Showing posts with label budidaya. Show all posts
Showing posts with label budidaya. Show all posts

Thursday, August 2, 2012

Budidaya Lele Bisa Jadi Pilihan

Hits : 259 PDF Cetak E-mail
Kamis, 02 Agustus 2012 10:41
lele0812Budidaya sektor perikanan air tawar cukup menarik untuk dijadikan usaha sehingga bisa memberikan kontribusi bagi pendapatan Anda. Salah satu yang bisa dijadikan pilihan adalah lele. Ikan air tawar ini banyak diminati konsumen karena rasa dagingnya yang enak.

Mario, salah satu pengusaha Lele di Bogor menyatakan, ada sejumlah hal yang harus dipertimbangkan dalam membudidayakan lele. Langkah pertama yang harus diingat adalah persoalan pembenihan.

Mario mengungkapkan, sebelum memulai usaha ini pastikan benih yang diproduksi ada pembelinya. Selanjutnya, Anda harus mencari indukan lele dari jenis yang unggul baik dalam hal kualitas maupun kantitas. Langkah ini penting untuk memperoleh hasil yang maksimal.

"Indukan jantan harus lebih tua usianya minimal 1 minggu dari induk betina," tutur Mario.

Agar budidaya lele Anda berhasil, Mario mengungkapkan, diperlukan penguasaan tehnik pemijahan yang baik dan benar. "Kuasai tehnik perawatan indukan agar induk selalu siap memijah sesuai dengan kebiasaan di alamnya," kata dia.

Untuk benih, Mario menuturkan, Anda bisa memperoleh cacing sutera sebagai pakan awal benih. Apabila mengalami kesulitan memperoleh cacing sutera dapat disiasati dengan menggunakan Fengli-0- yg diseduh dengan air hangat kemudian dibentuk bulat-bulat sebesar kelereng.

Langkah berikutnya adalah pembesaran lele. Usaha pembesaran lele sebaiknya dimulai dari lele ukuran 9-12 centimeter (cm) karena akan lebih cepat dipanen.

Ciri-ciri lele ukuran 9-12 cm yang cepat besar memiliki kepala dan perut yang besar sehingga terlihat buntet. Sedangkan ciri-ciri lele yang lambat pertumbuhannya akan terlihat ramping.

Disarankan usaha pembesaran memiliki indukan sendiri minimal 1 set (8 jantan + 8 betina) agar dapat diketahui benih yg berkualitas. "Dengan kriteria ini kata Mario, lele dapat dipanen dalam waktu 100-120 hari," kata Mario.

Untuk benih, beri pakan yang harganya murah, namun baik kualitasnya. Pakan tambahan seperti tumbuhan Azolla sangat diperlukan karena dapat membantu pertumbuhan benih, mengurangi biaya pakan dan meningkatkan keuntungan. (Dim)

http://www.ciputraentrepreneurship.com/bisnis-mikro/19023-budidaya-lele-bisa-jadi-pilihan.html

Friday, June 22, 2012

BUDIDAYA JANGGELAN

Janggelan, daun cincau hitam yang kian populer (1)

Janggelan, daun cincau hitam yang kian populer (1)

Budidaya janggelan kian menjanjikan keuntungan. Permintaan tanaman ini terus meningkat di pasar. Selain menjadi bahan pokok untuk memproduksi cincau hitam, daun janggelan juga bisa dimanfaatkan sebagai tanaman obat. Omzet usaha ini bisa mencapai ratusan juta rupiah per bulan.

Tanaman janggelan mungkin masih asing di telinga masyarakat. Namun, jika menyebut nama cincau hitam, mungkin hampir semua kalangan mengenal makanan ini. Nah, asal tahu saja, daun janggelan merupakan bahan pokok yang digunakan untuk memproduksi cincau hitam.

Lantaran kaya akan serat, tanaman ini juga dipercaya bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit, seperti demam, sakit perut, diare, batuk, gangguan pencernaan, serta penyakit darah tinggi. Selain di Indonesia, khasiat daun ini juga sudah kesohor hingga ke Filipina, Taiwan, China, dan Korea.

Tak heran, daun janggelan juga banyak diekspor ke negara-negara tersebut. Itu juga yang membuat permintaan daun janggelan terus meningkat dari tahun ke tahun. Alhasil, budidaya tanaman ini kian menjanjikan keuntungan lumayan besar.

Salah satu pembudidaya janggelan adalah Dudi Iskandar, pemilik usaha Wira Abadi di Tangerang, Banten. Ia membudidayakan tanaman ini di daerah asalnya di Wonogiri, Jawa Tengah Selain budidaya, ia menjadi pedagang pengumpul (pengepul) daun janggelan, dengan menampung hasil panen petani di Karang Tengah, Wonogiri.

Kebetulan Wonogiri merupakan salah satu penghasil daun janggelan terbesar di Indonesia. Dalam sebulan, ia mampu menjual daun janggelan sebanyak 15 ton hingga 20 ton. Daun sebanyak itu dijual ke berbagai daerah di Indonesia.

Ada tiga jenis daun janggelan yang dia pasarkan. Daun kualitas super dengan harga Rp 15.000-Rp 16.000 per kilogram (kg), daun dengan batang utuh Rp 13.000-Rp 14.000 per kg, dan daun berbentuk cacahan dengan harga Rp 12.000 per kg. "Omzet saya bisa mencapai Rp 200 juta-Rp 300 juta per bulan," ujar Dudi. Laba bersih yang didapatnya sekitar 25% dari omzet.

Awalnya, Dudi hanya membantu mengelola kebun keluarga seluas 5.000 meter persegi yang ditanami janggelan. Sebelumnya, ia tak mengetahui tanaman ini dapat memberi untung besar. Kebetulan, sang adik menyaksikan sebuah acara yang menampilkan pengusaha janggelan. Ia pun menyadari janggelan bisa dijadikan usaha yang menjanjikan. Sejak itu, Dudi memasarkan hasil kebun keluarganya dan mulai menjadi pengepul bagi petani sekitar.

Pemain lain adalah Mansur, pemilik UD Arum Segar di Semarang, Jawa Tengah. Ia terjun ke bisnis ini sejak lima tahun lalu. Sama seperti Dudi, selain pembudidaya, ia juga menjadi pengepul daun janggelan. Kebanyakan petani yang menjadi mitranya berada di Malang, Jawa Timur. Selain di Jawa, ia juga memasarkan daun janggelan ke Sumatra.

Setiap bulan, ia menjual minimal 1 ton janggelan dengan omzet Rp 17 juta per bulan. "Yang kami jual dan budidayakan hanya janggelan yang kualitas super," imbuhnya. Daun janggelan kualitas super ini dihargai Rp 17.000 per kg.

Budidaya dan perawatannya murah (2)

Janggelan: Budidaya dan perawatannya murah (2)

Budidaya janggelan cukup mudah karena tak perlu sering dipupuk dan disiram. Tapi, saat budidaya sebaiknya tidak menanam tanaman lain di sekitar janggelan. Tanaman ini harus dijauhkan dari hama serangga dan tikus. Dalam enam bulan, janggelan sudah bisa dipanen.

Membudidayakan tanaman janggelan cukup mudah. Soalnya, tanaman ini tidak perlu terlalu sering diberi pupuk dan disiram. Lantaran minim pupuk, biaya perawatannya juga tidak mahal. Tak heran, bila banyak petani tertarik menanam janggelan.

Pemilik usaha Wira Abadi, Dudi Iskandar menjelaskan, tanaman yang satu ini paling baik ditanam di lahan dengan ketinggian di atas 1.500 meter dari permukaan laut (mdpl). Supaya dapat tumbuh dengan baik, suhu udara di tempat budidaya harus dingin.

Di Wonogiri, misalnya, pusat budidaya janggelan berada di Karangtengah. Wilayah ini memiliki kontur tanah tertinggi di Wonogiri dan berhawa dingin.

Sebenarnya, banyak daerah lain juga memiliki kondisi demografi hampir sama dengan daerah Karangtengah. Contohnya, kawasan Puncak, Bogor, Jawa Barat. "Semakin tinggi maka semakin bagus tanamannya," ujar Dudi.

Tanaman yang bentuknya seperti bayam hutan ini biasanya sudah mulai besar sejak usia tiga bulan. Tinggi janggelan bisa mencapai 1,5 meter jika sudah besar.

