Showing posts with label Teknologi Informasi. Show all posts
Showing posts with label Teknologi Informasi. Show all posts

Monday, December 10, 2012

5 Langkah Memilih Software Bisnis

Hits : 3996 PDF Cetak E-mail
Minggu, 09 Desember 2012 06:26
sofware_bizMemilih software bisnis yang tepat turut menyumbang keberhasilan bisnis Anda. Software bisnis melakukan banyak proses dengan otomatis sehingga sangat menghemat waktu dan efisien. Anda harus menentukan jenis software apa yang tepat bagi bisnis Anda seperti akunting, manajemen proyek, sumber daya manusia, pembayaran gaji, prosesor kata, atau alat pengendali inventaris. Pilihan software Anda juga harus mempertimbangkan jenis bisnis apa yang Anda jalankan. Untungnya kini banyak cara untuk meneliti dan menentukan software terbaik bagi Anda.

Berikut langkah-langkah yang bisa Anda tempuh untuk mendapatkan software yang Anda butuhkan:

1. Ketahui apa saja yang Anda perlu lakukan dengan software bisnis

Apakah Anda seorang penulis lepas yang membutuhkan software pencatatan penyerahan naskah? Atau Anda seorang pengusaha ritel dan membutuhkan sebuah software untuk mencatat inventaris Anda? Ada berbagai macam kebutuhan khusus seperti dua contoh tadi. Namun ada juga yang hanya menyentuh kebutuhan dasar saja. Jika Anda adalah seorang staf, Anda harus membeli software pembayaran gaji. Untuk pencatatan standar bisa digunakan software pengolah kata yang bisa fleksibel untuk berbagai tujuan pemakaian, dari menulis proposal hingga korespondensi atau bahkan iklan.

2. Teliti software sebelum membeli

Baca semua hal yang bisa Anda baca tentang software tersebut. Anda bisa mencari secara online atau mengunjungi toko buku, membaca jurnal ekonomi dan perdagangan. atau bahkan menelusuri surat kabar. Ada begitu banyak informasi tentang paket software bisnis. Temukan yang tersedia di toko terdekat dan pastikan harganya sesuai anggaran Anda.

3. Kunjungi toko software

Pergilah ke toko pengecer software dan cobalah untuk merasakan pengalaman menggunakan software yang Anda inginkan tersebut. Anda biasanya akan diberikan kesempatan untuk berbicara dengan staf penjualan toko tentang berbagai pilihan software yang tersedia.

4. Mendaftar dalam kursus

Banyak lembaga kursus yang bisa mengajari Anda bagaimana menggunakan sebuah software dengan baik dan efisien dalam waktu yang lebih singkat daripada harus belajar sendiri.

5. Buat keputusan

Kini Anda memiliki pengetahuan dan pengalaman langsung menggunakan software tersebut, maka Anda sudah siap untuk menjatuhkan pilihan. (*/Akhlis)


http://ciputraentrepreneurship.com/tips-bisnis/179-teknologi-informasi/7406-5-langkah-memilih-software-bisnis.html

Monday, March 12, 2012

Bagaimana Entrepreneur Gunakan Social Media dengan Profesional?

Views :340 Times PDF Cetak E-mail
Senin, 12 Maret 2012 10:16
social-network-iconsPengetahuan akan berbagai macam hal terkait bisnis yang ia jalankan adalah sebuah aturan tak tertulis yang harus dipahami seorang entrepreneur. Social media atau jejaring sosial makin meluas penggunaannya di tanah air. Banyak orang mulai melirik potensinya sebagai alat untuk memasarkan dan menjual barang dan jasanya.

Entrepreneur juga tak terkecuali. Ia tertarik karena social media ternyata tak melulu hanya bisa digunakan sebagai sebuah saran untuk bergaul secara virtual. Jika ditangani dengan baik dan benar, Anda yang berprofesi sebagai entrepreneur bisa meningkatkan personal brand Anda, membangun keahlian dan nama baik, atau menunjukkan kepiawaian dalam ranah digital.

Bagi para entrepreneur, cobalah untuk berkomitmen menggunakan jejaring sosial dengan alasan profesional dan bersikaplah proaktif mengenai pengelolaan kegiatan dan citra yang Anda tampilkan di social media.

Pertimbangkan juga apa yang akan didapatkan oleh kolega dan mitra usaha potensial Anda. Tentu Anda tak akan menghendaki melihat foto Anda bersama hewan peliharaan atau yang lebih memalukan lagi.

Pastikan Anda sebagai entrepreneur, memiliki sebuah profil di LinkedIn dengan profil yang lengkap. Cobalah untuk berbagi di Twitter dan membangun jejaring bisnis di sana dengan melakukan percakapan yang berguna dan berbobot. Bahaslah konten yang Anda kuasai dengan baik.

Anda juga bisa menulis blog mengenai bidang kepakaran Anda. Dengan demikian menciptakan konten akan membuat orang untuk mengenal Anda lebih baik. Saat orang meneruskan, meretweet , atau menyebarkan ide dan opini Anda di jejaring sosial, akan ada lebih banyak orang yang mendengar dan mengetahui nama dan keahlian Anda. Ini bisa membantu Anda untuk mengukuhkan reputasi sebagai seorang pakar. (*AP)

Sumber:
http://www.ciputraentrepreneurship.com/tips-bisnis/179-teknologi-informasi/15164-bagaimana-entrepreneur-gunakan-social-media-dengan-profesional.html

Wednesday, December 28, 2011

Solusi Teknologi untuk Pelaku Bisnis Kecil di 2012


Views :641 Times PDF Cetak E-mail
Rabu, 28 Desember 2011 11:44
solusi-teknologiTahun 2012 disinyalir akan memberi persaingan yang cukup ketat di antara para pelaku bisnis kecil. Meningkatnya pengguna internet di tanah air juga turut berpengaruh dalam menciptakan pemain-pemain baru yang berujung pada inovasi serta persaingan.

