, pembeli bisa meminta untuk dijahitkan sesuai dengan ukuran tubuh. Sebab sebagian dari toko-toko kebaya di Tanah Abang juga menjual bahan kain kebaya dan bawahan. "Bisa juga ditambah hiasan bordir dan payet," kata Susiana, pemilik toko Natasha Collection di Blok F.

Susiana mengaku, punya banyak pelanggan tetap yakni para pedagang kebaya eceran di luar Jawa. Pedagang-pedagang tersebut rata-rata membeli grosiran untuk dijual kembali. Selain pedagang, tentu masyarakat lain yang butuh kebaya juga datang ke sini.

Erik Budiyanto, pemilik Toko Mitra Niaga di Blok F juga menjual kebaya jadi dan bahan kebaya. Menurut Erik, lonjakan penjualan terjadi selama empat bulan setelah Hari Raya Idul Fitri. "Bulan-bulan itu merupakan musim kawin," katanya. Selain itu, pembelian kebaya juga ramai setiap kali musim wisuda, terutama di awal dan akhir tahun. Selama empat bulan musim kawin, Erik mengaku bisa menjual hingga 20 kodi atau 400 potong kebaya siap pakai.

Tak hanya Erik yang merasakan keuntungan dari penjualan kebaya di Tanah Abang. Sylvia juga mampu menjual sekitar 1.000 potong kebaya siap pakai per bulan. Dari hasil penjualan itu dia mampu memperoleh omzet hingga Rp 100 juta per bulan. "Banyak yang membeli kodian, sehingga lebih murah," kata Sylvia.

Untuk mendapat harga lebih murah, pembeli Blok A dan Blok F di Tanah Abang selain harus pandai menawar harga, juga disarankan membeli secara partai besar. Untuk jenis kebaya berbahan dasar silk yang dibanderol Rp 110.000 untuk satuan, bisa didapatkan dengan harga Rp 85.000 jika membeli minimal setengah lusin atau enam potong.


Peluang Usaha

 
Jumat, 14 Oktober 2011 | 15:02  oleh Dea Chadiza Syafina
SENTRA PENJUALAN KEBAYA TANAH ABANG, JAKARTA
Sentra kebaya Tanah Abang: Pembeli kian sesak, omzet malah turun (2)
dibaca sebanyak 229 kali
0 Komentar
Walau masih ramai pembeli, namun beberapa pedagang kebaya di Tanah Abang mengaku mengalami penurunan omzet. Selain bahan baku yang kian mahal, beberapa bahan aksesori kebaya dan ongkos produksi juga terus naik. Inilah yang membuat harga konsumen naik.

Meski nama tenar Pasar Tanah Abang tak lekang oleh waktu, beberapa pedagang kebaya di Blok A dan F mengaku terus mengalami penurunan omzet. "Mulai agak turun setelah 2009," kata Susiana, pemilik Toko Natasha Collection di Blok F Tanah Abang.

Mengaku mulai membuka toko pada 2004, Susiana saat ini hanya mampu memperoleh omzet antara Rp 25 juta hingga 50 juta per bulan. Angka itu lebih rendah dibanding sebelum 2009 yang bisa mencapai lebih dari Rp 65 juta per bulan. Bahkan selama dua tahun terakhir ini, dia mengaku mengalami penurunan omzet sebesar 30%.

Menurutnya, harga bahan baku kebaya yang terus melonjak dari tahun ke tahun menjadi penyebab jumlah pembeli menurun. Apalagi bahan baku kebaya yang banyak didatangkan dari luar negeri harus dibeli dengan mata uang dolar Amerika, sehingga memberatkan pedagang.

Tak hanya bahan baku kain kebaya, harga beberapa bahan aksesori yang lain seperti payet dan manik-manik juga naik sebesar 10% dari tahun sebelumnya. Kenaikan ini, tentu saja mempengaruhi harga jual kebaya siap pakai.

Selain terbebani peningkatan bahan baku, kebaya-kebaya itu harus melewati beberapa proses produksi sebelum bisa menjadi produk siap pakai. Inilah yang membuat harga kebaya di tingkat konsumen menjadi jauh lebih mahal.

Pertama, bahan kain kebaya dibuat pola oleh para tukang jahit yang sebagian besar tinggal di Bandung. Selanjutnya, dibordir oleh perajin di Tasikmalaya agar terlihat lebih mewah dan cantik.

Setelah itu, bahan tadi dijahit menjadi pakaian jadi oleh perajin konveksi yang juga banyak terdapat di Tasikmalaya, Jawa Barat. Sebelum dikirim ke Tanah Abang, kebaya tadi akan harus melalui tahapan akhir berupa penambahan hiasan manik-manik, payet maupun batu-batuan.

Menurut Susiana, tahapan produksi yang panjang akan menambah biaya yang harus ditanggung penjual. Ia mengatakan, ongkos jahit satu pakaian kebaya setidaknya membutuhkan dana Rp 30.000. "Itu pun harga untuk pelanggan tetap," katanya. Untuk mencari penjahit kebaya yang bagus menurutnya bukanlah hal yang mudah.

Selain kenaikan bahan baku dan ongkos produksi, faktor pengiriman barang juga dikeluhkan. Setelah melewati proses produksi di Bandung dan di Tasikmalaya, pemilik toko atau pedagang baru bisa menerima barang setelah satu atau dua minggu kemudian. Selain itu, ongkos kirim yang mahal, membuat pedagang harus berhemat dengan mengirimkan kebaya minimal 20 kodi atau 400 potong sekali kirim.