Menurut Dudi, tanaman janggelan tidak perlu disiram rutin. Cukup disiram di awal tanam dan berikutnya mengharapkan air hujan dan serapan dari tanah.

Namun, tanaman ini juga tak boleh terlalu banyak terkena air hujan. Bila musim hujan seperti belakangan ini, hasil tanaman kurang baik karena terlalu lembap.

Selain itu, proses pengeringan daun janggelan di musim hujan juga susah. Padahal, daun janggelan banyak dijual dalam bentuk kering. Janggelan juga tidak perlu terlalu sering dipupuk. Dudi bilang, pemupukan cukup dilakukan di awal tanam saja. Pupuk yang digunakan bisa pupuk urea.

Saat membudidayakan janggelan, sebaiknya tidak menanam tanaman lain di sekitarnya. Sebab, jika ada tanaman lain maka janggelan akan kalah. "Nutrisinya kurang bagus karena kalah menyerap," katanya.

Mansur, pemilik UD Segar, menambahkan, janggelan bisa dipanen enam bulan sejak ditanam. Cara memanennya dengan membabat, bukan mencabut. Sebab, janggelan akan tumbuh lagi dan bisa dipanen dalam tiga bulan setelah dibabat.

Pola ini bisa diulang hingga janggelan berusia dua tahun. "Jika sudah dua tahun, harus diganti supaya kualitas tetap bagus," timpal Dudi.

Menurut Mansur, awal tahun adalah saat yang tepat untuk mulai menanam janggelan. Pasalnya, ketika musim kemarau datang dan kandungan air di tanah cukup, maka hasil janggelan akan terlihat maksimal.

Kendati perawatannya mudah, tanaman ini harus dijauhkan dari hama serangga dan tikus. Untuk mengantisipasi hama bisa dilakukan dengan menyemprotkan anti serangga serta menjaga kebersihan lahan.

http://peluangusaha.kontan.co.id/news/janggelan-daun-cincau-hitam-yang-kian-populer-1/2012/06/21
http://peluangusaha.kontan.co.id/news/janggelan-budidaya-dan-perawatannya-murah-2


Monday, June 18, 2012

BUDIDAYA DURIAN HEPE

Tebal dagingnya, mantap bisnisnya (1)


Durian hepe: Tebal dagingnya, mantap bisnisnya (1)


Banyak jenis durian lokal yang kualitasnya tak kalah dengan durian impor. Salah satunya adalah durian hepe. Durian ini memiliki biji kecil dan daging yang tebal sehingga digemari. Bisnis bibit durian hepe pun tak kalah manis. Mereka bisa meraih omzet puluhan juta dari bisnis pembibitan durian ini.

Kendati memakan waktu cukup panjang ternyata tak menyurutkan minat orang untuk membudidayakan buah durian. Durian lokal masih menjadi pilihan bagi mereka yang tertarik mengembangkan tanaman ini. Salah satu varian durian yang cukup favorit di mata pembudidaya adalah durian hepe.

Hepe dalam bahasa Sunda berarti kempes. Mirip durian ini yang bijinya kempes atau berukuran kecil, sehingga membuat daging dari durian lebih tebal ketimbang durian jenis lain. Hal inilah yang membuat banyak orang tertarik untuk membudidayakannya. Tak heran, bila permintaan bibit durian hepe pun cukup tinggi.

Lulu Bahrul Falah, pemilik CV Mutiaratani Agrisarana di Bogor, Jawa Barat yang mulai mengembangkan usaha bibit durian hepe sejak 1997 bilang, dalam sebulan, ia bisa menjual 600 batang bibit durian hepe. Bibit itu distribusikan ke berbagai wilayah di Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, hingga wilayah Sumatera. Dengan harga bibit sekitar Rp 50.000-Rp 150.000 per batang, tergantung tinggi batang yang berkisar 50 centimeter (cm) hingga 1 meter, Lulu bisa meraup omzet sekitar Rp 30 juta per bulan.

Ia menambahkan, durian hepe mulai booming pada pertengahan tahun 2000-an. "Durian jenis ini dalam lima tahun sudah bisa berbuah dan bisa panen dengan 30 buah per pohonnya setiap tahun," kata Lulu.

Menurut Lulu, permintaan bibit durian hepe ini setiap tahunnya terus meningkat. Namun ia mengaku, membatasi produksi bibit durian hepe. Sebab, Lulu juga harus memproduksi bibit sekitar 16 jenis durian lain.

Bila sudah panen, harga durian hepe cukup mahal. Lulu bilang, durian hepe bisa dijual sekitar Rp 25.000 per kilogram (kg). Padahal satu buah durian hepe, bobotnya bisa sampai 3 kg sampai 4 kg.

Meski kualitas durian hepe cukup bagus, tapi masih kalah pamor dengan durian montong. Makanya, durian hepe ini masih sulit menembus swalayan modern. "Padahal durian ini manis dan agak pahit, serta aromanya tak menusuk hidung," jelasnya.

Pemain lain dalam usaha pembibitan durian hepe adalah Usman, pemilik Wijaya Tani. Ia menumbuhkan bibit durian hepe hingga tanamannya menjadi setinggi 1 meter hingga 2 meter, setelah itu baru dijual.

Bila dibeli borongan, harga bibit durian hepe setinggi 1 meter sebesar Rp 50.000 dan yang setinggi 2 meter sekitar Rp 100.000. Namun, untuk pembeli ritel, harganya dari Rp 100.000 hingga Rp 200.000 per tanaman. Sementara, bibit yang berkualitas bagus mencapai Rp 300.000 per tanaman.

Dari penjualan bibit durian hepe ini, Usman bisa membawa pulang omzet sekitar Rp 5 juta hingga Rp 10 juta per bulan.

Waspadai jamur dan terik berlebih (2)


Durian hepe: Waspadai jamur dan terik berlebih (2)

Durian hepe gampang dibudidayakan. Durian berbiji kecil namun berdaging tebal ini dapat tumbuh secara maksimal jika ditanam pada tanah yang memiliki ketinggian hingga 500 meter di atas permukaan laut. Asal perawatan tepat, durian hepe sudah bisa dipanen pada tahun keempat sejak ditanam.

Membudidayakan durian hepe tak jauh berbeda dengan jenis durian lokal lain seperti durian petruk, sitokong, kanne, dan menoreh. Lulu Bahrul Falah, pemilik CV Mutiaratani Agrisarana yang memproduksi bibit durian hepe di Bogor, Jawa Barat, mengatakan, durian hepe cocok dikembangkan di wilayah yang memiliki curah hujan tinggi.

Idealnya durian hepe ditanam pada ketinggian 500 meter di atas permukaan laut. Lahan yang cocok adalah lahan yang gembur dan bukan tanah rawa atau lahan tergenang.

Ancaman yang patut diwaspadai pembudidaya durian ini adalah jamur yang menghinggapi tiap jengkal tanaman, mulai dari akar, batang, hingga pangkal batang. Jamur tersebut dapat memperlemah pohon yang masih dalam masa pertumbuhan. "Serangan jamur ini akan menimbulkan infeksi pada batang dan jika tidak ditanggulangi pohon akan mati," ujar Lulu.

Selain ancaman jamur, Lulu bilang, durian hepe juga tak tahan pada cuaca terik. Dus, durian hepe sebaiknya ditanam pada awal tahun atau akhir tahun karena saat itu curah hujan cukup tinggi sehingga penyerapan air dalam tanah lebih maksimal.

Ajie Win, pemilik PD Citra Karya Tani di Bogor yang juga memproduksi bibit durian hepe, menimpali, durian hepe akan tumbuh maksimal jika ditanam pada daratan yang memiliki suhu udara 37º Celsius–38º Celsius. Sementara, "Kalau ditanam di atas ketinggian 500 meter, suhunya akan lebih rendah dan berakibat bijinya menjadi besar. Selain itu, buahnya agak berair karena kulit durian ini cenderung tipis," ujar Ajie.

Durian hepe juga membutuhkan panas matahari yang secukupnya saja agar bisa berkembang dengan baik. Selain itu, Ajie menyarankan, pemangkasan cabang perlu dilakukan terutama pemangkasan cabang keempat untuk setiap pohon.

