Showing posts with label Tas. Show all posts
Showing posts with label Tas. Show all posts

Monday, June 25, 2012

PELUANG BISNIS TAS BERBAHAN ALAMI


Merajut usaha dari kerajinan tas alami

Merajut usaha dari kerajinan tas alami

Usaha kerajinan tas dari bahan alami, seperti serat kayu, serta rami, daun pandan, dan batok kelapa terus berkembang. Selain di dalam negeri, produk tas berbahan alami ini juga mendapat respons positif dari pasar mancanegara.

Salah satu perajin tas berbahan alami yang sudah menembus pasar ekspor adalah Eka Nadia di Sleman, Yogyakarta. Di bawah bendera usaha CV Nareswari, ia telah berhasil membuat tas dengan berbagai model.

Usaha ini telah ditekuninya sejak tiga tahun silam. Selama menjalani usaha ini, Eka lebih banyak mengekspor produknya ke luar negeri ketimbang menjualnya di dalam negeri.

Pasalnya, di luar negeri, tas buatannya dihargai lebih mahal. Selain itu, permintaan di pasar luar negeri juga lebih tinggi. Sementara di dalam negeri, peminatnya hanya terbatas di kota-kota besar, seperti Jakarta.

Bahkan, di Yogyakarta sendiri tidak begitu banyak peminatnya. Eka sendiri tidak mengekspor langsung produk tas buatannya itu. "Untuk pasar luar negeri saya menjualnya melalui agen," katanya.

Hampir semua tas yang diproduksinya merupakan tas wanita. Lantaran menggunakan bahan alami, seperti serat kayu, serta rami, daun pandan, dan batok kelapa, tas-tas buatannya memiliki bentuk dan warna yang unik.

Harga jual tas tersebut bervariasi dan tergantung ukurannya. Untuk tas berukuran 30 sentimeter (cm) x 20 cm dibanderol Rp 60.000 - Rp 80.000 per tas. Sementara ukuran 30 cm x 25 cm dan ukuran 35 cm x 25 cm dibanderol mulai Rp 85.000 - Rp 100.000 per tas.

Namun, bila dijual ke agen untuk pasar luar negeri harganya bisa lebih tinggi. Yakni, mulai Rp 130.000 - Rp 135.000 per tas.

Dalam sebulan Nadia bisa menjual hingga 500 tas. Dari penjualan sebanyak itu, sekitar 80%-nya diekspor ke sejumlah negara, seperti Brasil, Amerika Latin dan Jepang. Sementara sisanya dijual di pasar domestik.

Dari penjualan tersebut, omzet yang dikantonginya sekitar Rp 30 juta-Rp 50 juta per bulan. Adapun laba bersihnya sekitar 30%. "Tapi kalau menjual ke agen luar negeri untungnya lebih tinggi lagi," papar Nadia.

Menurutnya, kunci sukses bisnis ini harus pandai-pandai melihat tren, seperti bentuk, warna, dan detail sebuah produk. Para agen juga sangat memperhatikan tren tersebut. "Selain tren, produsen juga harus bisa membaca selera konsumen," ujarnya

Pemain lainnya adalah Ari Wibowo asal Yogyakarta. Ia memproduksi tas dengan bahan dasar serat alam, seperti kayu, pandan, dan eceng gondok. Produk tas buatannya dibanderol mulai Rp 30.000 sampai Rp 90.000 per pieces.

Konsumen utamanya adalah para wisatawan asing yang tengah melancong ke Yogyakarta. Dalam sebulan, Ari mengaku bisa menjual 50 tas, dengan omzet sekitar Rp 4 juta - Rp 5 juta.

Selain tas, ia juga memproduksi keranjang pakaian yang terbuat dari serat kayu. Produk keranjang ini dihargai lebih mahal sekitar Rp 150.000 - Rp 250.000 per keranjang.
Sumber:
http://peluangusaha.kontan.co.id/news/merajut-usaha-dari-kerajinan-tas-alami

Sunday, January 1, 2012

Amiek Indriastuti, Raup Laba dari Tas Handmade

Views :192 Times PDF Cetak E-mail
Minggu, 01 Januari 2012 07:41
Keterampilan apa pun jika diasah bisa menghasilkan rupiah. Bermula dari hobi sulam pita, Amiek Indriastuti sukses memproduksi ratusan tas dan alas kaki yang dipasarkan secara online. Deretan tas manis tertata rapi di stand UKM “Za’nis” yang menjadi salah satu peserta dalam pameran UKM bertajuk “Pasar Indonesia Goes to Mall” yang digelar Bank Mandiri di Cilandak Townsquare Jakarta beberapa waktu lalu.

tas_handmade0112Dari puluhan model tas yang dipajang, tak satu pun yang kembar atau sama. Menurut Amiek,tas ala Za’nis merupakan tas buatan tangan (handmade) yang tidak diproduksi massal seperti tas pabrikan. Satu model tas belum tentu diproduksi dalam jumlah banyak, kecuali ada pesanan khusus dari pembeli atau pelanggan. “Saya bikinnya sesuai hati dan tergantung jumlah pesanan,” ucapnya seperti dikutip dari Harian Seputar Indonesia.