Bagi pelaku bisnis kecil yang telah cukup lama terjun dalam dunia wirausaha, disarankan untuk mengevaluasi strategi teknologi yang sudah diterapkannya di tahun ini untuk mencapai pertumbuhan bisnis yang lebih baik di tahun depan. Dan bagi pemain lama atau baru yang belum menyentuh teknologi digital, ada baiknya untuk menetapkan sejumlah strategi berbasis internet demi kemajuan bisnisnya.

Berikut lima tips seputar teknologi yang dapat menjadi solusi bagi pelaku bisnis kecil untuk mencapai efisiensi serta pertumbuhan usaha dan lolos dalam persaingan bisnis di tahun 2012.

#1. Investasi pada situs bisnis
Berdasarkan riset, hampir sebagian besar pelaku bisnis kecil belum mempunyai website. Kondisi ini bisa menjadi rintangan besar bagi pelaku bisnis dalam menghadapi persaingan. Segera ciptakan website untuk menyambut persaingan di tahun depan demi kredibilitas serta pertumbuhan usaha.
#2. Perkuat sokongan teknologi
Menyewa jasa konsultan IT yang berpengalaman memang membutuhkan biaya besar tapi tanpa keberadaan orang yang benar-benar kompeten di bidangnya, bisnis yang dirintis mungkin bisa tenggelam oleh kuatnya arus persaingan. Menyewa jasa konsultan IT di 2012 dapat menjadi pertimbangan utama demi kemajuan usaha.

#3. Lakukan backup data secara rutin
Manajemen data yang kacau bisa berdampak pada biaya pengeluaran bagi sejumlah bisnis. Namun bagi bisnis kecil, kehilangan data atau dokumen bisa berimbas pada kehancuran. Karenanya, lakukan backup data secara rutin per bulan atau bahkan per minggu dengan menyimpan dokumen penting tersebut dalam CD, hard disk (piranti keras) eksternal atau dipercayakan kepada jasa backup online.

#4. Manfaatkan media sosial
Media sosial termasuk perangkat digital murah yang memiliki banyak kegunaan dalam perkembangan bisnis. Selain bisa jangkau konsumen di penjuru dunia secara personal dengan biaya terjangkau, media sosial juga bisa dijadikan solusi efektif dan efisien bagi pelaku usaha kecil untuk mempromosikan atau memperkenalkan produk serta memperkuat brand.

#5. Manfaatkan teknologi konferensi
Daripada menghabiskan biaya untuk melakukan perjalanan bisnis ke luar kota, lebih efisien memanfaatkan teknologi video conference untuk adakan meeting atau presentasi di hadapan klien, konsumen atau pegawai.

Nah, selamat menyongsong tahun 2012! (*/ely)

Sumber:
http://ciputraentrepreneurship.com/tips-bisnis/179-teknologi-informasi/13766-solusi-teknologi-untuk-pelaku-bisnis-kecil-di-2012.html

Friday, December 23, 2011

Renungan Entrepreneur di Era Teknologi


Views :589 Times PDF Cetak E-mail
Jumat, 23 Desember 2011 13:42
ti_eraDalam era teknologi saat ini, siapa pun bisa dengan mudah mengalami ‘banjir’ informasi. Fenomena ini sangat mudah ditemui karena arus informasi yang sangat deras dan tak terbendung.

Entrepreneur juga tidak luput dari banjir informasi ini. Volume data yang dapat kita akses seakan-akan tak henti-hentinya mengalir tiap detiknya, dalam kuantitas yang tak terduga sebelumnya. Ini menciptakan sebuah jurang pemisah antara data dan makna. Jurang tersebut membuat entrepreneur merasa kewalahan untuk dapat membuat keputusan secara efisien dan tepat. Manusia, tak terkecuali entrepreneur, membutuhkan waktu untuk berpikir dan berkontemplasi.

Pada sisi lain, beberapa orang terlalu berfokus pada kontemplasi sehingga malah tidak sempat membuat tindakan. Berbuat tanpa berpikir dan berpikir tanpa berbuat merupakan dua hal yang menjadi jebakan mematikan bagi sebuah bisnis baru. Tantangannya ialah untuk menemukan titik keseimbangan yang sempurna dan membuat pemikiran reflektif dan mendalam.

Dalam bukunya “Consider”, Daniel Patrick Forrester mengemukakan mengenai sejumlah entrepreneur kelas dunia yang meluangkan sedikit waktu mereka untuk berpikir dengan tenang. Mereka tinggalkan kantor dan pekerjaan untuk kemudian menikmati ketenangan dalam sebuah pondok di tengah hutan. Sementara yang lain cukup meluangkan waktu untuk merenung di pagi hari yang tenang untuk berpikir sendirian tanpa gangguan, meskipun mereka memiliki segudang aktivitas padat.

Lalu apakah masalah dan pertanyaan yang menjadi bahan renungan entrepreneur-entrepreneur hebat ini? Inilah rangkuman dari pengamatan Forrester:

* Kendali yang kita berikanSementara banyak dari kita yang tidak bisa menghentikan aliran data dan mencegah pembuatan konten yang memenuhi sekitar kita, kita dapat mengendalikan bagaimana kita menyusun momen yang membangkitkan dan tanggapan kita. Sebagai pemimpin, kendali yang diberikan dalam  pemecahan masalah memberikan panduan umum bagi semua komponen sebuah perusahaan.

* Tingkat perhatian yang diberikanKini kita bekerja dalam keadaan memberikan  sebagian perhatian secara terus menerus pada semua masalah di hadapan kita. Sementara tidak semua hal patut untuk dipikirkan secara mendalam, ternyata masalah yang kurang patut mendapat pemikiran mendalam juga diberikan perhatian layaknya hal yang pantas mendapat perhatian lebih.

* Jenis komunikasi yang digunakanJika email atau pesan pendek ialah cara Anda semula berinteraksi, Anda telah menyatakan bagaimana kedudukan komunikasi dalam perusahaan Anda. Saat teknologi memungkinkan kita untuk berkomunikasi lebih cepat dan praktis, ada kalanya makna dan empati dari interaksi tatap muka menjadi hilang dan menurun maknanya.

