Showing posts with label sushi. Show all posts
Showing posts with label sushi. Show all posts

Friday, December 14, 2012

Mencicipi gurihnya laba kemitraan sushi

TAWARAN KEMITRAAN

Mencicipi gurihnya laba kemitraan sushi

Masakan khas Jepang sudah lama populer di kalangan pencinta kuliner di Indonesia. Salah satunya adalah sushi. Buktinya, gerai makanan Jepang yang menjadikan sushi sebagai menu utama kini semakin gampang ditemukan, mulai di mal hingga pinggir jalan.
Lantaran banyak peminat, bisnis kuliner khas Negeri Sakura ini tak pernah sepi dari pemain baru. Salah satu pemain di bisnis ini adalah Ade Yoga yang mengusung merek usaha Yumiko Sushi di Pondok Pinang, Jakarta Selatan.
Berdiri tahun ini, Yumiko Sushi langsung menawarkan kemitraan. Lantaran baru, Yoga masih belum memiliki mitra usaha. "Tapi tahun depan, kami optimistis bisa mendapatkan mitra yang produktif dan bisa mengembangkan usaha ini," katanya.
Usaha yang mengusung konsep kios dan kafe ini menyediakan menu sushi dengan 15 varian rasa. Selain sushi, juga tersedia menu Jepang lainnya, seperti bento, sabu-sabu, dan yakiniku.
Aneka makanan Jepang ini dibanderol seharga mulai Rp 12.000 hingga Rp 30.000 per porsi. Dalam kerjasama kemitraan ini, Yumiko Sushi menawarkan dua paket investasi. Pertama, paket dengan investasi Rp 50 juta.
Paket ini belum termasuk bahan baku awal. Mitra akan mendapatkan satu unit booth dan peralatan lengkap untuk membuat sushi. "Model paket ini seperti kios cake," ujar Yoga.
Dengan paket ini, Yoga menjanjikan omzet mitra sekitar Rp 1,5 juta per hari, atau Rp 45 juta per bulan. Gerai ini hanya menjual sushi.
Kedua, paket dengan investasi Rp 75 juta. Paket ini mengusung konsep kafe. Mitra akan mendapatkan booth yang ukurannya lebih besar dan peralatan lengkap. Sama dengan paket pertama, paket ini juga belum termasuk bahan baku awal.
Namun, menu jualannya lebih lengkap. Selain sushi, juga ada bento, sabu, dan yumiko. Yoga menargetkan omzet mitra Rp 2 juta per hari, atau Rp 60 juta per bulan.
Dalam kemitraan ini, Yoga tidak memungut royalty fee. Tapi, jika mitra menyerahkan pengelolaan manajemen usahanya kepada kantor pusat, ada biaya manajemen (management fee) sebesar 5% dari omzet.
Untuk kedua paket ini, Yoga menjanjikan laba bersih mitra sebesar 20%-30% dari omzet. Dengan laba tersebut, mitra bisa balik modal dalam waktu enam bulan hingga satu tahun setelah beroperasi.
"Kami akan menambah variasi menu makanan sekali tiga bulan agar pelanggan tidak bosan," ungkapnya.
Khoerussalim Ikhsan, pengamat waralaba dari Entrepreneur College, menilai bisnis makanan Jepang masih menjanjikan di Indonesia. Makanan khas Jepang ini banyak peminat, terutama di kota-kota besar seperti Jakarta.
Penyuka makanan Jepang ini kebanyakan berasal dari masyarakat kelas menengah ke atas dan pekerja kantoran.
Namun, bila usaha ini masih baru dan belum memiliki mitra, saran Salim, sebaiknya pemilik Yumiko Sushi memperbanyak cabang sendiri dulu. "Hal itu penting untuk menguji tingkat kelayakan usaha ini," katanya.
Bila sudah terbukti sukses, usaha ini akan lebih mudah menawarkan kemitraan.     

Yumiko Sushi
Jl Haji Saikin Gg. Babsel
No 25 Pondok Pinang,
Jakarta Selatan
Hp: 0857-8167-0818

http://peluangusaha.kontan.co.id/news/mencicipi-gurihnya-laba-kemitraan-sushi

Tuesday, February 28, 2012

TAWARAN KEMITRAAN KULINER: SUSHI


Haik, bisnis sushi masih menjanjikan

Haik, bisnis sushi masih menjanjikan

Ragam makanan Jepang kini makin diminati di Indonesia. Dari sekian banyak makanan khas Jepang, salah satu menu yang sedang naik daun adalah sushi.

