Showing posts with label soto. Show all posts
Showing posts with label soto. Show all posts

Friday, October 19, 2012

Mendulang uang dari usaha soto semarang

TAWARAN KEMITRAAN

Mendulang uang dari usaha soto semarang

Soto merupakan kuliner khas nusantara yang sudah akrab di lidah orang Indonesia. Sebagai kuliner khas nusantara, setiap daerah memiliki racikan soto berbeda-beda. Tapi, dari daerah manapun asalnya, makanan berkuah ini tetap disukai semua kalangan.
Salah satu pemain yang mengusung makanan khas daerah ini adalah Agus Afiantoro di Semarang, Jawa Tengah. Sejak tahun 1990, ia menjajakan soto khas Semarang dengan brand Waroeng Soto Pak Sabar.
Agar bisnisnya semakin meluas, saat ini ia menawarkan kemitraan usaha. "Kami mulai menawarkan kemitraan sejak dua bulan lalu," kata Agus. Ia mengaku, saat ini sudah ada beberapa calon mitra yang tertarik bergabung. "Bulan depan akan ada dua sampai tiga calon mitra yang bergabung," ujar Agus.
Ia mengaku, soto racikannya punya banyak penggemar setia. "Citarasa soto kami sudah terbukti enak," ujarnya. Soto racikan Agus dihargai Rp 4.000 per porsi. Selain soto, ia juga menyediakan menu nasi yang dijual Rp 7.000 seporsi.
Waroeng Soto Pak Sabar menawarkan satu paket kemitraan dengan nilai investasi Rp 70 juta. Investasi itu mencakup kontrak kerjasama tiga tahun, peralatan masak, tujuh set meja, desain interior, pelatihan karyawan, bahan baku awal, serta promosi.
Menurutnya, mitra tinggal menyediakan tempat seluas 50 meter persegi. Tempat seluas itu bisa menampung 45 kursi.
Ia menargetkan, dalam sehari mitra bisa meraup omzet minimal Rp 1,5 juta sampai Rp 2 juta. Maka, dalam sebulan mitra bisa mengantongi omzet sebesar Rp 50 juta. Adapun target laba bersihnya sebesar 20% dari omzet.
Dalam kerjasama ini, mitra wajib membeli bumbu dari pusat. Mitra juga akan dikenakan biaya royalti fee 5% dari omzet. Agus menargetkan, mitra sudah balik modal paling lama satu tahun. Setelah masa kerjasama habis, mitra bisa memperpanjang kembali dengan biaya sebesar Rp 5 juta.
Waroeng Soto Pak Sabar                                                                                                                                                                                                            Jl. Hilir Saptamarga, krapyak,                                                                                                                                                                                                Semarang, Jawa Tengah                                                                                                                                                                                                        HP: 088215221324

Friday, August 3, 2012

INSPIRASI KARYO SAMPURNO MUSTIKO


Karyo kini sukses jadi juragan soto (1)

Karyo kini sukses jadi juragan soto (1)
Lantaran ngebet untuk melanjutkan kuliah, Karyo Sampurno Mustiko nekad merantau ke Jakarta. Karena tak punya biaya, di Ibu kota, ia merintis usaha soto yang diberi nama Soto Kudus Kauman. Belakangan, usaha sotonya berkembang pesat. Omzetnya mencapai ratusan juta rupiah per bulan.

Berawal dari keinginan untuk memperbaiki nasib dan bisa meneruskan sekolah hingga ke tingkat perguruan tinggi, Karyo Sampurno Mustiko nekad merantau ke Jakarta. Bersama kakaknya bernama Ludi Priyanto, ia meninggalkan kampung halamannya di Pati, Jawa Tengah.

Saat itu, ia baru saja lulus sekolah menengah atas (SMA) pada tahun 2005. "Ketika itu saya sangat ingin melanjutkan kuliah namun tidak ada biaya," kata Karyo.

