KIAT MANAJEMEN: Akar Konflik Perusahaan Keluarga
Patricia Susanto
Jum'at, 10 Agustus 2012 | 15:06 WIB
--Untuk mencegah terjadinya konflik, wajib disusun kebijakan pengelolaan SDM yang adil
”Generasi pertama membangun, generasi kedua menikmati, dan generasi ketiga menghancurkan”.
Sebuah mitos yang telanjur populer jika kita berbicara tentang
perusahaan keluarga. Nyatanya, banyak perusahaan keluarga yang mampu
bertahan selama beberapa generasi.
Bahkan ada yang telah bertahan selama berabad-abad. Contohnya Hoshi
Ryokan, hotel tertua di dunia, didirikan pada 717 di Jepang. Hotel ini
telah bertahan selama 46 generasi. Ada juga Fonderia Pontificia
Marinelli, produsen bel asal Italia yang didirikan tahun 1040.
Di Indonesia, meski tidak setua Hoshi Ryokan atau Fonderia Pontificia
Marinelli, banyak perusahaan keluarga yang telah berusia lebih kurang
hampir satu abad dan bertahan hingga kini.
Keberhasilan banyak perusahaan keluarga bertahan dari generasi ke
generasi adalah berkat semangat kewirausahaan, kemampuan menyesuaikan
diri dengan perubahan lingkungan, dan kemampuan menerapkan
prinsip-prinsip manajemen modern.
Keruntuhan perusahaan keluarga justru kerap disebabkan faktor-faktor
internal. Salah satunya adalah konflik antar anggota keluarga. Konflik
yang berlarut-larut mengakibatkan terganggunya aktivitas perusahaan,
kebingungan karyawan, menurunnya moral, dan merosotnya kinerja. Guna
mencegah konflik yang berlarut–larut, antisipasi wajib dilakukan. Dalam
hal ini, perusahaan keluarga harus memahami akar terjadinya konflik.
Akar terjadinya konflik antar anggota keluarga dalam perusahaan
bermacam-macam. Yang utama adalah kegagalan menyelaraskan nilai-nilai
dan tujuan bisnis, keluarga, dan pribadi demi kemajuan perusahaan.
Kegagalan ini berdampak buruk, khususnya bagi pengelolaan sumber daya
manusia (SDM), yang merupakan aset terpenting perusahaan. Seperti
diketahui, pengelolaan sumber daya manusia (SDM) terdiri dari
kebijakan-kebijakan perekrutan dan seleksi, kompensasi, evaluasi
kinerja, pengembangan karier, dan pelatihan dan pengembangan.
Namun dalam perusahaan keluarga, faktor hubungan emosional keluarga
acapkali berpengaruh terhadap kebijakan-kebijakan tersebut. Misalnya
dalam hal perekrutan dan seleksi.
Seringkali anggota keluarga merasa berhak menjadi bagian dari
perusahaan. Mereka meminta pekerjaan dalam perusahaan tanpa
mempertimbangkan kompetensi dengan alasan anggota keluarga harus saling
membantu.
Padahal demi kemajuan perusahaan, jelas diperlukan individu-individu
yamg mumpuni, yang untuk memenuhinya seringkali harus direkrut dari luar
anggota keluarga. Perekrutan individu-individu yang tidak kompeten akan
mengancam kinerja dan bahkan kelanggengan perusahaan.
Pengelolaan SDM
Buruknya pengelolaan SDM dalam perusahaan keluarga sudah tentu
menimbulkan dampak negatif seperti pecahnya konflik, situasi kerja yang
tidak kondusif, berkembangnya aneka intrik, dan tingginya tingkat
perputaran karyawan. Oleh karenanya, untuk mencegah terjadinya konflik,
wajib disusun kebijakan pengelolaan SDM yang adil.
Kebijakan perekrutan dan seleksi, kompensasi, evaluasi kinerja,
pengembangan karier, dan pelatihan dan pengembangan harus didasarkan
pada profesionalisme dan kompetensi ketimbang hubungan keluarga.
Penyebab lain terjadinya konflik berkaitan dengan komunikasi.
Komunikasi antar anggota keluarga bersifat informal, dapat dilakukan di
mana saja dan kapan saja. Topik yang dibicarakan pun bukan hanya soal
bisnis. Jika tidak hati-hati dapat menyulut konflik, yang berimbas pada
pengelolaan bisnis perusahaan.
Masalah lainnya adalah keengganan anggota keluarga bersikap terbuka dan
jujur karena takut keharmonisan terganggu. Akibatnya masalah-masalah
yang dihadapi menjadi tidak terungkap. Saat perusahaan terjerumus
masalah, konflik pun pecah. Oleh karenanya, anggota keluarga harus
mendorong komunikasi yang terbuka dan jujur guna menghindari salah
pengertian dan tersumbatnya informasi.
Keengganan generasi senior untuk mundur juga dapat menyulut konflik.
Generasi muda seringkali kurang diberi keleluasaan mengembangkan diri.
Generasi senior masih senang mengintervensi meski telah menyatakan
mundur.
Akibatnya generasi muda menjadi tidak mandiri dan tidak nyaman. Maka
tidak heran banyak konflik pecah sepeninggal generasi senior. Agar
keluarga tetap rukun sepeninggal generasi senior, perencanaan suksesi
yang matang mutlak diperlukan.
Di banyak perusahaan keluarga, konflik justru pecah tatkala perusahaan
sedang tumbuh pesat. Saat awal didirikan, pendiri mudah meraih komitmen
anggota keluarga. Mereka sadar harus bersatu agar dapat bertahan dan
maju.
Komunikasi dan informasi mengalir tanpa distorsi. Keputusan lebih cepat
diambil karena dominannya pendiri, yang memiliki kontrol kuat terhadap
sumber daya dan terlibat dalam aktivitas keseharian perusahaan. Rasa
saling percaya antar anggota keluarga tinggi.
Jika terjadi perselisihan, pendiri sebagai sosok yang dihormati akan
langsung turun tangan. Setiap keputusannya dituruti. Sayangnya, saat
perusahaan bertumbuh, hubungan antar anggota keluarga menjadi lebih
kompleks. Kesuksesan juga menjadikan anggota keluarga terlalu percaya
diri. Mereka bahkan mulai lebih mengedepankan kepentingan pribadi
ketimbang bisnis. Akibatnya, keharmonisan anggota keluarga terganggu.
Untuk mencegah hal tersebut , perusahaan harus menyusun struktur,
sistem, dan prosedur organisasi, yang mengatur hak, kewajiban, tugas,
dan tanggung jawab masing-masing anggota keluarga.
Persaingan antar saudara kerap menjerumuskan perusahaan ke dalam
konflik yang berdarah-darah. Persaingan dapat terjadi dalam hal semisal
kekuasaan pembagian kekayaan. Makin bertambahnya anggota keluarga yang
bergabung seiring dengan tumbuhkembangnya perusahaan juga harus
diwaspadai karena berpotensi memicu persaingan yang dapat berujung pada
konflik keluarga.
Guna mengantisipasi hal ini, peran setiap anggota keluarga dalam
keluarga harus diatur. Isu-isu yang harus mendapat perhatian diantaranya
adalah pembagian pendapatan dan kepemilikan bagi masing-masing anggota
keluarga. Menelisik akar konflik, diperlukan untuk diwaspadai dan
diantisipasi demi kejayaan perusahaan sekaligus terpeliharanya kerukunan
di antara anggota keluarga.(msb)
(Foto: CEO of The Jakarta Consulting Group)
http://www.bisnis.com/articles/kiat-manajemen-akar-konflik-perusahaan-keluarga