* Nilai dari dialog pendek yang terputusDalam banyak cara, pemecahan masalah telah menyusut menjadi serangkaian dialog yang terjadi di sepanjang transmisi digital dengan interaksi tatap muka yang kadang kala terjadi.

* Waktu yang terisi penuh dengan pikiranDengan banyaknya waktu yang terisi oleh penggunaan teknologi sekarang ini, seolah waktu menjadi prioritas terakhir. Alih-alih mengadakan pertemuan dengan orang lain, sediakan waktu untuk sebuah pertemuan dengan diri kita sendiri.

* Bercermin sebelum mengirimkan pesanSaat orang menuntut kesegeraan dari Anda, apakah Anda berpikir bagaimana orang lain menangkap pesan tersebut sebelum Anda mengirimkan sebuah pesan? Kadang kita perlu mengadakan perbaikan atau editing pada pesan tersebut saat kita menyadari konsekuensinya. Apakah sebuah pesan elektronik merupakan sebuah jawaban?

Waktu berpikir dan refleksi tidak hanya bisa dilakukan saat kita sendirian. Usaha baru pasti akan terlibat dalam wacana dan dialog melalui pertemuan-pertemuan. Anda perlu memastikan wacana yang efektif dalam pertemuan dengan memastikan bahwa tidak akan ada konsekuensi negatif untuk berbeda pendapat dan berdebat. Jika tidak, pertemuan hanya akan terasa sebagai sebuah kegiatan yang membuang-buang waktu saja.

Saat teknologi dan internet memungkinkan kita untuk berbuat dan bereaksi dengan lebih cepat daripada sebelumnya, Anda harus mempertimbangkan apa saja konsekuensinya secara mendalam sebelum benar-benar merealisasikannya. Di samping memecahkan masalah dengan cara yang benar, pastikan Anda memecahkan masalah yang benar.

Sumber:
http://www.ciputraentrepreneurship.com/tips-bisnis/37-advise/13661-renungan-entrepreneur-di-era-teknologi.html

Friday, December 2, 2011

Irfan Affandi, Sang Pemilik Smart Print

Views :136 Times PDF Cetak E-mail
Jumat, 02 Desember 2011 10:54
Belakangan ini kian banyak bermunculan para entrepreneur muda dalam bidang digital printing. Sepak terjang mereka menakjubkan, bahkan keberhasilannya tak jauh dengan para pengusaha yang matang pengalaman. Walaupun kerap jatuh bangun di awal, tetapi kerap kali ide dan terobosan inovatif membuat usaha mereka melambung dalam waktu singkat.

digitalAmbil contoh, Irfan Affandi, pengusaha muda pemilik Smart Print di kawasan Airtawar, Padang, Sumatra Barat. Terobosannya, usaha percetakan, advertising, merchandising dan IT solution ini menghasilkan produk berkualitas dan pelayanan yang cepat.

”Awalnya saya buka usaha ini sejak 2008 dan usai tamat kuliah. Karena saya melihat sebuah peluang yang cerah dan potensi besar dalam bidang digital printing. Apalagi, terus berkembangnya teknologi dan informasi,” kata Irfan seperti dikutip dari Padang Ekspres, baru-baru ini.

Awalnya, kata Irfan, usaha yang dijalankannya ini bekerja sama dengan sebuah merek dagang di Surabaya, Smart2Print. Namun, seiring berjalannya waktu dan beberapa hal, ia pun memtuskan mengakhiri kerja sama dengan berdiri sendiri dengan merek Smart Print di awal 2010.

Seiring berjalan waktu, sebut Irfan, banyak hal yang baru ia pelajari, pahami, dan perbaiki. Bahkan, ia melakukan berbagai inovasi serta meningkatkan kualitas produk. ”Dengan demikian, saat ini Smart Print sudah memiliki 15 karyawan, dua unit mesin digital printing 3,2 m, 1 unit roland Vp540i, 1 unit mesin Indoor 1,5 m, HP Wide Format, 1 unit Cutting Stiker, 1 unit Press Kaos, 1 cool Laminating dan mesin PIN mug,” sebut Irfan.

Dengan dukungan karyawan berpengalaman serta peralatan canggih, sebut Irfan, mereka selalu berusaha menghasilkan produk yang berkualitas dan pelayanan yang cepat.  ”Sebagai buktinya, kami mendapatkan kepercayaan dari beberapa perusahaan lokal dan nasional untuk mengerjakan kebutuhan promosi dan marketing,” kata pria berusia  29 tahun ini.

Apa keunggulan Smart Print? Irfan menyebutkan kualitas terbaik. ”Pengalaman dan keahlian yang tinggi menghasilkan pelayanan dan produk dengan kualitas tinggi, quality control pada seluruh kegiatan produksi,” terangnya.

Keunggulan lainnya adalah cepat dan harga istimewa. Dengan proses produksi yang efisien akan mendapatkan produk yang tepat pada waktunya. ”Dan, untuk hasil terbaik sesuai permintaan konsumen akan mendapatkan harga bersaing,” ujar Irfan seraya menyebutkan produk yang dilayani all about printing, computer supplier, IT Solutions dan Event Organizer.

Irfan sejak mahasiswa telah memiliki naluri bisnis. Selama kuliah, ia belajar berbisnis kecil-kecilan. Begitu tamat kuliah, naluri bisnisnya semakin terasah. ”Dari tabungan hasil bisnis ketika kuliah saya jadikan modal membuka usaha ini,” imbuhnya.

Irfan membidik digital printing karena potensial. Dengan usaha digital printing dan IT ini, membuat jaringan Irfan semakin luas. ”Coba, kalau berusaha dengan orang lain atau pegawai negeri, belum tentu memiliki akses seluas itu,” katanya seraya mengatakan ilmu bisnisnya tersebut diperolehnya ketika kuliah di administrasi Bisnis.