Maksudnya, sejak pohon mulai tumbuh, dihitung cabang keempat dari dasar tanah, cabang tersebut sebaiknya dipotong. Kemudian, cabang selanjutnya dibiarkan tumbuh, dan pada cabang kedelapan dipangkas kembali. "Ini supaya pembentukan pati buahnya bagus. Cabang yang keempat biasanya buahnya kosong. Nanti yang ada daunnya terlalu lebat dan cahaya matahari kurang bisa menembus batang," jelas Ajie.

Hal lain yang perlu diperhatikan, jarak tanam antar pohon minimal 10 meter. Tanahnya pun sebaiknya yang banyak mengandung unsur kapur dan berwarna merah.

Soal pemupukan, pemakaian pupuk organik alias kandang atau pupuk kompos lebih disarankan. Jika hendak melakukan pemupukan kimia (anorganik) jangan di dalam tajuk tanaman atau bagian cabang dan ranting pohon durian. Tujuannya supaya akar mayang (akar kecil-kecil) tidak terkontaminasi atau mati yang mengakibatkan pohon stres.

Berkaitan dengan akar mayang tersebut, satu hal yang tak boleh dilupakan adalah jangan mencangkul atau menggarpu tanah di sekitar akar mayang. Akar mayang ini biasanya timbul hingga ke permukaan tanah, jika tergeruk, akar ini bisa putus dan membuat pohon bisa stres. Maka, jika ada rumput di sekitar pohon durian, sebaiknya disabit saja.

Jika perawatan tepat, durian hepe bisa mulai panen pada tahun keempat sejak ditanam. Di tahun kelima dan seterusnya, satu pohon durian hepe bisa menghasilkan 50-100 buah sekali panen.

O, iya, seperti jenis durian lain, masa panen durian hepe pun hanya setahun sekali. Buah durian hepe yang baik adalah yang berbiji kecil, berdaging tebal dan legit dengan warna kekuningan namun agak kering. Berat buah durian hepe ini bisa sekitar 3 kilogram sampai 4 kilogram.
Sumber:
http://peluangusaha.kontan.co.id/news/durian-hepe-tebal-dagingnya-mantap-bisnisnya-1/2012/06/14
http://peluangusaha.kontan.co.id/news/durian-hepe-waspadai-jamur-dan-terik-berlebih-2/?utm_source=twitterfeed&utm_medium=twitter

Thursday, December 1, 2011

BUDIDAYA ITIK MOJOSARI


Peluang Usaha


Kamis, 01 Desember 2011 | 13:43  oleh Fitri Nur Arifenie, Dea Chadiza Syafina
BUDIDAYA ITIK MOJOSARI
Itik mojosari menetaskan laba besar (1)

Beternak Itik mojosari bisa menjadi peluang usaha yang menarik. Berbeda dengan itik petelur lainnya, itik mojosari memiliki ukuran telur lebih besar. Setiap bulan, peternak pun mampu mendulang omzet hingga ratusan juta rupiah. Bahkan ketika itik tak lagi produktif, harga jual itik ini juga terbilang tinggi.

Itik petelur lokal memiliki beragam asal usul. Itik-itik ini sering disebut sesuai wilayah asal dan sifat morfologis seperti itik alabio, itik tegal, itik bali, itik mojosari, itik magelang, dan itik cirebon.

Di antara banyak jenis itik lokal ini, itik mojosari merupakan salah satu itik lokal petelur unggulan. Tak heran, Dody Faizal pun memilih mengembangkan itik mojosari ini karena potensi ekonominya lebih tinggi dibanding itik jenis lain.

Ukuran telur itik mojosari lebih besar ketimbang telur itik lokal lainnya. "Ukuran telurnya sekitar 70 gram sampai 75 gram, kalau itik lainnya hanya 60 gram sampai 65 gram," kata Dody yang memiliki peternakan itik di Mojokerto, Jawa Timur.

Dody baru mulai beternak itik mojosari sejak 2007 lalu. Sejatinya, usaha ini merupakan warisan turun temurun keluarganya. Itulah sebabnya, Dody tak sulit mengembangkan peternakan itik itu.

Selain menjual telur itik, Dody juga menjual itik petelur, mulai dari itik yang siap bertelur dan itik yang masih berusia sehari atau DOD (day old duck).

Untuk itik siap bertelur, Dody menjual seharga Rp 40.000 hingga Rp 43.000 per ekor. "Bulan ini sedang mahal-mahalnya, harga itik mencapai Rp 45.000 per ekor. Itik petelur jenis lain sekitar Rp 42.000 per ekor" katanya.

Sementara, untuk DOD, Dody mematok harga sebesar Rp 3.500 per ekor. Adapun untuk harga telur, Dody membanderol Rp 1.200 per butir.

Kini, usaha Dody sudah sangat mapan. Saban bulan, ia mampu meraup omzet hingga Rp 350 juta. Perolehan omzet sebesar ini berasal dari penjualan itik siap telur sekitar 5.000 ekor, itik usia sehari sebanyak 10.000 hingga 15.000 ekor, dan telur itik. "Itu penjualan rata-rata. Bulan ini saja, penjualan untuk itik siap telur bisa mencapai 20.000 ekor karena ada orang dari Jawa Barat yang pesan hingga 18.000 ekor," kata Dody.

Di peternakannya, Dody bisa memproduksi telur hingga 2.000 butir tiap hari. Alhasil, dalam sebulan, peternakan Dody mampu menghasilkan telur sebesar 60.000 butir.

Menurut Dody, itik mojosari memiliki masa produktif selama 12 bulan. Pada tahun ke dua, itik mojosari masih mampu menghasilkan telur, namun tak banyak.

Biasanya, setelah tak produktif lagi, itik mojosari akan dijual untuk dimanfaatkan dagingnya. Harga jual itik mojosari yang tidak produktif juga masih cukup tinggi yakni sekitar Rp 31.000 hingga Rp 33.000 per ekor.

Agus Harianto pemilik Sentral Ternak di Malang, Jawa Timur juga mengakui permintaan itik petelur mojosari tinggi. Hal ini karena itik ini memiliki beberapa kelebihan, seperti mudah beradaptasi dengan lingkungan baru.

Selain itu, ukuran tubuh yang lebih kecil dibandingkan dengan jenis itik lainnya. Sehingga, konsumsi pakan ternak itik mojosari lebih sedikit dan lebih ekonomis.

Cangkang telur itik mojosari yang berwarna hijau kebiruan juga lebih menarik minat konsumen, ketimbang itik lainnya yang berwarna putih. "Konsumen Indonesia banyak yang menyukai telur itik mojosari," kata Agus.

Keistimewaan lain dari itik mojosari ini, produktivitas telur bisa mencapai 90% saat itik mencapai puncak produksi. Angka ini sama dengan 328 butir telur yang dihasilkan itik mojosari setiap tahunnya.

Jumlah ini tentu saja lebih tinggi dibanding produktivitas itik petelur lainnya. Bahkan selepas masa puncak produksi, itik mojosari masih mampu menghasilkan telur hingga 75%.

Sama seperti Dody, Agus membanderol harga telur itik mojosari Rp 1.200 per butir. Sedangkan, ia menjual DOD seharga Rp 3.500 per ekor.

Dalam satu bulan, Agus sanggup memenuhi pesanan permintaan bibit itik mojosari sekitar 12.000 ekor sampai dengan 15.000 ekor. Dengan begitu, Agus pun bisa mendulang omzet lebih dari Rp 52 juta sebulan.

Agus menambahkan, permintaan DOD itik mojosari ini tak pernah sepi. Bahkan sekarang ini, permintaan itik mojosari pun banyak datang dari berbagai daerah di luar Pulau Jawa, seperti Kalimantan, Sulawesi, Sumatra, bahkan hingga Papua.

 
Jumat, 02 Desember 2011 | 14:46  oleh Fitri Nur Arifenie, Dea Chadiza Syafina
BUDIDAYA ITIK MOJOSARI
Itik mojosari: Asal pengelolaan pakan baik, peternak bisa untung besar (2)

Beternak itik mojosari memang menggiurkan, meski pemeliharaannya tak mudah. Peternak harus mampu menekan biaya pakan, supaya keuntungan mengucur deras. Selain itu, peternak harus menjaga kebersihan kandang agar itik nyaman saat bertelur.