Menu Jepang ini cepat kondang seiring semakin banyaknya gerai-gerai makanan yang mengusung menu utama sushi. Kebanyakan gerai tersebut merupakan hasil kemitraan dengan pengusaha lokal. Selain itu, tentu ada juga hasil kerja sama dengan waralaba restoran Jepang yang masuk Indonesia.

Kendati persaingan makin ketat, peluang bisnis ini masih menjanjikan. Terbukti, gerai-gerai sushi tetap ramai diserbu pembeli. Tingginya animo konsumen itu turut mendorong penambahan jumlah mitra para pewaralaba sushi.

Nah, berikut ulasan mengenai perkembangan beberapa kemitraan sushi, seperti Sushi Don Bouri, Ikki Suhsi, dan Zushioda Japanese Street Sushi.


• Sushi Don Bouri

Pada Oktober 2010 lalu, KONTAN telah mengulas bisnis waralaba Sushi Don Bouri yang bermarkas di Semarang, Jawa Tengah. Saat itu, Sushi Don Bouri sudah memiliki empat gerai yang semuanya berada di wilayah Semarang.

Dari empat gerai itu, tiga di antaranya milik sendiri dan satu milik mitra. Kini, jumlah mitra Sushi Don Bouri sudah bertambah empat lagi. Jumlah gerai sendiri tetap tiga, sementara sisanya milik mitra.

Tidak hanya Semarang, mitranya kini sudah tersebar di Solo dan Surabaya. Pengelola Sushi Don Bouri, Natan Andres bilang, peluang untuk menambah mitra masih terbuka lebar. Bahkan, saat ini sudah ada calon mitra Sushi Don Bouri yang ingin membuka cabang di luar Pulau Jawa.

Sementara ini tawaran tersebut masih dipertimbangkan. Sebab, menurut Natan, pihaknya tidak ingin gegabah menerima tawaran itu tanpa melakukan kajian pasar terlebih dulu. Menurutnya, Sushi Don Bouri harus jeli melihat pasar dan lokasi gerai. "Kami harus melakukan survei lokasi dan pangsa pasarnya sebelum menjalin kemitraan," ujarnya.

Dalam tawaran kemitraan ini, Sushi Don Bouri belum menaikkan paket investasinya yang sebesar Rp 50 juta. Paket investasi itu berlaku untuk masa kerja sama tiga tahun. Dengan membayar sebesar itu, mitra akan mendapat perlengkapan memasak, alat makan, papan nama, dan pelatihan produk selama tiga bulan.

Dalam kerja sama ini, pungutan royalti fee sebesar Rp 1,5 juta per bulan tetap berlaku. Itu belum termasuk biaya kontrol kualitas yang rutin dijalankan. Hanya saja, untuk harga jual sudah mengalami kenaikan. Sebelumnya aneka macam sushi di gerai ini dibanderol mulai dari Rp 10.000-Rp 25.000 per porsi. Tapi, harganya saat ini sudah naik menjadi Rp 11.000 - Rp 32.000 per porsi.

Adapun dari segi menu tidak banyak mengalami perubahan. Sama seperti kemarin, gerai ini masih menawarkan menu utama berupa sushi, don bouri, dan bento.

Namun, supaya bisa lebih diterima konsumen, dilakukan beberapa inovasi. Di antaranya dengan meluncurkan menu baru. Menu utamanya sendiri tetap dipertahankan. "Menu utama ini harus tetap unik dan berkualitas supaya tetap diminati pelanggan," ujarnya tanpa menjelaskan inovasi yang dimaksud.

Yang jelas, kata Natan, dalam memasarkan produk makanan, pihaknya sangat konsen terhadap citarasa makanan tersebut.



• Ikki Sushi

Pada tahun 2011 lalu, KONTAN pernah mengulas tawaran waralaba Ikki Sushi. Kala itu, perusahaan makanan Jepang yang berdiri sejak 2008 tersebut baru memiliki tiga mitra. Seiring berjalannya waktu, mitra Ikki Sushi kini sudah semakin banyak.

Jumlah mitranya kini sebanyak 12 mitra yang tersebar di berbagai daerah, seperti Jakarta, Bandung, dan Pekanbaru. Pemilik Ikki Suhsi, Abri Mada mengatakan, peluang pasar bisnis makanan khas Jepang ini masih menjanjikan.