Sumber:
http://ciputraentrepreneurship.com/teknologi-informasi/13190-irfan-affandi-sang-pemilik-smart-print.html

Monday, November 14, 2011

Kiat Amankan Data di Komputasi Awan

Views :173 Times PDF Cetak E-mail
Minggu, 13 November 2011 15:20
cloud-computingKomputasi awan, atau cloud computing, sebuah sistem komputasi yang berbasiskan server untuk menyimpan aplikasi, data, dan seterusnya, merupakan teknologi efisien yang akan banyak digunakan di masa depan.

Namun demikian, sebelum sebuah perusahaan atau organisasi mendapatkan keuntungan dari komputasi awan, ada beberapa aspek terkait privasi dan keamanan yang perlu diperhatikan. Dikutip VIVAnews dari keterangan resmi Microsoft Indonesia, berikut ini beberapa di antaranya.

Manajemen risiko dan ketaatan
Organisasi yang mulai mengadopsi awan tetap harus bertanggung jawab untuk aspek manajemen keamanan, risiko, dan ketaatan terhadap aturan yang berlaku di industri terkait. Manajemen risiko dan ketaatan ini membutuhkan tim internal yang kuat dan transparansi proses dari penyedia jasa awan.

Manajemen akses dan identitas
Identitas bisa didapat melalui beberapa penyedia jasa awan, dan harus bersifat interoperabel antar organisasi yang berbeda, penyedia awan yang berbeda, dan berlandaskan proses yang kuat. Autentikasi yang disarankan adalah menggunakan beberapa faktor sekaligus, seperti biometrik, one time password token (seperti token BCA), kartu ID dengan chip, dan password.

Integritas Layanan
Layanan berbasis awan harus dibangun dengan landasan keamanan yang kuat, dan proses-proses operasionalnya juga harus diintegrasikan dengan manajemen keamanan di organisasi tersebut. Penyedia layanan awan harus mengikuti proses yang bisa dibuktikan, terdefinisi, dan jelas dalam mengintegrasikan keamanan dan privasi ke dalam layanannya mulai dari titik paling awal, di setiap titik di dalam siklus, sampai paling penghabisan. Selain itu manajemen keamanan dan auditing harus selaras antara penyedia awan dan pelanggan.

Integritas klienLayanan awan yang digunakan di sisi klien harus memperhatikan aspek keamanan, ketaatan, dan integritas di sisi klien. Disarankan, pengguna perlu memperkuat sistem desktop, memastikan kesehatan sistem desktop, menerapkan IT policy yang tepat, perlindungan akses jaringan dan sebagainya.

Proteksi Informasi
Layanan awan membutuhkan proses yang andal untuk melindungi informasi sebelum, selama, dan setelah transaksi. Manfaatkan klasifikasi data untuk meningkatkan kontrol terhadap data yang siap dilepas ke awan. Gunakan teknologi enkripsi dan manajemen hak informasi (IRM) sebelum data dilepas ke awan.

Menurut laporan IDC, pertumbuhan cloud computing mencapai 5 kali lebih besar dibandingkan dengan pertumbuhan model IT tradisiona yang menggunakan infrastruktur di tempat. Pada tahun 2012, layanan cloud computing akan mencakup 25 persen dari total pengeluaran anggaran IT.

Sumber:
http://www.ciputraentrepreneurship.com/tips-bisnis/179-teknologi-informasi/12745-kiat-amankan-data-di-komputasi-awan.html

Friday, November 11, 2011

Jonru, Pendiri Sekolah Menulis Online

Views :224 Times PDF Cetak E-mail
Jumat, 11 November 2011 10:40
Ide mendirikan sekolah menulis online ditemukan Jonru dalam situasi terpepet. Embrionya adalah website penulislepas.com yang selama enam tahun hanya menghasilkan Rp 500 ribu. Kini puluhan penulis profesional telah dihasilkan.

jonru1111Hari merambat sore. Namun, pria berperawakan sedang dengan sebaris jenggot di dagu itu masih belum terlihat akan mengakhiri pekerjaannya. Pandangan matanya tampak fokus ke arah laptop. Tangannya asyik memainkan mouse.

Bersama seorang teman, Jonru tengah mematangkan format diskusi "kiat cepat menjadi penulis laris" yang akan diselenggarakan pada 26 November mendatang. Kebetulan Jonru menjadi pembicara.  Dia akan dipanel dengan Arief Muhammad, penulis muda yang tengah naik daun berkat debut buku pertamanya: Poconggg Jadi Pocong. Hanya dalam setengah tahun, buku yang menyasar segmen remaja itu menjadi best seller dengan penjualan spektakuler menembus 200 ribu eksemplar.

Bagi Jonru, berbicara mengenai teknik dan seni tulis-menulis di hadapan publik bukan hal baru. Namanya sudah cukup familier, terutama di kalangan komunitas penulis. Jonru-lah pendiri website penulislepas.com yang mulai eksis awal 2001. Belakangan, melalui website itu, dia mengembangkan sekolah menulis online atau SMO.

"SMO ini layanan belajar menulis lewat internet yang pertama di Indonesia," kata Jonru bangga. "penulislepas.com juga menjadi website penulis terbesar dengan pengunjung paling banyak," imbuhnya.

Sudah lama Jonru tertarik dengan aktivitas penulisan. Selama menjadi mahasiswa akuntansi di Fakultas Ekonomi Universitas Diponegoro, Semarang, Jonru yang lulus pada 1998 itu aktif di pers kampus. Banyak tulisannya, terutama cerpen, yang dimuat di koran dan majalah. Bahkan, pada 2005, dua buku Jonru sukses beredar di pasaran. Salah satu di antaranya adalah kumpulan cerpen Cowok di Seberang Jendela yang diterbitkan Lingkar Pena Publishing House dan novel Cinta Tak Terlerai diterbitkan Mizan. 

Perkenalannya dengan desain web dan grafis dimulai awal 2000 di Jakarta. Kebetulan dia diterima menjadi content editor untuk sebuah perusahaan internet service provider. Di sela-sela rutinitas kerja, Jonru "mencuri ilmu" untuk membuat web yang menarik.

