TAWARAN KEMITRAAN KULINER: SOTO
Oleh Revi Yohana, Fahriyadi, Noverius Laoli - Rabu, 25 Juli 2012 | 12:45 WIB
Soto termasuk makanan yang merakyat dan tak mengenal
kasta. Penggemarnya datang dari berbagai kalangan. Maklum, bukan hanya
harganya yang bersahabat, menyantap soto pun nikmat.
Berbisnis
soto agaknya juga senikmat rasanya. Itu sebabnya, penjual soto dengan
mudah bisa kita temui. Malah, tak sedikit dari mereka yang mengembangkan
usaha dengan menawarkan kemitraan atau waralaba.
Dalam review
kali ini, KONTAN mengupas perkembangan usaha beberapa kemitraan soto,
seperti Soto Ayam Jolali, Soto Kudus Kauman, dan Soto Semarang
Songo-Songo. KONTAN pernah mengulas tawaran usaha mereka di tahun lalu.
Nah,
dari tiga pemain bisnis soto itu, ada yang kini semakin berkembang,
tapi ada pula yang stagnan dan belum berhasil menjaring mitra sama
sekali. Seperti apa persisnya perkembangan usaha mereka, berikut
ulasannya:
Soto Ayam JolaliTawaran
kemitraan yang satu ini mengusung menu soto ayam kampung khas Surabaya.
Sang pemilik, Hendro Dwi Sriyantono memulai usaha soto tahun 2006 di
Surabaya, Jawa Timur.
Pada Maret 2008 Hendro pun mulai
menawarkan kemitraan. Saat diulas KONTAN pada April 2011 lalu, Soto Ayam
Jolali telah memiliki 25 mitra yang tersebar di Surabaya, Jakarta,
Pekanbaru, dan Samarinda.
Setahun berselang, jumlah mitranya kini
sudah ada 30 mitra. "Mitra kami tetap masih banyak di Jawa. Namun kini
ada tambahan di Sumatra, Kalimantan, dan Sulawesi," ujar Hendro.
Ia
mencontohkan kini gerainya sudah ada di Duri dan Manado. Hendro
mengaku, tidak memiliki trik khusus agar mitranya bisa tetap bertumbuh.
Sebagai soto khas Surabaya, ia mengklaim, kekuatan sotonya ada pada
rasa.
Meski mitranya tersebar di berbagai daerah, Hendro selalu
mempertahankan agar citarasa kuah pada setiap sajian soto di gerai-gerai
mitra tetap sama. Untuk itu, mitra wajib membeli koya dan bumbu soto
dari pusat. Sementara bahan baku lain boleh dibeli di daerah
masing-masing.
Dari segi menu, Hendro mengaku belum ada varian
baru. Pilihan menunya ada soto ayam campur, soto ayam jeroan, dan soto
ayam kulit.
Hanya, harga jual ke konsumen mengalami kenaikan.
Bila sebelumnya dijual di kisaran Rp 5.000-Rp 7.500 per porsi, kini naik
menjadi Rp 8.000-Rp 12.000 per porsi.
Selain harga menu, tak ada
yang berubah dari tawaran Soto Ayam Jolali. Nilai paket investasinya
masih sama. Pertama, paket senilai Rp 20 juta. Dalam paket ini, mitra
mendapatkan perlengkapan, seperti gerobak, tenda ukuran 3 meter (m) x 3
m, meja, dan kursi sebanyak empat set, mangkuk soto, perlengkapan
memasak, dan bahan baku.
Kedua, paket Rp 30 juta. Mitra
mendapatkan peralatan yang sama dengan jumlah lebih banyak. Dalam
kemitraan ini, Soto Jolali juga memberikan pelatihan standar bagi mitra.
Di antaranya pelatihan meracik soto, menyajikan, melayani konsumen,
hingga pemasaran.
Biaya setiap paket sudah termasuk
franchise fee dan pembinaan selama enam tahun. Namun, mitra akan dikenakan
royalty fee sebesar 3,5% dari omzet bulanan.
Hendro
mengklaim, sebagian besar mitranya sudah balik modal saat ini.
"Rata-rata balik modal dalam waktu enam bulan," ujar Hendro.
Ia
memang menargetkan mitranya balik modal dalam rentang waktu tersebut.
Target omzetnya sebesar Rp 18 juta per bulan, dengan laba bersih 20%.
Hendro
optimistis usaha sotonya ini masih akan berkembang. Ia menargetkan,
bisa memperoleh paling tidak 10 mitra baru hingga akhir tahun ini.