Berbagai kondisi inilah yang membuat harga jual kebaya juga meningkat. "Saya tidak mungkin jual eceran dengan harga di bawah Rp 100.000 per potong untuk kualitas premium. Karena memang ongkos produksi yang sudah mahal," keluh Sylvia, pemilik Toko Fedora di Blok A.

Namun begitu, ia mengaku, tak jarang pembeli yang masih menawar harga untuk mendapatkan harga kebaya yang lebih murah.

Peluang Usaha

 
Senin, 17 Oktober 2011 | 13:33  oleh Dea Chadiza Syafina
SENTRA PENJUALAN KEBAYA TANAH ABANG, JAKARTA
Sentra kebaya Tanah Abang: Jual kebaya ngetren sembari jadi desainer (3)
dibaca sebanyak 109 kali
0 Komentar
Pedagang kebaya di Pasar Tanah Abang melakukan beragam cara untuk menggaet pelanggan. Salah satunya dengan memberi servis terbaik bagi pelanggan. Selain melayani model kebaya sesuai dengan permintaan pelanggan, para pedagang juga selalu memperbarui model-model kebaya dengan tren terkini.

Meski menjadi pusat penjualan kebaya grosir dan eceran di Indonesia, bukan berarti pedagang kebaya di Pasar Blok A dan F Tanah Abang mudah membukukan omzet gede.

Jika tak pandai-pandai berdagang, bisa-bisa pembeli enggan untuk belanja. Kondisi itulah yang membuat pedagang mesti kreatif membuat kebaya yang akan dijual ke pelanggan.

Seperti yang dilakukan Erik Budianto, pedagang kebaya toko Mitra Niaga di pasar Blok F, Tanah Abang. Agar dapat pelanggan, Erik menjual kebaya berbahan tile dengan desain yang bisa dipesan pelanggan. "Jenis kebaya bahan tile digemari di daerah," terang Erik.

Agar pelanggannya suka, Erik memodifikasi kebaya itu agar terlihat mewah. Salah satunya dengan membubuhkan payet pada kebaya itu. "Saat ini, saya rutin mengirim kebaya tile ke Banjarmasin, Kupang, Surabaya dan Cirebon," jelas Erik.

Untuk setiap kebaya, Erik menjualnya mulai dari Rp 150.000 hingga ratusan ribu rupiah. Menurutnya, harga jual tergantung tawar menawar. Kalau beli dalam jumlah banyak, Erik tak sungkan menurunkan harga.

Susiana, pemilik toko Natasha Collection di pasar Blok F Tanah Abang yang menempuh cara berbeda untuk menggaet pelanggan. "Saya fokus menyediakan kebaya model terbaru," kata Susiana yang sudah membuka usaha sejak 2004 ini.

Susiana mengaku menjual kebaya populer di masyarakat. Belakangan jenis kebaya milik Susiana yang laris itu adalah kebaya bordir dengan bahan velvet dan katun yang mengilat.

Ia bilang, kebaya berbahan velvet dan katun merupakan pilihan kedua setelah kebaya sutra. Sebab dari sisi harga, kebaya velvet dan katun lebih murah ketimbang kebaya berbahan sutra.

Selain desain, Susiana juga memperhatikan warna kebaya populer. Ia memberi contoh, tahun ini, warna kebaya yang populer adalah warna ungu dan abu-abu. "Tren warna itu sudah sejak tahun 2010 lalu," kata Susiana yang melayani pelanggan dari Kalimantan, Sumatera dan Sulawesi itu.

Cara berbeda juga ditempuh oleh Sylvia, pemilik toko Fedora di Blok A Pasar Tanah Abang. Untuk menggaet pelanggan, Sylvia secara spesifik menyediakan kebaya model Betawi dengan desain sederhana.

Sylvia bilang, kebaya sederhana ala Betawi itu digemari anak muda karena bisa dikombinasikan dengan aksesori kalung dan ikat pinggang. "Kami harus ciptakan model kebaya sendiri, kalau tidak kami bisa kalah bersaing," jelas Sylvia.

Ia menambahkan, pedagang kebaya di Tanah Abang tidak hanya sekadar menjadi pedagang saja. Ia juga harus bisa menjadi seorang desainer. Makanya, para pedagang harus bisa membaca selera pasar. Majalah dan televisi menjadi rujukan mereka melihat tren.

Di tengah upaya inovasi, mereka mengaku harus berhadapan dengan kenaikan bahan baku kain kebaya dan sewa toko. "Ini dilema rutin kami hadapi tiap tahun," ungkap Susiana masygul.

Sumber:
http://peluangusaha.kontan.co.id/v2/read/peluangusaha/79908/Sentra-kebaya-Tanah-Abang-Berbelanja-Kebaya-di-Blok-A-dan-F-Tanah-Abang-1
http://peluangusaha.kontan.co.id/v2/read/1318579346/80037/Sentra-kebaya-Tanah-Abang-Pembeli-kian-sesak-omzet-malah-turun-2-
http://peluangusaha.kontan.co.id/v2/read/peluangusaha/80184/Sentra-kebaya-Tanah-Abang-Jual-kebaya-ngetren-sembari-jadi-desainer-3-