Bagi peternak pemula, membudidayakan itik asal Mojosari, Mojokerto, Jawa Timur, ini bisa melalui dua cara. Pertama, dengan memelihara induk yang siap bertelur. Kedua, menetaskan telur tanpa induk. "Kalau itik siap bertelur itu tinggal menunggu dua minggu, itik akan bertelur. Sedangkan, untuk itik kecil harus menunggu lima hingga enam bulan untuk bertelur," kata Dody Faisal, peternak itik mojosari asal Mojokerto.

Setidaknya, ada tiga hal yang harus diperhatikan oleh para peternak, yakni pakan, kandang, dan perawatan. Soal pakan, formula yang salah akan berakibat pada kematian.

Itik diberi makan tiga kali sehari dengan menu yang sama setiap harinya. "Jangan sampai itik makan bangkai, seperti bangkai tikus atau bangkai cecak, karena berakibat kematian," kata Dody.

Standar pakan yang baik harus memenuhi unsur protein, karbohidrat, lemak, vitamin, mineral, dan air dalam jumlah yang cukup dan seimbang. Misal, untuk itik petelur yang berumur 26 minggu ke atas, pakan harus mengandung protein sebesar 18% dan karbohidrat minimal 2.900 kilo kalori.

Setelah mencapai umur empat bulan, itik petelur harus banyak aktivitas atau diangon, untuk mendapatkan pakan tambahan berupa hijauan seperti rontokan padi ataupun cacing.

Namun, selain kombinasi nutrisi yang baik, peternak harus melakukan efisiensi makanan itik. "Sebab, keuntungan itik itu terletak pada pengelolaan pakan. Biaya pakan itik saya sebesar Rp 40.000 per 100 ekor per hari," kata Dody.

Tak hanya pakan, peternak juga harus menyiapkan kandang yang ideal bagi itik. Yakni, cukup angin, cukup sinar matahari, dan selalu kering atau tiada genangan. "Per satu meter persegi itu maksimal empat ekor bebek," kata Doddy.

Sementara itu, menurut Agus Harianto, pemilik Sentral Ternak di Malang, Jawa Timur, peternak harus memperhatikan kehangatan suhu untuk kandang day old duck (DOD) atau anak itik usia satu hari sampai tujuh hari. Biasanya, peternak menggunakan lampu bohlam untuk mendapatkan suhu antara 34 0 C hingga 360C, suhu yang sama dengan suhu di dalam telur. "Pemanas buatan ini dipakai hingga itik berumur tiga minggu," jelasnya.

Kandang itik pun harus diberi alas berupa jerami padi agar itik tidak langsung terkena kelembapan tinggi dan debu yang berasal dari tanah. "Karena jika langsung menyentuh tanah, itik dapat terserang penyakit saluran pernapasan yang dapat mengakibatkan kematian," imbuhnya.

Saat itik masih berusia satu hari sampai tujuh hari, kandang itik dengan luas satu meter persegi idealnya dihuni 35 ekor sampai 40 ekor anak itik. Selanjutnya, jumlah anak itik mojosari dalam kandang koloni harus terus dikurangi, karena itik ini masih dalam proses pertumbuhan sehingga membutuhkan tempat yang cukup luas untuk bergerak.

Setelah berumur tiga minggu, kandang tak perlu penghangat buatan. Selain itu, itik tidak perlu lagi diberikan vitamin tambahan. Penambahan suplemen hanya dilakukan dalam kondisi tertentu, seperti saat itik sakit.

Sumber:
http://peluangusaha.kontan.co.id/v2/read/peluangusaha/84140/Itik-mojosari-menetaskan-laba-besar-1-
http://peluangusaha.kontan.co.id/v2/read/peluangusaha/84268/Itik-mojosari-Asal-pengelolaan-pakan-baik-peternak-bisa-untung-besar-2-

Sunday, November 13, 2011

Mengintip Potensi Budi Daya Abalone

Views :204 Times PDF Cetak E-mail
Sabtu, 12 November 2011 10:56
Siput abalone menyimpan potensi untuk menjadi komoditas, karena nilai ekonominya yang tinggi. Tapi, jika penangkapannya berlebihan, dapat mengakibatkan kepunahan.

Oleh karena itu, inovasi teknologi budi daya abalone di Indonesia sangat penting ditingkatkan.

Hal itu disampaikan peabaloneneliti Puslit Oceanografi LIPI, Dwi Eny Djoko Setyono dalam orasi ilmiah berjudul, ‘Biologi dan Inovasi Teknologi Budi daya Abalon Tropis Untuk Meningkatkan Produksi Perikanan di Indonesia’, di gedung LIPI, Jakarta, Jumat 11 November 2011.

Dia menyampaikan, masa depan budi daya abalone sangat baik mengingat lahan yang cocok sangat luas. Makanan siput ini juga gampang dan bahan pakannya relatif murah. Makanan abalone ini berupa lumut, atau tepung ikan, tepung kedelai, tepung jagung, dan minyak ikan.

“Pemerintah perlu menyosialisasikan usaha budi daya abalone tropis untuk menyejahterakan masyarakat,” ujarnya, Jumat, 11 November 2011. 

Dalam pasar ekspor, abalone juga banyak diminati seperti, China, Jepang dan beberapa negara di Eropa. Bahkan di China, abalone kata Dwi, dijadikan suguhan resmi untuk tamu.

Harga abalone di pasar ekspor mencapai US$40 per kg untuk abalone hidup, US$66 per kg untuk daging abalone segar, US$80 per kg untuk abalone yang dikalengkan.

“Untuk budi daya ini bisa dimulai kecil saja, buat kolam ukuran 5 m2 sudah bisa. Yang penting airnya bersih,” sarannya.

Sampai saat ini, dia mengaku sudah mengembangkan pembenihan. Tahun depan akan melakukan studi pembesaran budi daya.

Meski demikian, dia merasa inovasi budi daya perlu dikembangkan. Masih banyak riset berkaitan dengan budi daya abalon perlu dilakukan, misalnya formulasi pakan buatan, pemilihan benih, aplikasi zat probiotik dan hormon pertumbuhan, dan kontrol penyakit.

Untuk melakukan penelitian juga diperlukan kerja tim yang terdiri dari, pakar nutrisi, biokimia, imunologi, mikrobiologi. Pemanfaatan abalone sampai saat ini hanya untuk konsumsi. Tapi tidak menutup kemungkinan bisa dilanjutkan dengan pemanfaatan yang lain.

Di beberapa wilayah Indonesia, abalone diketahui telah mengalami kelebihan tangkapan. Untuk itu, dia mengharapkan pemerintah mengeluarkan peraturan untuk membatasi kuota maupun ukuran biota yang boleh ditangkap dari alam. (*/VIVAnews)

Sumber:
http://ciputraentrepreneurship.com/kembangkan-uang-anda/12712-mengintip-potensi-budi-daya-abalone.html

Friday, November 11, 2011

BUDIDAYA KUNYIT


Peluang Usaha

 
Kamis, 10 November 2011 | 14:56  oleh Fitri Nur Arifenie
BUDIDAYA KUNYIT
Budidaya kunyit makin menggiurkan (1)
Kunyit termasuk salah satu tanaman rempah dan bahan baku obat alami asli dari wilayah Asia Tenggara. Karena manfaatnya yang cukup besar serta permintaan banyak, budidaya kunyit pun mampu mendatangkan omzet hingga puluhan juta rupiah sebulan.

Kunyit merupakan tanaman obat berupa semak dan bersifat tahunan (perenial) yang tersebar di seluruh daerah tropis. Tanaman dengan nama latin Curcuma domestica ini tumbuh subur dan liar di sekitar hutan/bekas kebun. Di daerah Jawa, kunyit banyak digunakan sebagai ramuan jamu karena berkhasiat menyejukkan, membersihkan, mengeringkan, menghilangkan gatal dan menyembuhkan kesemutan.

Kebutuhan bahan baku kunyit untuk industri jamu tradisional makin meningkat tiap tahun. Peluang inilah yang ditangkap oleh Zulkarnaen, pemilik CV Shinta Pratama di Ciamis, Jawa Barat.

Ia memanfaatkan lahan seluas 7 hektare (ha) untuk menanam kunyit. Tiap hektare mampu menghasilkan kunyit sebanyak 30 ton per enam bulan. Ini berarti, dalam sebulan, Zulkarnaen mampu memanen kunyit sekitar 35 ton dari seluruh lahannya.