Merintis usaha di Bandung sejak empat tahun lalu, Amiek berprinsip pelan, tapi pasti. Ia tak ingin lantaran mengejar omzet besar lalu memproduksi barang dalam jumlah banyak, tapi kualitasnya diragukan atau modelnya pasaran. Itulah sebabnya, ibunda dari Zahra dan Nisa ini tetap bertahan dengan tas buatan tangan yang menuntut keterampilan menyulam dan kreativitas tinggi. “Usaha ini memang berawal dari hobi sulam pita,” ungkap Amiek.

Alumnus Teknik Sipil Universitas Trisakti ini mengaku tertarik dengan keterampilan sulam-menyulam lantaran setiap hari melihat sang bunda menjahit dan menyulam pita di rumahnya di Bandung. Setelah mencoba, Amiek mendapati sulam pita yang mulai populer di Indonesia pada awal 2000 itu ternyata menyenangkan. “Untuk memperdalam, saya mencoba ikut les sulam pita di Bandung,” ungkapnya.

Sebagai permulaan, Amiek mengaplikasikan sulam pita pada pakaian. Namun, lantaran sudah banyak pemain sulam pita untuk baju, ia pun beralih ke tas. Bekerja sama dengan perajin tas, Amiek mulai memproduksi tas perdana berjenis tas pesta yang mudah digenggam tangan.

Tas-tas dengan balutan kain aneka warna itu tentu diberi pemanis sulam pita yang dikerjakan sendiri oleh tangan Amiek. “Awalnya saya cuma memasarkan ke teman-teman dan kenalan saja. Dari situ mulai banyak yang pesan,” tutur Amiek, yang memulai usaha dengan modal sekitar Rp5 juta.

Melihat respons pasar cukup positif, Amiek kian bersemangat menciptakan tas dengan beragam bentuk, model, dan fungsi.

Antara lain tas bentuk kotak, gepeng, oval, serta tas behel. Pilihan tas yang tersedia juga bisa disesuaikan kebutuhan, misalnya tas untuk ke pesta, jalan-jalan, sehari-hari, tempat kosmetik, mukena, hingga sajadah. Selain ornamen andalan sulam pita, beberapa tas juga divariasikan dengan hiasan lain seperti payet, batu-batuan, dan kristal swarovky.

Menurut Amiek, salah satu jenis tas yang sempat difavoritkan pembeli adalah tas bentuk gepeng. Saat ia mengikuti sebuah pameran kerajinan tangan, tas seharga Rp200.000- 250.000 itu laris terjual. Kini Amiek sudah memproduksi tas gepeng model kedua yang dikombinasikan dengan tas kosmetik. Adapun yang terbaru adalah tas besar model speedy serta clutch bag lipit dengan ornamen payet dan batuan tabur.

Sumber:
http://ciputraentrepreneurship.com/entrepreneur/nasional/wanita/13887-amiek-indriastuti-raup-laba-dari-tas-handmade.html

Thursday, August 25, 2011

Peluang Usaha Tas Tablet PC

PDF Cetak E-mail
Rabu, 24 Agustus 2011 11:48
men_bagPenjualan tablet PC naik pesat di berbagai belahan dunia. Dengan banyaknya pengguna tablet PC yang juga kaum Adam, penjualan tas dan sarung tablet PC pun terimbas positif. Penjualan tas tangan pria yang ringkas untuk mewadahi tablet PC dikabarkan mengalami kenaikan drastis berkat naik daunnya perangkat teknologi satu ini.

Di satu pusat perbelanjaan Lotte, persediaan tas model tukang pos (messenger bag) yang didesain khusus untuk iPad ludes dalam waktu sebulan saja terhitung sejak hari pertama dikeluarkan. Tak hanya itu, penjualan tas merek Samsonite yang menyasar kalangan pria peduli fashion pun naik hingga 20% dibandingkan 3 bulan sebelumnya, yaitu sebelum Galaxy Tab dari Samsung diluncurkan.