"Saya pernah bermimpi punya media sendiri. Tapi, untu media cetak modalnya kan besar sekali. Akhirnya, lewat internet, saya bikin portal sendiri. Makanya, lahirlah penulislepas.com," ceritanya.

Lewat website, Jonru sekaligus merusaha mempromosikan bisnis pembuatan company profile. Cuma karena minim pengalaman dan belum punya portofolio yang cukup meyakinkan, bisnis yang dirintisnya itu tak berhasil meraih konsumen. Meski demikian, website penulislepas.com tetap bertahan. Salah satu di antaranya karena Jonru sendiri yang rajin mem-posting tulisannya ke web tersebut.

Sejak 2003, Jonru terpikir untuk menampung tulisan dari penulis lain. Kriterianya tak terlalu ketat. Yang penting "bisa dibaca". Temanya juga boleh apa saja, mulai soal politik hingga tip-tip unik. Hingga beberapa tahun, Jonru sempat kebanjiran artikel. Milis yang dibuatnya juga ramai dikunjungi. "Saking larisnya, sehari bisa sampai 20 orang yang kirim tulisan," ungkap Jonru.

Ketika blog sudah mewabah, artikel yang diterima Jonru terus menurun. "Sekitar 2010, dalam seminggu, paling dua tulisan yang masuk," kata pria kelahiran Kabanjahe, Sumatera Utara, 7 Desember 1970, itu.

Setelah tujuh tahun bekerja sebagai content editor di dua perusahaan yang berbeda, Jonru mencapai puncak rasa jenuhnya. Sebenarnya sudah tiga tahun rasa bosan itu menghantui Jonru. Namun, sang istri, Alifia Rasyida, belum merestui Jonru berhenti bekerja sebagai "orang kantoran". Jonru akhirnya mengalah. "Istri bilang jangan sekarang," kenang ayah tiga anak itu.

Menginjak 2007, Jonru semakin malas bekerja. Bukan gaji yang menjadi persoalan. Jonru pada dasarnya tidak suka bekerja untuk orang lain. Selain itu, pekerjaan sebagai content editor terasa monoton. "Kebanyakan tinggal copy paste artikel yang terkait perusahaan dan memasangnya di portal. Kalaupun ada tulisan sendiri, hanya sesekali. Keterampilan menjadi tidak optimal. Tidak ada tantangan," ceritanya.

Kinerja Jonru di perusahaan menurun drastis. Bahkan, dia sudah menerima surat peringatan dua kali. "Kalau tetap bertahan, paling September 2007 sudah di PHK. Nah, daripada di PHK, lebih baik keluar," ujarnya, lantas tersenyum kecut. Keberanian Jonru meninggalkan pekerjaannya semakin termotivasi setelah dia mendapat tawaran dari seorang rekannya untuk menggarap proyek pembuatan website Departemen Agama.

Merasa fee yang ditawarkan terbilang lumayan besar, Jonru memutuskan keluar dari perusahaannya. Hari bersejarah itu adalah 19 Maret 2007. Tapi, malang buat Jonru. Proyek yang dijanjikan tak kunjung konkret. Sementara website penulislepas.com belum memberinya income yang signifikan.

Selama tujuh tahun berdiri baru sekali ada yang memasang iklan. Harganya pun hanya Rp 500 ribu. Oleh Jonru, uang itu lantas dibagikan ke sejumlah penulis yang rutin mengirimkan tulisan ke website.

Tapi, Jonru tak mengeluh. Meski sempat bingung, dia tetap optimistis. Di tengah situasi yang terpepet dan uang tabungan menipis, Jonru mendapat ide mendirikan sekolah menulis online (SMO). Selama mengelola website penulislepas.com, kata Jonru, banyak orang mengeluh mengapa latihan penulisan kebanyakan di Jakarta. Dia lantas terpikir untuk membuat pelatihan penulisan yang bisa menjangkau semua orang.

"Sewaktu mulai dibuka pada Agustus 2007, yang daftar 35 orang. Karena masih baru dan belum tahu bakal laku, saya hanya mematok tarif Rp 95 ribu per bulan untuk setiap orang," tuturnya.

Durasi pelatihan sekaligus "pendampingan" dilakukan selama enam bulan. Kurikulum pelatihan dibuat berdasar pengalaman Jonru sendiri yang pernah mengisi sejumlah pelatihan menulis.

"Saya kirim silabusnya lewat e-mail. Kemudian, peserta pelatihan harus membuat tulisan yang dikonsultasikan kepada saya secara online," tuturnya.

Pada 2008, buku Jonru yang berjudul Menerbitkan Buku Itu Gampang dicetak penerbit Tiga Serangkai. Seperti judul buku itu, puluhan alumnus SMO yang "berguru" kepada Jonru juga sukses menerbitkan buku. Sebut saja Ning Harmanto, pendiri PT Mahkota Dewa, yang telah menulis 18 buku mengenai herbal. "Beliau angkatan pertama SMO tahun 2007," kata Jonru.

Ada juga Hartati Nur Wijaya, orang Indonesia yang tinggal di Yunani. Hingga sekarang, menurut Jonru, Hartati telah menerbitkan enam buku. Ada soal perkawinan antarbangsa, cara mencegah penyakit kanker, hingga cara mencegah selingkuh dan cerai. Sedangkan Syasya Azisya melahirkan buku berjudul Rich Mom, Poor Mom.

"Buku Faiz Yusuf yang berjudul Rahasia Jadi Entrepreneur Muda juga langsung best seller," ujar Jonru yang baru saja merilis buku keempatnya, Cara Dahsyat Menjadi Penulis Hebat.

Kerja keras dan konsistensi Jonru kini mulai membuahkan hasil. Sejak awal 2011, SMO resmi melebur ke Manajemen Oxford Course Indonesia, sebuah lembaga penyelenggara kursus bahasa Inggris pertama di Indonesia. SMO lantas berubah nama menjadi Writers Academy dan Jonru langsung dipercaya menjadi CEO.