Dengan harga jual sebesar Rp 2.500 hingga Rp 3.000 per kilogram (kg), Zulkarnaen mampu mendulang omzet hingga Rp 90 juta per bulan dari tanaman kunyit. Ia memilih bercocok tanam kunyit karena umbi berbentuk rimpang yang berwarna kuning tua ini lebih menguntungkan daripada membudidayakan tanaman tahunan berbatang keras seperti albasia maupun pohon jati. "Pasarnya juga mudah, bisa ke pasar tradisional dan pabrik jamu," kata Zulkarnaen.

Menurutnya, peluang pasar tanaman obat masih cukup luas, baik untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri maupun ekspor. Data dari Gabungan Pengusaha Jamu menunjukkan, omzet perdagangan jamu nasional tidak kurang dari Rp 3 triliun per tahun.

Zulkarnaen bilang, bibit tanaman kunyit yang baik berasal dari pemecahan rimpang tanaman asalnya. "Cukup berasal dari rimpang yang telah berumur lebih dari 7 hingga 12 bulan," jelas Zulkarnaen.

Setali tiga uang dengan Zulkarnaen, M Hadi, pemilik Yayasan Lintang Asri di Jakarta Timur juga mengamini budidaya kunyit mampu menebalkan kantong. Pasalnya, di Indonesia budidaya tanaman kunyit masih belum banyak.

Di lahannya seluas 4 ha, Hadi menanam aneka tanaman herbal, seperti kunyit, jahe merah, temulawak dan temu putih. Untuk tanaman kunyit, Hadi memanfaatkan lahan seluas 500 m2. "Dalam sebulan, saya bisa menghasilkan tanaman kunyit sekitar 500 kg," kata Hadi.

Hadi membagi tanaman kunyit produksinya menjadi tiga kualitas, yakni grade 1, grade 2 dan grade 3. Setiap grade ini, memiliki harga jual berbeda. Untuk grade 1, Hadi membanderol harga Rp 12.000 per kg, grade 2 sebesar Rp 7.000 per kg, dan harga grade 3 sebesar Rp 3.000 per kg.

Selain menjual tanaman kunyit segar yang dipasok ke pabrik jamu, Hadi juga menjual hasil olahan tanaman kunyit yakni sirop kunyit dan serbuk kunyit. Menurutnya, produk olahan kunyit cukup digemari. Bahkan, ia sering kewalahan dalam melayani pesanan.

Kini, ia telah memproduksi sekitar 250 botol sirop kunyit per bulan dengan harga Rp 30.000 per botol. "Kalau serbuknya sekitar 100 kg sebulan," kata Hadi. Alhasil, dari kunyit, Hadi mampu mendulang omzet Rp 30 juta per bulan.  

Jumat, 11 November 2011 | 15:32  oleh Fitri Nur Arifenie
BUDIDAYA KUNYIT
Tanaman kunyit butuh air sedikit, ongkosnya pun irit (2)
Budidaya tanaman kunyit tak akan pernah kehilangan pamor. Selain memiliki prospek usaha yang bagus, kunyit juga mudah dibudidayakan. Tak butuh teknologi penanaman yang ribet, tanaman kunyit bisa tumbuh asal pemberian pupuk dan air yang mencukupi.

Budidaya kunyit cukup mudah dibandingkan dengan tanaman lain. Zulkarnaen, pemilik CV Shinta Pratama menuturkan, penanaman kunyit sebaiknya dilakukan secara tumpang sari. Sebab, selain panen cukup lama, dengan adanya tanaman jenis lain yang lebih cepat masa panennya, bisa menambah pemasukan petani.

Secara rata-rata, kata Zulkarnaen, tanaman herbal ini dapat ditanam di berbagai daerah di seluruh Indonesia, bahkan sampai pada ketinggian 2.000 mdpl. "Namun, semakin tinggi daerah penanaman, maka umur panen juga makin lama," katanya. Karena, suhu optimal untuk budidaya tanaman kunyit antara 29 derajat hingga 300 C.

Sementara itu, M. Hadi, pemilik Yayasan Lintang Asri, menyarankan, penanaman kunyit dilakukan pada awal musim hujan. Sama seperti tanaman rimpang lainnya, tanaman kunyit juga membutuhkan cukup air untuk tumbuh.

Meski begitu, volume air tetap harus diperhatikan. "Tidak boleh ada genangan air, supaya rimpang tidak cepat membusuk," kata dia.

Dalam budidaya kunyit ini, Hadi pun menerapkan sistem pertanian organik. Alasannya, biaya budidaya secara organik lebih murah karena tak perlu pestisida.

Tanaman kunyit ini siap dipanen pada umur enam bulan. Hadi bilang, ciri-ciri kunyit siap panen adalah berakhirnya pertumbuhan vegetatif, seperti terjadi perubahan warna daun dan batang yang semula hijau menjadi kuning.

Satu tanaman bisa menghasilkan panen rimpang sebanyak 1,5 kg hingga 3 kg. "Untuk 500 meter persegi, lahan budidaya kunyit bisa dipanen sekitar tiga ton rimpang kunyit," tutur Hadi.

Sebelum dijual, tentu saja kunyit harus dicuci terlebih dulu. Pencucian ini harus dilakukan secara hati-hati. Biasanya, rimpang kunyit itu disemprot dengan air bertekanan tinggi sehingga tak ada lagi kotoran tanah yang menempel. "Jika masih kotor, bilas lagi, tapi cukup dua kali tidak boleh lebih," jelas Hadi.

Ia menghindari pencucian yang terlalu lama agar kualitas dan zat-zat yang terkandung dalam rimpang tidak larut terbawa air. Setelah dicuci, kunyit dikeringkan selama dua hingga lima hari.

Hadi hampir tak menemui kendala dalam budidaya kunyit ini. Tanaman kunyit ini relatif bebas dari hama. "Hanya memang kendalanya adalah cuaca," kata Hadi.

Pemberian bahan organik dinilai sangat penting untuk pertumbuhan rimpang. Sebab, pemberian bahan organik akan membuat tekstur tanah cukup gembur dan rimpang menjadi banyak dan cepat besar.

Adapun kendala yang dihadapi Zulkarnaen adalah saat proses pengeringan. Ia masih mengandalkan sinar matahari. Alhasil, bila tiba musim hujan, hasil panen kunyit berisiko terkena jamur.

Padahal, untuk kunyit yang dipasok ke industri jamu harus benar-benar dalam kondisi kering. Tujuannya, supaya rimpang kunyit bertahan lama. "Kalau dikeringkan, rimpang bisa tahan sekitar 6 bulan hingga 12 bulan. Tapi kalau kunyit segar hanya bertahan sebulan," kata dia.

Meski penanaman dilakukan pada musim hujan, Zulkarnaen tak mengandalkan air hujan untuk mengairi lahannya. Ia menggunakan air sumur untuk pengairan, yang disalurkan melalui selang-selang dan bak penampung.

(Selesai)
Sumber:
http://peluangusaha.kontan.co.id/v2/read/1320911801/82387/Budidaya-kunyit-makin-menggiurkan-1-
http://peluangusaha.kontan.co.id/v2/read/peluangusaha/82500/Tanaman-kunyit-butuh-air-sedikit-ongkosnya-pun-irit-2-

Friday, October 14, 2011

BUDIDAYA PEPAYA CALINA

Peluang Usaha

 
Jumat, 14 Oktober 2011 | 15:17  oleh Ragil Nugroho
BUDIDAYA PEPAYA CALINA
Pepaya calina: Manisnya cita rasa calina semanis senyum pembudidayanya (1)

Selain mengandung banyak vitamin, pepaya calina juga berpotensi meningkatkan kesejahteraan bagi penanamnya. Karena bobotnya yang super dan rasa yang manis segar, pepaya calina ini juga bisa mendatangkan omzet puluhan juta rupiah per bulan.

Siapa yang tak kenal dengan buah pepaya? Buah bercita rasa manis itu terbilang mudah tumbuh di alam Indonesia. Karena itulah buah pepaya gampang ditemui di pasar.

Selain manis, buah pepaya juga mengandung serat tinggi dan vitamin yang berguna untuk tubuh. Karena itu, pepaya populer sebagai cara jitu menghilangkan sembelit.

Salah satu jenis pepaya yang banyak dibudidayakan belakangan ini adalah pepaya calina atau pepaya california. Ada yang bilang pepaya calina berasal dari California, Amerika Serikat.