Jika ditelusuri lebih lanjut, sebagian besar merek-merek tas pria ini menikmati kenaikan angka penjualan dari 20 hingga 30%.

Tren tas berukuran besar nampaknya populer dahulu dan masih hingga kini. Namun, dengan bertambah banyaknya orang, terutama pria melek teknologi, yang membawa tablet PC dalam keseharian mereka, jumlah permintaan tas berukuran lebih kecil juga tidak bisa dianggap remeh. “Permintaan untuk tas-tas yang secara khusus didesain untuk tablet PC seperti iPad dan Samsung Galaxy Tab juga mengalami kenaikan,” papar seorang staf Lotte pada chosun.com. Tertarik menekuni usaha satu ini? Bisa jadi ini sumber penghasilan bagi Anda yang kreatif. (*Akhlis)

Sumber:

http://www.ciputraentrepreneurship.com/component/content/article/48-peluang-/10690-peluang-usaha-tas-tablet-pc.html
(image credit: mymenstuff.com)

Friday, August 5, 2011

Laba mendaki dari pembuatan tenda dan tas bertualang


Peluang Usaha

Jumat, 05 Agustus 2011 | 15:43  oleh Fahriyadi
PELUANG BISNIS PERLENGKAPAN BERKEMAH
Laba mendaki dari pembuatan tenda dan tas bertualang

Berkemah atau camping memang menyenangkan. Apalagi jika berkemah di alam bebas yang jauh dari kebisingan dan keramaian perkotaan. Tapi, kalau ingin berkemah, tentu harus punya keperluan berkemah, seperti tenda, kantong tidur (sleeping bag), tas ransel atau tas punggung, dan lain sebagainya.

Nah, karena peminat berkemah kian banyak, alat berkemah tentu jadi incaran. Peluang inilah yang dilirik Said Zubairi, produsen tenda dan tas ransel merek Lorr Adventure Gear di Sidoarjo, Jawa Timur.

Said melihat jumlah pehobi camping makin bertambah, terutama dari kalangan muda. "Berkemah itu dilakukan saat mendaki gunung, outbond, juga wisata pantai atau pergi ke pegunungan," kata produsen yang membuka usaha sejak 2001 silam, ini.

Nah, seiring kenaikan jumlah permintaan, mendaki pula usaha pembuatan perlengkapan kemah milik Said. Saban bulan, laki-laki berusia 31 tahun itu bisa mendapatkan pesanan pembuatan 20 tenda. Said menjual setiap tenda produksinya seharga Rp 400.000 - Rp 900.000.

Tenda made in Said adalah tenda jenis dome atau tenda kubah yang berdiri menggunakan rangka yang dibalut parasut. Said membuat tenda dome itu ber ukuran 210 centimeter (cm) x 190 cm x 120 cm yang mampu memuat 4 hingga 5 orang. "Rangka tenda menggunakan bahan fiber glass dan bahan aluminium," kata Said.

Untuk membuat satu tenda, Said bisa mengerjakannya selama dua hingga tiga hari. "Sekarang ini tenda dome lebih populer digunakan berkemah," kata Said.

Sementara produksi tas ransel Said dibanderol seharga Rp 200.000 - Rp 300.000. Saban bulan, Said bisa menjual 30 tas ransel. Agar lebih banyak variasi jualan, Said baru-baru ini juga memproduksi jaket pelampung yang dijual seharga Rp 175.000. "Pesanan pelampung memang belum terlalu banyak, karena ini produk baru," terang Said.

Dalam memasarkan produk, Said hanya mengandalkan internet. Ia bahkan tidak berencana membuka toko sendiri yang mahal operasionalnya. Apalagi, meski hanya dijual di dunia maya, Said bisa mendulang omzet Rp 30 juta per bulan.

Produsen perlengkapan kemah lainnya adalah Arnold Simanjuntak. Pemilik www.tendaku.net ini memproduksi tenda dan kantong tidur di Bandung.

Khusus tenda, Arnold memproduksi tenda dome berkapasitas dua hingga 10 orang seharga mulai dari Rp 1,5 juta-Rp 4 juta. "Untuk kantong tidur tidur harga Rp 175.000 per kantong," kata Arnold.

Arnold mulai produksi perlengkapan kemah sejak 1998. Hingga kini pria berusia 38 tahun itu mendulang omzet Rp 20 juta per bulan. Omzet itu berasal dari penjualan 10 tenda dan 10 kantong tidur. "Selain menjual, kami juga menyewakan tenda," kata Arnold.

Sumber: http://peluangusaha.kontan.co.id/v2/read/peluangusaha/74734/Laba-mendaki-dari-pembuatan-tenda-dan-tas-bertualang