Tapi, apa hubungan lembaga bahasa Inggris dengan pelatihan penulisan" Jonru menjelaskan, Bambang Marsono, pendiri Manajemen Oxford Course Indonesia, memang memiliki passion di bidang pendidikan. Semua usahanya bahkan bergerak di bidang itu. Ketika mendengar kiprah SMO, Bambang merasa tertarik. "Kapan lagi bisa bekerja sama dengan perusahaan besar. Maka, jadilah," kata Jonru, lantas tertawa lepas.

Sekarang konsep website penulislepas.com telah dirombak. Kalau dulu tulisan apa saja bisa masuk, kini temanya khusus terkait penulisan saja. Konstributor tulisan juga dibatasi hanya untuk alumni SMO dan Writers Academy yang sudah menerbitkan buku. "Sebagai kompensasi, saya beri keleluasan kalau mau promosi bukunya, tidak bayar," ujarnya.

Dengan berubah menjadi Writers Academy, fokus Jonru sekarang adalah kelas tatap muka. "Sekarang saya tidak bingung tempat lagi. Saya bisa menggunakan cabang Oxford Course se-Indonesia."

Kelas online tetap dibuka, namun bukan lagi prioritas. Apalagi, pesaing pelatihan menulis secara online sudah semakin banyak. Di lain sisi, orang yang ingin belajar menulis secara online terus berkurang. "Banyak alumni SMO yang sekarang juga mendirikan bisnis yang sama," kata Jonru.

Sejak SMO berubah nama menjadi Writers Academy, Jonru sudah mengadakan empat angkatan pelatihan menulis. Peminatnya lumayan banyak. Untuk kelas pemula, tarifnya Rp 495 ribu. "Sementara pelatihannya masih di Jakarta. Jangka panjang se-Indonesia," ujarnya. (*/jpnn)

Sumber:
http://ciputraentrepreneurship.com/teknologi-informasi/12688-jonru-pendiri-sekolah-menulis-online.html

Tuesday, October 18, 2011

Dengan Teknologi, Kayla Barnes Sukses Berbisnis PR

Dengan Teknologi, Kayla Barnes Sukses Berbisnis PR Views :113 Times PDF Cetak E-mail
Selasa, 18 Oktober 2011 11:00
Gadis yang baru berusia 21 tahun ini memulai debut berbisnisnya tiga tahun lalu. Perusahaan miliknya bergerak di bidang public relations (PR). Dengan cerdiknya, ia menangkap peluang dari sejumlah kebutuhan berbasis media dan iklan video (online) di kawasan Cleveland dan Lorain County, Amerika Serikat. Berawal dari segelintir klien dan memasarkan dengan sistem “dari-mulut-ke-mulut”, gadis berambut pirang panjang ini sukses memiliki 12 klien besar dan membuka cabang di Malibu, New York serta Chicago.

Kayla-BarnesKayla Barnes adalah nama entrepreneur muda tersebut. Mahasiswi Lorain County Community College ini memanfaatkan teknologi yang mumpuni dalam mengelola bisnisnya. Tak lama setelah berkecimpung dengan dunia PR, Kayla tertarik membuat website. Tapi, ia tidak merasa puas dengan tampilan website-nya tersebut lalu bereksperimen dengan cara mengutak-atiknya sedemikian rupa hingga pada akhirnya ia justru meraih pujian dari hasil uji cobanya itu. Alhasil, sejumlah tawaran untuk membuat website diterima tak lama sesudahnya. Berbuntut dari situ, Kayla kemudian terlihat sibuk menangani pembuatan lima website dan juga menciptakan beberapa aplikasi di telepon seluler.

Baginya, teknologi menyimpan segudang peluang yang sangat besar untuk memeroleh profit. Ia selalu menekankan kepada para kliennya untuk menerapkan marketing berdasarkan pada perkembangan zaman, misalnya dengan memanfaatkan media sosial dalam meningkatkan bisnis. Kayla optimis dalam beberapa tahun ke depan, media sosial tetap berperan dalam kemajuan bisnis.

Walau online telah terbukti mendatangkan pendapatan baginya namun media cetak tetap disukainya. “Saya tetap menyukai media cetak. Menurut saya, majalah sangat hebat, tapi majalah online lebih ramah lingkungan, lebih berkelanjutan dan bisa menjaga planet dengan tak menebang pohon untuk menghasilkan kertas,” jelas Kayla kepada situs The Chronicle-Telegram seperti dikutip oleh CiputraEntrepreneurship.com. Kayla menambahkan, “Marketing tradisional memang belum punah namun Anda harus melakukan kombinasi yang sempurna (yakni memadukannya dengan teknologi) jika ingin menjadi nomor satu.”

Klien-klien Kayla sebagian besar adalah koki ternama yang memiliki agenda rutin menyuguhkan hidangan di acara-acara amal yang kebanyakan diadakan oleh selebriti. Ia menawarkan jasa public relations yang sangat luas kepada klien-kliennya, mulai dari melahirkan brand, mempopulerkan brand, menciptakan ide inovatif hingga mengeksekusinya. Ia juga membuat profil perusahaan dengan pendekatan publikasi yang berbeda, memanfaatkan publikasi melalui web, berusaha membuat kliennya dikenal khalayak luas, memikirkan strategi penjualan produk klien, merencanakan event, mendesain web, menawarkan konsultasi mengenai media sosial, memproduksi video untuk kepentingan komersial dan lain sebagainya.