Namun ada juga yang bilang pepaya calina merupakan hasil pengembangan bibit pepaya lokal oleh ilmuwan Institut Pertanian Bogor (IPB). "Pemberian embel-embel calina bertujuan untuk menimbulkan kesan impor saja," kata Denny Rahmadi, salah satu pengusaha pembibitan pepaya calina di Depok, Jawa Barat.

Salah satu keunggulan pepaya calina adalah ukuran buah yang lebih jumbo. Bobot buah pepaya calina bisa mencapai 2,1 kilogram (kg). "Sementara berat buah buah pepaya lokal hanya berbobot 1,5 kg," jelas Denny.

Denny terjun ke bisnis pepaya calina sejak dua tahun lalu, karena terpengaruh potensi buah pepaya celina yang begitu besar. "Setiap tahun permintaan bibit pepaya calina naik 25%," terang Denny.

Sekedar gambaran, tahun lalu Denny menjual 4.000 bibit pepaya calina per bulan. Tahun ini, ia menjual bibit calina sebanyak 5.000 bibit per bulan.

Bibit yang ia jual itu biasanya memiliki usia tanam satu bulan dengan tinggi pohon 10 centimeter (cm). Pembeli bibit kebanyakan dari sekitar Depok saja. "Setiap batang bibit itu saya jual Rp 2.000," ujar Denny.

Dari hasil penjualan bibit pepaya calina itu, Denny bisa mendulang omzet Rp 10 juta per bulan. Namun Denny tidak hanya mengandalkan bibit saja, ia setiap bulan rutin memetik buah pepaya calina dari kebun buah miliknya. "Dalam sebulan saya panen sampai 8 ton," terang Denny.

Denny menjual pepaya calina mulai harga Rp 3,5 juta per ton hingga Rp 4 juta per ton. Dalam sebulan, Denny mendapatkan omzet Rp 28 juta dari penjualan buah pepaya calina itu. "Konsumen terbesar ada di Jakarta, Balikpapan, dan Palembang," kata pemilik CV Pesona Raya Persada itu.

Pemain lain bisnis pepaya calina adalah Andi Sutrisno, pemilik CV Annazahra di Solo, Jawa Tengah, yang buka usaha pembibitan sejak 2010. Sama dengan Denny, Andi juga melirik potensi besar bisnis pepaya calina. "Kebutuhan pepaya nasional baru tercukupi 80%," terang Andi.

Setiap bulan Andi bisa menjual 3.000 bibit dengan harga Rp 2.500 per bibit dengan omzet Rp 7,5 juta. Sedangkan untuk buah pepaya calina, Andi menjualnya mulai dari Rp 4 juta - Rp 5 juta per ton. "Sebulan saya menjual buah sebanyak 4 ton," kata pria berusia 40 tahun itu.

Dari penjualan buah pepaya calina itu, Andi saban bulan bisa bawa pulang omzet Rp 16 - Rp 20 juta. Pasar buah pepaya calina milik Andi ada di hampir seluruh pulau Jawa. "Sejak awal tahun saya memasok ke Hypermart, Giant dan ritel modern lain di Jawa Tengah," kata Andi.

Sumber:
http://peluangusaha.kontan.co.id/v2/read/peluangusaha/80041/Pepaya-calina-Manisnya-cita-rasa-calina-semanis-senyum-pembudidayanya-1

Tuesday, October 4, 2011

BUDIDAYA JERUK BABY

Peluang Usaha

Senin, 03 Oktober 2011 | 15:30  oleh Handoyo, Dea Chadiza Syafina
BUDIDAYA JERUK BABY
Memeras untung jeruk baby dengan kandungan air tinggi (1)

Selain sebagai buah, jeruk juga banyak dikonsumsi sebagai minuman atau jus. Salah satu jenis jeruk yang populer dalam pembuatan jus adalah jeruk baby. Peningkatan konsumsi jus buah di Indonesia, juga meningkatkan permintaan jeruk baby setiap tahun.

Buah jeruk memang banyak variannya. Setiap buah memiliki karakteristik yang berbeda. Selain dikonsumsi sebagai buah segar, jeruk juga digunakan sebagai bahan jus.

Dari beberapa jenis jeruk, yang paling nikmat menjadi bahan jus adalah jeruk baby. Meski bernama baby yang identik dengan mungil, jeruk ini memiliki ukuran mirip jeruk kebanyakan.

Tak heran, jeruk ini memiliki nilai ekonomis yang tinggi. Indra Fajar, pemilik dari CV Palma Agro Tani Subur asal Malang, Jawa Timur, ini bisa meraup uang Rp 300 juta dalam satu kali panen dari kebunnya yang seluas satu hektare.

Di kebun itu, Indra menanam sekitar 5.000 jeruk baby. Dari seluruh pohon itu, setiap enam bulan, ia memanen hingga 50 ton jeruk.

Hasil panennya pun tak hanya dijual di pasar tradisional. Sejak 2008, jeruk dari kebun Indra sudah masuk supermarket. "Namun kebanyakan yang membeli adalah para pengepul," terangnya.

Indra yang mulai membudidayakan jeruk baby sejak 2007, menjual hasil kebunnya berdasarkan kualitas. Untuk grade A atau kualitas buah terbaik, harganya Rp 8.000 per kilogram (kg). Adapun untuk grade B dan C, Indra menjual dengan harga Rp 7.000 dan Rp 6.000 per kg.

Penentuan kualitas ini berdasarkan berat dan bentuk jeruk. Jeruk kualitas A memiliki berat 150 gram (gr) hingga 200 gr. "Kulit buah mulus tanpa cacat," terang Indra. Jeruk kualitas ini biasanya sudah dipesan oleh agen yang kemudian mendistribusikan di supermarket.

Selama menjual jeruk baby, Indra mengakui permintaan jeruk ini terus meningkat. "Permintaan naik sekitar 10% per tahun. Sayang, produksi kami masih terbatas," ujarnya.

Selain Indra, Mudin Usman, Pemilik Wijaya Tani asal Depok, Jawa Barat juga membudidayakan jeruk baby. Namun, Usman tak hanya menjual buah, ia juga menyediakan bibit.

Mudin membanderol bibit jeruk ini seharga Rp 40.000 hingga Rp 50.000 untuk bibit setinggi 40 cm sampai 60 cm. Jika ingin menikmati hasil panen, Usman pun menyediakan pohon siap buah setinggi satu meter dengan harga Rp 500.000 per pohon.

Usman juga mengatakan permintaan bibit jeruk baby kian meningkat seiring tren minuman jus buah. Tidak hanya dari kalangan keluarga, permintaan bibit jeruk ini juga datang dari pebisnis hotel dan katering.

Bahkan, Usman pernah mendapat order dari Sulawesi, Sumatera, dan Kalimantan. Satu kali pengiriman bibit berkisar antara 200 hingga 250 pohon. Dalam sebulan, Usman bisa mengirim bibit hingga lima kali. "Saya paling banyak mengirim bibit jeruk ini ke Medan," kata Usman.

Menurut Usman, permintaan bibit jeruk baby tinggi, karena buah ini memiliki kandungan air yang tinggi. Selain itu, harga jual jeruk ini cukup terjangkau. Usman bilang, harga jual buah ini di pasaran Rp 12.000 sampai Rp 15.000. Namun, jika tak sedang panen raya, harga jual bisa melonjak antara Rp 25.000 sampai Rp 35.000 per kg.

Sumber:
http://peluangusaha.kontan.co.id/v2/read/peluangusaha/78932/Memeras-untung-jeruk-baby-dengan-kandungan-air-tinggi-1

Tuesday, September 13, 2011

BUDIDAYA ITIK DUO

Peluang Usaha

AGRIBISNIS

 
Jumat, 09 September 2011 | 16:21  oleh Dea Chadiza Syafina
BUDIDAYA ITIK DUO
Itik duo, itik unggul yang tidak amis dan cepat gede (1)

Permintaan daging itik terus meningkat membuat peternak itik ketiban rezeki. Ini seperti yang dirasakan peternak itik duo di Serang, Banten. Itik duo hanya membutuhkan waktu 45 hari untuk bisa dipanen. Daging yang tebal dan tak amis membuat itik ini kian diminati.

Konsumsi daging bebek atau itik nasional terus meningkat. Terus berkembangnya kuliner bebek membuat daging unggas ini semakin diminati.