Pasalnya, lidah masyarakat Indonesia sudah mulai beradaptasi dengan makanan khas Jepang ini. “Saya yakin bisnis ini masih bagus dan masih akan terus berkembang," ujar Abri.

Ikki Sushi menawarkan paket waralaba dengan investasi Rp 180 juta. Itu belum termasuk biaya sewa tempat. Jadi baru sebatas franchise fee dan pengadaan kebutuhan peralatan yang diperlukan mitra.

Abri menargetkan, mitra akan meraup omzet rata-rata Rp 2 juta per hari, dengan laba bersih berkisar 20%. "Paling lama dua tahun setelah beroperasi, mitra sudah balik modal," jelas Abri.

Menurut Abri, ada beberapa hal yang perlu dilakukan supaya bisnis ini bisa eksis dan terus bertahan. Diantaranya perlu melakukan inovasi, terutama menu. Maklum, persaingan bisnis ini, belakangan mulai semakin ketat. Inovasi itu itu bisa menyangkut citarasa makanan, harga hingga pelayanan.

Abri sendiri akan mengembangkan konsep baru dalam mengelola bisnis ini. Rencananya, mulai tahun ini ia akan menerapkan konsep satu harga (one prize). Jadi, apa pun sushi-nya, Abri mematok harga hanya Rp 15.000. Ia berjanji tidak akan menurunkan kualitas makanan.

"Paling saya menurunkan margin saja. Biar margin keuntungan kecil, asal pelanggannya banyak kan sama saja,” tandasnya.

Adapun untuk menu, ia menawarkan beberapa varian menu baru, seperti bento dan ramen. Salah satu mitra Ikki yang sudah bergabung sejak tahun 2008, Alia Setyorini mengaku, perkembangan bisnisnya selama bergabung dengan Ikki Sushi lumayan memuaskan.

Ia mengaku, gerainya yang berada di Bekasi, Jawa Barat sudah memiliki banyak pelanggan. Melihat banyaknya peminat sushi, sejak 2011 lalu Alia membuka gerai baru di Bekasi Barat.

Kalau dirata-rata, omzet gerai per bulan sekitar Rp 30 juta, dengan laba mencapai 20%. Dengan omzet sebesar itu, ia mengaku sudah balik modal di tahun kedua.



• Zushioda Japanese Street Sushi

Tahun lalu, KONTAN pernah mengulas tawaran kemitraan dari Zushioda Japanese Street Sushi. Gerai makanan Jepang ini berpusat di Tebet, Jakarta Selatan. Saat KONTAN mengulas tawaran kemitraan ini tahun lalu, Zushioda belum memiliki mitra. Namun, saat ini mitranya sudah ada satu di Yogyakarta.

Selain itu, sudah ada 12 calon mitra lain yang tengah mengantre untuk bekerja sama. Penanggung jawab Zushioda, Putu Wibisana menuturkan, pihaknya memang menerapkan persyaratan yang ketat dalam memilih mitra. Sebab, bisnis makanan dari Negeri Sakura ini berbeda dengan makanan lainnya.

Seorang calon mitra, menurut dia, harus memiliki set up yang matang sebelum terjun ke dalam bisnis ini. "Jadi kami tidak mau asal menambah mitra saja," jelasnya.

Zushioda menawarkan satu paket kemitraan senilai Rp 38 juta. Biaya ini sudah termasuk peralatan, tapi persoalan tempat harus diurus sendiri oleh mitra. Zushioada menjanjikan omzet rata-rata per hari sebesar Rp 1 juta, dengan laba bersih sekitar 40%.

Dengan omzet sebesar itu, mitra bisa balik modal dalam waktu empat bulan pascaberoperasi. Menurut Putu, bisnis Sushi masih memiliki prospek yang bagus. "Banyak penggemarnya," kata dia.

Terlebih, Zushioada juga mengusung konsep gerai model kaki lima yang unik, sehingga menarik perhatian para penikmat kuliner. Harga yang ditawarkan juga masih terjangkau di kisaran Rp 12.000 - Rp 18.000.

Kendati murah, menu yang disajikan tetap harus berkualitas. "Kami punya menu andalan californian roll dan dragon roll," ujarnya.

Sumber:
http://peluangusaha.kontan.co.id/news/haik-bisnis-sushi-masih-menjanjikan/2012/02/28