Perempuan yang hobi berkunjung ke restoran ini mengaku bahwa menjadi entrepreneur muda, terutama saat memulainya di usia 18 tahun seperti dirinya, tidaklah mudah. Tetapi ketika ia telah hanyut di dalamnya dan melakukan hal-hal yang memang menjadi passion-nya, baginya semua berubah menjadi menyenangkan dan iapun merasa ingin terus melakukannya.  (*/ely)

Sumber:
http://ciputraentrepreneurship.com/entrepreneur/internasional/wanita/12049-dengan-teknologi-kayla-barnes-sukses-berbisnis-pr.html

Thursday, September 22, 2011

Investasi di bisnis TI tak pernah mati

Industri

TEKNOLOGI INFORMASI (TI)

Kamis, 22 September 2011 | 07:30  oleh Yudo Widiyanto
BISNIS TI
Investasi di bisnis TI tak pernah mati

JAKARTA. Investasi di bidang teknologi informasi dan komunikasi atau information and communication technologies (ICT) tumbuh pesat.
Berdasarkan perkiraan Kementerian Koordinator Perekonomian, investasi ICT sampai tahun 2014 akan mencapai Rp 30,2 triliun. Nilai investasi ini merupakan komitmen dari 11 perusahaan swasta ditambah dua instansi pemerintah yang menggelar proyek pembangunan layanan publik berjenis ICT.
Eddy Satria, Deputy Asisstant for ICT and Utility Kemenko Perekonomian menuturkan, pengusaha mengungkapkan komitmen investasi tersebut dalam rapat kerja untuk program Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Indonesia (MP3I) baru-baru ini. "Sudah ada komitmen, sekalipun baru segelintir perusahaan," katanya, Rabu (21/9).
Sebanyak 11 perusahaan terdiri dari perusahaan operator telekomunikasi, penyelenggara jasa jaringan internet, dan produsen atau vendor perangkat telekomunikasi. Mereka akan menanamkan investasi berupa pembangunan jaringan backbone fiber optik, jaringan base transceiver station (BTS), peluncuran satelit, hingga ekspansi pabrik sampai tahun 2014.
Ambil contoh, PT Telekomunikasi Tbk (Telkom) berkomitmen berinvestasi sebesar Rp 21 triliun. Badan Usaha Milik Negara (BUMN) tersebut akan membangun jaringan backbone fiber optik. Sedangkan anak usahanya, PT Telekomunikasi Seluler (Telkomsel) mengajukan komitmen sebesar Rp 2 triliun untuk pembangunan sistem broadband city di 40 kota.
Sedangkan vendor perangkat seperti PT Xirka Dama-Huawei berkomitmen sebesar Rp 350 milliar untuk ekspansi pabrik perangkat bagi operator telekomunikasi atau dikenal dengan nama base station. Perusahaan juga akan mengembangkan perangkat yang dipakai pelanggan atau customer premises equipment (CPE). Selain itu, ada PT Industri Telekomunikasi Indonesia (Inti) yang komitmen investasi Rp 5 triliun untuk membangun perangkat BTS.
Eddy menuturkan, selain komitmen investasi, Kementerian Koordinasi Perekonomian juga menerima laporan investasi yang sedang berjalan (on going) pada tahun 2011. Nilai investasi on going tahun ini mencapai Rp 6,2 triliun. "Kami berharap masih tambahan laporan perusahaan, karena beberapa masih merahasiakan," tambahnya.
Target menguasai pasar
Sylvia Sumarlin, Direktur Utama Xirka menuturkan, perusahaannya tergerak untuk menanamkan modalnya di Indonesia lantaran melihat pasar ICT Indonesia yang masih sangat besar. Hal ini dilihat dari pertumbuhan pengguna internet. "Bagi kami, Indonesia merupakan lahan yang sangat potensial dalam berbisnis," katanya.
Xirka tengah menyiapkan pabrik dengan kapasitas produksi untuk 5.000 perangkat base station dan 1 juta perangkat CPE teknologi internet broadband WiMax 802.16e dan WiMax 802.16d. "Target kami menguasai 30% pasar hingga 2014," katanya.
Namun, Irfan Setiaputra, Presiden Direktur PT Inti, berpendapat, sekalipun pasar masih terbuka lebar, bisnis industri manufaktur khusus perangkat masih layu. Pasalnya, pasar yang terbuka menjadikan vendor-vendor asing bebas merangsek pasar dalam negeri. "Impor handset saja sampai 30 juta pada tahun 2010, jadi harus ada peningkatan daya saing," katanya.
Sumber:
http://industri.kontan.co.id/v2/read/industri/78003/Investasi-di-bisnis-TI-tak-pernah-mati

Wednesday, September 14, 2011

Achmad Zaky, Raup Untung Lewat Bisnis TI


PDF Cetak E-mail
Selasa, 13 September 2011 10:57
Bagi sebagian orang, berurusan dengan teknologi membuat kepala jadi pusing. Namun, bagi sebagian orang lagi, teknologi bisa menjadi hal yang sangat menyenangkan, bahkan menguntungkan.

zaky0911Cerdas dan berbakat. Itulah Achmad Zaky. Pria berusia 24 tahun ini memutuskan untuk menggeluti bisnis di bidang teknologi informasi (TI). Zaky mengaku mempunyai hobi dengan apapun yang berhubungan dengan TI sejak masih kuliah di Institut Teknologi Bandung (ITB).

Dengan modal awal sekira Rp20 juta, lalu Zaky mendirikan sebuah perusahaan software developer SMS di Bandung pada 2006, yakni Deft Technology. Sebagai seorang pebisnis pemula, omzet yang didapatkannya bisa dibilang cukup besar, yakni sekira Rp15 juta untuk satu produk perangkat lunak. Pada saat itu, biasanya Zaky menangani enam proyek dalam satu tahun.

Setelah lulus kuliah pada 2008, Zaky memutuskan untuk meneruskan bisnisnya di Jakarta. Pasalnya, kata dia, potensi pasar di Jakarta jauh lebih besar daripada Bandung. Sesampainya di Jakarta, perjalanan yang dilalui Zaky tidak semulus seperti apa yang diharapkan. Bahkan, Zaky sempat ditolak beberapa klien ketika menawarkan proposal bisnis.

Namun, Zaky tidak langsung putus asa. Lambat laun, bisnisnya terus berkembang. Pada saat ini, perusahaan yang dijalankan Zaky berganti nama menjadi Suitmedia. Zaky lantas mengajak dua temannya, Nugroho dan Fajrin, untuk ikut bergabung.