Data Kementerian Pertanian menunjukkan, pada tahun 2005 produksi daging itik mencapai 21.351 ton, meningkat menjadi 24.531 ton tahun 2006. Produksi paling besar pada 2007 mencapai 44.105 ton, 30.980 ton pada 2008 dan data sementara tahun 2009 sebesar 31.945 ton.

Walaupun jumlah produksinya besar, namun sampai sekarang kebutuhan daging itik belum sepenuhnya terpenuhi. Irwan, Ketua Kelompok Penetas dan Petelur Itik (KPPI) di Serang mengatakan, saat ini seluruh peternak itik di Serang belum mampu memenuhi kebutuhan daging itik lokal. "Kami masih harus mendatangkan bibit dari Medan, jadi belum bisa maksimal," katanya.

Tiap minggu, Irwan mengaku hanya bisa menyediakan sekitar 700 ekor itik pedaging. Dengan jumlah penjualan itu, tiap bulan dia bisa mengantongi omzet lebih dari Rp 40 juta dan keuntungan sekitar 15% dari total omzet.

Namun itik yang disediakan oleh Irwan bukanlah itik biasa, sebab dia hanya membudidayakan itik duo atau sering disebut itik MA 2000. Itik duo yang juga disebut itik raja ratu merupakan varietas unggul hasil persilangan itik mojosari yang unggul dalam produksi telur dengan bebek alabio asal Kalimantan Selatan yang unggul dalam produksi daging.

Keunggulan lainnya, itik duo hanya butuh waktu 45 hari sampai 50 hari untuk bisa dijual atau konsumsi. Berbeda dengan itik biasa yang baru bisa dipanen setelah berumur 5 bulan.

Dengan waktu yang singkat, peternak bisa menghasilkan bebek berbobot 1,2 kilogram (kg) sampai 1,4 kg. Dari berat bebek tersebut, 62% dari bobot itu adalah daging.

Menurut Irwan, kontur daging itik duo lebih tebal dan berisi. "Dagingnya juga tidak berbau amis seperti itik lainnya," katanya. Selain itu, jenis itik ini juga lebih tahan terhadap penyakit dan stres.

Selain Irwan, salah satu peternak itik duo yang lain adalah Yayat Supriyatna, anggota perternakan Ratu FM di Kabupaten Serang. Menurutnya, potensi pasar daging itik, terutama itik duo, masih terbuka luas. Di Serang saat ini baru ada empat peternak besar yang fokus beternak itik duo.

Untuk memenuhi seluruh pesanan, Yayat bekerja sama dengan empat peternak plasma. Dia hanya menyediakan bibit atau day old duck (DOD) yang didatangkan dari Medan, sedangkan peternak plasma bertugas memelihara sampai panen. Yayat mengaku, saban minggu bisa memanen sekitar 500 itik duo.

Beternak itik duo lebih menguntungkan lagi, selain cepat panen, harga dagingnya juga lebih tinggi. Saat ini per kilogram daging itik duo mencapai Rp 18.000 dalam keadaan hidup. Harga ini akan melonjak hingga Rp 23.000 jika bebek dijual dalam bentuk karkas atau hanya diambil dagingnya saja tanpa jeroan.

Adapun bebek karkas lengkap dengan jeroan dan telah dikemas dijual dengan harga Rp 27.000 per ekor. Namun, "Daripada keuntungan jatuh ke tangan pengepul, saya lebih suka menjual bebek ungkep siap masak seharga Rp 33.000 per ekor," kata Irwan.



 
Senin, 12 September 2011 | 13:55  oleh Dea Chadiza Syafina
BUDIDAYA ITIK DUO
Budidaya itik duo: Pilihan pakan dapat mempengaruhi hasil panen (2)

Produktivitas itik duo memang tinggi. Itik duo ratu atau itik petelur sudah bisa bertelur di usia 4,5 bulan atau 5 bulan. Tidak hanya itu, di masa puncak produksi itik ratu mampu bertelur sepanjang tahun. Hanya, itik ini butuh lokasi pemeliharaan khusus.

Sepertinya, memelihara itik duo lebih banyak untungnya daripada ruginya. Lihat saja tingkat produktivitas itik ratu atau itik petelur. Ketika menginjak usia lima bulan itik ratu ini sudah mulai bertelur atau dua minggu lebih cepat dari itik alabio lokal dan tiga minggu lebih cepat dibandingkan itik mojosari.

Setiap ekor itik duo mampu bertelur dalam satu tahun rata-rata sebanyak 261 butir, atau 71,5% dari seluruh hari dalam setahun. Bahkan di puncak reproduksi, itik duo mampu bertelur sepanjang hari dalam setahun atau mencapai 95%. Keunggulan lainnya, masa produktif itik duo bisa selama dua tahun.

Bentuk fisik itik ratu ini juga khas dengan warna bulu cokelat kehitaman dengan kombinasi warna putih di bagian dada dan perut. Sedangkan bulu di bagian kepala terdapat garis putih tepat di atas mata yang menyerupai alis.

Meski itik ratu ini memiliki keunggulan genetis, peternak tetap harus melakukan pemeliharaan itik duo baik jantan maupun betina dengan baik. Lokasi peternakan yang tepat sangat mendukung keberhasilan beternak itik duo.

Menurut Irwan, Ketua Kelompok Penetas dan Petelur Itik (KPPI) Serang, sebaiknya peternakan di lokasi yang tenang, jauh dari permukiman penduduk atau suara-suara bising namun tetap mudah diakses untuk memudahkan pemasaran. "Lokasi ini bisa menimimalisir tingkat stres bebek sehingga bisa berproduksi lebih banyak," kata Irwan.

Setelah memilih lokasi, kondisi kandang juga harus tersedia air untuk itik yang memadai karena unggas ini tergolong hewan yang suka air. "Yang tidak perlu disediakan adalah air untuk berenang itik karena bisa mempengaruhi jumlah produksi daging maupun telur," timpal Yayat Supriyatna, pemilik peternakan itik Ratu FM Serang.

Peternak setidaknya perlu dua macam kandang. Pertama, kandang untuk starter yang disiapkan untuk itik berumur satu hari atau day old duck (DOD) hingga berusia empat minggu. Kandang untuk DOD ini sebaiknya dilengkapi lampu untuk menghangatkan udara dalam kandang.

Kedua, adalah kandang finisher untuk itik potong maupun petelur yang telah berusia lebih empat minggu sampai siap panen. Untuk kandang ini, ventilasi sebaiknya terbuka tapi tetap diperhatikan agar hewan pemangsa tidak dapat masuk. Kandang sebaiknya dilengkapi dengan atap yang dapat melindungi itik dari sinar matahari dan hujan.

Selain kondisi kandang, pakan juga perlu diperhatikan. Pakan itik sebaiknya tidak berubah-ubah. Setiap itik duo butuh asupan 18% hingga 20% protein dan 2.900 kalori per hari.

Biaya pakan merupakan biaya terbesar dari ternak itik, yakni mencapai 70% dari seluruh biaya. Namun, memperoleh pakan yang baik, tidak harus pakan buatan pabrik. Pakan bisa dari hasil olahan sendiri dengan memanfaatkan limbah perikanan, pertanian ataupun limbah makanan manusia. Dengan cara ini ongkos produksi jelas bisa ditekan.

Irwan sendiri memanfaatkan limbah makanan manusia sebagai pakan ternaknya. "Gizi dari nasi bekas katering ini mampu untuk memenuhi gizi itik secara seimbang," tandas Irwan.

Sumber:
http://peluangusaha.kontan.co.id/v2/read/peluangusaha/77067/Itik-duo-itik-unggul-yang-tidak-amis-dan-cepat-gede-1
http://peluangusaha.kontan.co.id/v2/read/1315810548/77177/Budidaya-itik-duo-Pilihan-pakan-dapat-mempengaruhi-hasil-panen-2

Wednesday, September 7, 2011

BUDIDAYA JAMBU AIR CITRA

PELUANG USAHA
AGRIBISNIS

 
Senin, 05 September 2011 | 16:14  oleh Ragil Nugroho
BUDIDAYA JAMBU AIR CITRA
Jambu air citra berbadan jumbo nan aduhai (1)
 
Indonesia memang kaya tanaman buah. Salah satu tanaman buah yang populer itu adalah jambu air citra yang memiliki rasa manis dengan buah berukuran jumbo. Jambu air citra ini juga gampang dibudidayakan dan bisa panen hingga tiga kali dalam setahun.