Soto Kudus KaumanMengusung
cita rasa soto asal Kudus yang banyak digandrungi masyarakat, Soto
Kudus Kauman mulai menawarkan kemitraan sejak tahun 2010. Saat itu,
usaha soto ini sudah berjalan sekitar lima tahun.
Meski
mengusung merek Kudus, usaha soto ini justru dirintis di Jakarta. KONTAN
pernah mengulas tawaran kemitraan soto ini pada Juli 2011. Saat itu
Soto Kudus Kauman baru memiliki tiga mitra di Jabodetabek.
Namun,
jumlah mitranya saat ini sudah 13 mitra. "Jika dulu outlet kami hanya
di pinggiran Jakarta seperti Depok, Bogor, dan Tangerang, kini kami
sudah berada di Jakarta seperti Mampang, Duren Tiga, dan Condet," kata
Ubaidilah, pemilik Soto Kudus Kauman.
Ubaidilah bilang, paket
investasi untuk menjadi mitra kini sudah mengalami kenaikan. Dulu paket
investasinya masih Rp 50 juta. Nah, sekarang naik menjadi Rp 60 juta.
Biaya itu sudah termasuk
franchise fee Rp 30 juta dan peralatan, namun belum termasuk sewa tempat.
Selain
itu, harga jual soto juga dinaikkan. Sebelumnya satu porsi Soto Kudus
Kauman dibanderol Rp 7.000. Namun, sekarang naik menjadi Rp 9.000 per
porsi. Seiring kenaikan harga jual ini, target omzet mitra juga
dinaikkan Rp 50 juta per bulan. Sebelumnya, omzet mitra ditargetkan Rp
30 juta per bulan. Namun masa balik modalnya dibuat lebih lama menjadi
setahun dari sebelumnya sekitar delapan bulan.
Pilihan menu juga
mengalami penambahan variasi. Selain soto, juga ada varian menu lain,
seperti sop iga, pecel lele, dan bebek goreng.
Menurut Ubaidilah,
prospek bisnis soto masih cukup bagus karena bukan termasuk makanan
musiman. "Bisa dibilang sebagian besar masyarakat Indonesia adalah
penyantap soto," tandasnya.
Soto Semarang Songo SongoSoto
Semarang Songo Songo sudah berdiri sejak 1999. Pertama sekali hadir di
Jalan Imam Bonjol No. 99 Salatiga, Jawa Tengah. Soto Semarang resmi
menawarkan kemitraan pada tahun 2009.
KONTAN pernah mengulas
tawaran tawaran kemitraan soto ini pada Mei 2011. Saat itu, Soto
Semarang belum punya mitra. Saat ini, kondisinya juga masih sama alias
belum memiliki mitra.
Satriyo Yudiarto, pemilik Soto Semarang
mengaku masih optimistis bisa mendapatkan mitra tahun ini. Satriyo
mengklaim, selama ini sudah ada calon mitra yang berminat bekerja sama.
Namun, mereka tak mau memakai brand Soto Semarang Songo Songo karena
harus mengeluarkan biaya tambahan lagi.
Apalagi masa kontraknya
hanya setahun. Namun, menurut Satriyo, bila ada calon mitra yang
keberatan, kini pihaknya bersedia menegosiasi ulang biaya kemitraan yang
nilainya Rp 25 juta ini.
Dalam kemitraan ini, mitra akan
mendapatkan hak penggunaan merek selama setahun, perlengkapan usaha, dan
promosi. Mitra diwajibkan membeli bumbu soto dari kantor pusat.
Setiap
bungkus bumbu soto dibanderol Rp 50.000 yang bisa dipakai untuk 60
porsi. Tiap porsi soto ayam dijual ke pembeli seharga Rp 5.000.
Harga
jual ke konsumen ini sebenarnya cukup bervariasi. Selain Rp 5.000 per
porsi, juga ada paket soto dan gorengan yang dijual Rp 7.500 per porsi.
Selain itu, ada juga paket soto, gorengan, dan sate yang dibanderol Rp
9.500 per porsi. "Paket-paket harga itu masih bisa nego lagi," jelas
Satriyo.
Dengan asumsi omzet rata-rata per hari sebesar Rp
500.000 hingga Rp 700.000, mitra bisa balik modal dalam waktu tiga
bulan. Satriyo sendiri mengaku, saat ini rata-rata omzetnya dalam
sehari mencapai Rp 800.000 per hari - Rp 1 juta. Omzet ini meningkat
dari tahun lalu yang masih berkisar Rp 500.000 - Rp 700.000 per hari.
http://peluangusaha.kontan.co.id/news/bisnis-soto-masih-pedas