"Mereka adalah teman baik saya dan mahasiswa terbaik pula di angkatan saya waktu itu, jadi saya ajak bergabung,” jelas Zaky ketika ditemui di kantornya di bilangan Mampang Prapatan, Jakarta.

PT Kreasi Online Indonesia (Suitmedia) adalah perusahaan yang memberikan berbagai jasa solusi new media seperti membuat perangkat lunak berbasis internet dan mengembangkan aplikasi Android dan BlackBerry untuk beberapa koran nasional. Selain solusi teknis, Suitmedia juga membantu perusahaan untuk menganalisis dan mengembangkan strategi.

"Akhirnya setahun lalu kita baru bikin Suitmedia dan ada badan hukumnya. Sebelumnya hanya CV. Saya memiliki rekan kerja yang sangat kompeten. Di sisi lain, saya tidak mau hanya kerja saja, tapi juga terpanggil untuk menciptakan pekerjaan dan memberikan manfaat terhadap orang lain lewat produk kami," kata Zaky.

Menurutnya, Suitmedia telah dipercaya menangani proyek dari perusahaan-perusahaan besar, sebut saja Samsung, Telkomsel, dan PT Recapital Advisors. Maka, tak pelak, omzet yang didapat Zaky pun terus bertambah. Hingga akhir tahun 2010 saja, Suitmedia mampu meraup omzet sekira Rp800 juta, dengan modal kerja sebesar Rp40 juta per bulan. Zaky pun optimistis akan mendapatkan omzet hingga Rp1 miliar pada 2011.

“Sebenarnya ada enam proyek baru, tapi tiga di antaranya dikerjakan pada 2010. Adapun tiga proyek lain dikerjakan pada 2011,” tutur Zaky.

Suitmedia merupakan induk usaha dari beberapa anak usaha seperti Bukalapak.com. Pada saat ini, jumlah pengunjung Bukalapak.com sudah mencapai 11 ribu orang dengan page view sebanyak 200 ribu.

Padahal, website yang berbasis jual beli online ini baru resmi beroperasi pada April 2010. "Kami sadar manfaat Bukalapak.com ini banyak, tapi ada komunitas khusus yang bakal merasakan manfaat lapak ini. Nah, kami excited dengan hal ini,” papar Zaky.

Untuk memperkuat fondasi bisnisnya, Zaky melakukan dua pendekatan, yakni secara eksternal atau dengan klien dan internal atau dengan sumber daya manusia (SDM) di dalam perusahaan.

“Yang penting adalah bagaimana kita memberi nilai tambah yang lebih besar. Misalnya, kami janji memberikan lima, tapi pada hasil akhirnya memberikan tujuh, jadi klien juga senang. Untuk mendapatkan klien baru, biasanya kita terus menjalin komunikasi, mulai dari obrolan secara nonformal. Di situ kita jadi tahu kebutuhan mereka. Networking penting sekali,” ujar Zaky.

Selain itu, SDM juga merupakan salah satu poin yang menjadi prioritas Zaky. Pada saat ini, Suitmedia telah mempunyai karyawan 13 orang. Ke depan, Zaky akan merekrut tambahan SDM. “Kita sangat concern untuk pengembangan SDM, maka ada konsep mentor. Jadi seorang manajer harus bisa mementor lah, tidak bisa hanya perintah ini itu,” tutur Zaky.

Menurut Zaky, ke depan, bisnis TI sangat berpotensi besar untuk berkembang. Maka, Zaky berencana melakukan beberapa hal guna memajukan usahanya, yakni mulai dari memperbaiki sistem keamanan di Bukalapak.com hingga membuat website jejaring sosial.

“Ke depan, rencananya akan mengembangkan potensi-potensi yang kami punya. Untuk saya, bisnis adalah menciptakan nilai tambah, yakni bagaimana kita menyelesaikan masalah klien. Kita pikirkan yang terbaik untuk mereka,” ujar Zaky.

Zaky mengakui, hingga saat ini, dia masih terkendala beberapa hal seperti masalah komunikasi, terutama dengan klien asing, keterbatasan SDM hingga cara mengatur pemasukan dan pengeluaran.

“Tantangan berbisnis yang terbesar ya SDM tadi, rekrutmen sangat susah. SDM kita masih amat sangat susah. Kebanyakan TI di Indonesia lebih ke teknis dan bukan hal-hal yang fundamental seperti konseptual. Saya juga harus belajar bagaimana mengatur pemasukan supaya tidak kebanjiran order,” tegas Zaky.

Tak hanya itu, Zaky juga sadar betapa pentingnya untuk belajar lebih banyak mengenai manajerial. "Maka dari itu, setiap hari Jumat, kita biasanya datangkan tokoh-tokoh yang tahu betul tentang manajerial dan kita bisa belajar bersama di situ. Kawan-kawan di sini juga bisa terpacu masing-masing untuk mengembangkan diri mereka sendiri, melalui open source contohnya. Hal ini kan sangat menarik,” papar Zaky.

Kendati demikian, Zaky memastikan, hingga saat ini dia belum pernah menerima keluhan yang serius dari klien. “Soal keluhan dari klien ya hampir tidak ada. Mungkin pernah ya, kita kerjakan suatu proyek, tapi kendalanya lebih ke komunikasi. Bukan merupakan kekecewaan konsumen pada produk akhir kami,” jelasnya.

Zaky berharap, masih banyak anak muda Indonesia lainnya yang tertarik menggeluti dunia bisnis. Potensi anak muda Indonesia besar sekali. Pesan Zaky ke mereka yang mau memulai bisnis adalah kerjakan yang mereka suka dan tekuni saja. Tekun, sabar, dan kerjakan apa yang disukai. Lantas, jangan selalu ingin hasil yang instan karena semua butuh proses,” tandas Zaky. (*/Koran Sindo)

Sumber:
http://ciputraentrepreneurship.com/teknologi-informasi/11097-achmad-zaky-raup-untung-lewat-bisnis-ti.html