Kita tentu sudah kenal dengan jambu air. Buah ini tergolong populer di Tanah Air. Seperti namanya, jambu air ini memang mengandung kadar air yang tinggi.

Salah satu jenis buah ini tropis, kalau lagi musim, gampang ditemui di mana-mana. Selain itu, varian jambu air ini juga bermacam-macam, ada jambu air putih, merah, jambu air kerikil karena bentuk buahnya yang kecil-kecil seperti batu kerikil.

Namun ada satu jenis jambu air yang belakangan ini semakin banyak diburu, baik oleh pembibit tanaman maupun oleh penyuka jambu air, yakni jambu air citra. Jambu ini terkenal manis rasanya.

Selain itu, keunggulan lainnya, adalah bentuk buah yang jumbo ketimbang ukuran jambu air lainnya. Sebutir jambu air citra bisa berbobot hingga 300 gram. "Ukurannya bisa sebesar kaleng susu kental manis," kata Rony Pranata, pemilik CV Bina Agro Mandiri, yang membudidayakan jambu air citra di Yogyakarta.

Walaupun jambu air citra sudah dikenal lama di dunia agrobisnis. Tapi buah yang kaya vitamin itu baru dibudidayakan massal sejak lima tahun lalu. Adapun tren kenaikan permintaan dari pembudidaya terjadi sejak dua tahun ini.

Tahun ini saja, seperti dialami Rony, permintaan jambu air citra bisa naik hingga 200% ketimbang dua tahun lalu. Kini Rony harus melayani permintaan jambu air citra 500 kilogram (kg)-600 kg per bulan.

Dengan harga Rp 15.000-Rp 20.000 per kg, Rony mampu meraup omzet hingga Rp 15 juta per bulan. Omzet itu tidak hanya dari penjualan buah saja, melainkan juga dari penjualan bibit. "Keuntungan bersih bisa 15%-25% dari omzet," kata Rony.

Untuk satu batang bibit jambu air citra ukuran 30 cm-50 cm, Rony menjualnya Rp 20.000. "Kalau beli 20 bibit, harga bisa Rp 10.000 per bibit," terang Rony.

Menurut Rony, pembudidaya bibit jambu air citra bisa memanen saat pohon berusia dua tahun lebih. Soal lokasi tanam, karena ini buah tropis, bisa di tanaman di mana saja. "Semakin lama kemarau maka semakin manis buahnya," kata Rony yang memasarkan jambu air miliknya itu ke daerah Jabodetabek, Semarang, dan Bali.

Selain melayani pasar domestik, Rony baru-baru ini sedang merintis pasar ekspor. Rony sedang berusaha melayani ekspor ke Malaysia dan Singapura dalam jumlah terbatas. "Ada pelanggan yang memanfaatkan jambu air untuk makanan olahan seperti manisan dan juga selai," ujar pria yang berusia 40 tahun itu.

Selain Rony, ada Rudi Sudjarwo yang mengembangkan perkebunan jambu air citra di Demak, Jawa Tengah, dengan nama usaha CV Segar Rasa. Sejak memulai berbisnis jambu air citra dua tahun lalu, Rudi mengakui ada kenaikan permintaan. "Setiap bulan saya rutin mengirimkan sekitar 400 kg ke Jakarta dan Semarang dengan omzet sekitar Rp 10 jutaan," kata Rudi.

Ia menilai, budi daya jambu air citra itu cukup menguntungkan, karena memiliki masa panen dua sampai tiga kali dalam setahun. "Tanaman jambu air memiliki daya tahan yang kuat dan tidak kenal musim," ujar Rudi.  

Selasa, 06 September 2011 | 15:05  oleh Ragil Nugroho
BUDIDAYA JAMBU AIR CITRA
Jambu air citra: Budidayanya mudah, bisa panen tiga kali setahun (2)

Tanaman jambu air citra bisa tumbuh baik saat musim kemarau. Bahkan di saat jarang hujan, rasa buah akan terasa lebih manis ketimbang saat musim hujan. Dengan pemeliharaan yang sederhana saja, petani bisa panen tiga kali setahun.

Rasa jambu air citra justru semakin manis di kala musim kemarau yang minim air. Karena itu, bagi petani, di saat musim kemarau inilah saat panen jambu air citra yang tepat.

Di kala berbuah di musim hujan, rasa manis akan berkurang karena jambu air memiliki struktur gabus pada daging buah. Struktur gabus ini menyerap air sehingga dalam kondisi iklim dengan air berlimpah, justru tidak menghasilkan buah berkualitas.

Rudy Sudjarwo, pemilik CV Segar Rasa di Demak, mengatakan bahwa pohon jambu air citra tumbuh ideal ketinggian tanah antara 200 meter - 500 meter di atas permukaan laut (dpl).

Lokasi budidaya yang tepat akan membentuk buah seperti lonceng dan berwarna merah kecokelatan dengan rasa yang manis dengan kandungan air yang cukup.

Contohnya, ketika jambu citra ditanam di kota Malang yang bertemperatur dingin dan curah hujan tinggi, buah yang dihasilkan kecil dan tidak begitu manis. Namun, di Demak, jambu air citra akan menghasilkan buah yang manis.

Nah, untuk mengembangkan tanaman jambu air citra yang paling praktis melalui proses cangkok. Namun, sebelum mencangkok harus dipilih dahulu batang yang kokoh dan memiliki daun lebat, hijau, dan segar.

Selain itu, harus dipastikan pula batang tanaman induk memiliki kulit yang mulus, tidak memiliki bercak keputihan atau kelabu. "Pilih tanaman dengan batang kokoh dan percabangan kuat," katanya.

Bibit yang sudah jadi dan kelihatan akarnya, kemudian dipindahkan ke tempat teduh menggunakan polybag atau pot. Bibit perlu dirawat dengan menyemprotkan pupuk daun, pupuk kandang atau kompos secukupnya. Setelah dirawat 2-3 bulan, barulah bibit dipindah ke lokasi penanaman, baik itu di tanah maupun di pot besar. Setiap hektare kebun, bisa ditanami sekitar 200 pohon jambu.

Setelah dipindahkan, tiga bulan sekali, bibit perlu mendapat tambahan pupuk kompos sekitar satu karung. Selain itu, perlu juga pemberian pupuk urea dan NPK sebanyak dua gram, atau sekitar satu sendok makan.

Pemeliharaan juga perlu dilakukan dengan pemangkasan daun yang terlalu rimbun. Pemangkasan dilakukan untuk mempercepat proses pencabangan dan pembuahan. Adapun penyiraman dilakukan sebanyak dua kali sehari.

Dalam kurun waktu enam bulan, tanaman jambu air sudah berbuah. Namun, biasanya, buah perdana ini mutunya tidak terlalu baik. Untuk mendapatkan buah yang sempurna, biasanya setelah tanaman berumur dua tahun. Untuk sekali panen, petani bisa mendapatkan buah sebanyak 25 kg per pohon atau 75 kg per tahun per pohon jika panen bisa tiga kali.

Walau proses budidaya itu cukup mudah, Rony Pranata, pemilik CV Bina Agro Mandiri di Yogyakarta, mengingatkan ancaman rontok bunga dan buah. "Jika bunga dan buah rontok perlu penambahan kalsium hingga membuat cabang, ranting, dan tangkai menjadi kokoh," katanya. Kalsium juga baik untuk meningkatkan daya elastisitas dan sel buah sehingga tak mudah retak.

Selain rontok bunga dan buah, perlu mewaspadai serangan hama kutu putih yang biasanya menyerang di saat musim kemarau. Kutu putih ini akan mengakibatkan daun dan batang mengkerdil karena parasit ini memakan nutrisi tanaman jambu. Untuk mengatasinya, bisa menggunakan fungisida atau disemprot menggunakan air deterjen.

Sumber:
http://peluangusaha.kontan.co.id/v2/read/1315214047/76633/Jambu-air-citra-berbadan-jumbo-nan-aduhai-1
http://peluangusaha.kontan.co.id/v2/read/peluangusaha/76726/Jambu-air-citra-Budidayanya-mudah-bisa-panen-tiga-kali-setahun-2