Apalagi, kedua orangtuanya saat itu sudah meninggal dunia. Ia pun tertantang untuk mencari biaya kuliah sendiri. Di Jakarta, ia sempat membantu usaha soto milik seorang teman.

Namun, tak lama ia memutuskan membuka usaha soto sendiri. Saat merintis usaha soto ini, ia juga mengajak serta kakaknya. Usaha soto Karyo ini kemudian diberi nama Soto Kudus Kauman.

Pada tahun 2010, mereka kemudian mengajak tiga orang lain untuk bergabung. Mereka adalah Basri, Sikin, dan Ubaidilah.

Setelah berjalan selama tujuh tahun, kini Soto Kudus Kauman menjadi usaha yang cukup besar dan dikenal luas. Pelanggannya mulai dari rakyat biasa hingga pejabat negara. "Pak Boediono (Wakil Presiden) rutin memesan 50 porsi katering ke kami seminggu sekali," ujar Karyo.

Selain dari kalangan pejabat, ia juga kerap menerima pesanan katering dari hotel-hotel bintang lima di Jakarta. Karyo sendiri sempat memperoleh penghargaan sebagai finalis Wirausaha Muda Mandiri tahun 2011 dari Bank Mandiri.

Untuk gerai, saat ini sudah ada 14 gerai Soto Kudus Kauman yang tersebar di kawasan Jabodetabek. Sebanyak sembilan gerai di antaranya milik mitra dan sisanya milik sendiri.

Dari gerai mitra ini, Karyo masih memperoleh dana bagi hasil sekitar 50% dari omzet per bulan. Sementara untuk yang memakai skema waralaba, ada juga royalti fee 5% dari omzet mitra.

Dari situ, total omzet yang masuk ke kantongnya mencapai Rp 150 juta per bulan. "Saya sendiri tak menyangka bisa membesarkan bisnis soto yang awalnya dirintis dari soto kaki lima," ujar anak bungsu dari sembilan bersaudara ini.

Impian awal Karyo untuk meneruskan kuliah pun terwujud. Sejak tahun 2007, ia sudah terdaftar sebagai mahasiswa jurusan pendidikan di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta. "Ini memang sudah menjadi impian saya sejak awal, dan sekarang saya sudah duduk di semester 10," ujar Karyo.

Tidak hanya biaya kuliah, Karyo kini telah bisa membiayai sendiri kebutuhan hidup yang lain dan tidak bergantung lagi kepada kakaknya.

Menurutnya, orang-orang yang ingin membuka usaha tak perlu terlalu menunggu punya banyak kemampuan. "Saya sendiri dulu saat membuka usaha tidak tahu apa-apa tentang soto, apalagi pengalaman berwirausaha" ujar Karyo.

Karyo bilang, setiap orang yang ingin belajar dan terus berusaha pasti bisa terjun ke dunia wirausaha.

Karyo: Gratiskan wanita hamil membawa keberuntung


Dengan modal pinjaman, Karyo Sampurno Mustiko membuka usaha soto kudus. Strategi menggratiskan perempuan hamil makan soto menjadi strategi andalan yang melambungkan Soto Kudus Kauman. Yakin dengan pasar, sejak tahun 2010, Karyo berani mewaralabakan usahanya.

Setelah membantu temannya berjualan soto di Jakarta, Karyo Sampurno Mustiko memberanikan diri membuka usaha kuliner itu sendiri dengan mengusung nama Soto Kudus Kauman.

Menurut Karyo, modal awal untuk berdagang soto adalah hasil pinjaman. "Waktu itu saya pinjam dari teman Rp 1,5 juta," kata Karyo mengenang,

Uang sebanyak Rp 1 juta itu, lantas Karyo gunakan untuk membeli gerobak dan peralatan memasak. Sisanya sebanyak Rp 500.000 dia pakai untuk membayar sewa lapak kaki lima.

Modal usaha Karyo lainnya adalah ilmu meracik soto yang ia dapat selama membantu temannya berdagang makanan itu. Tak disangka-sangka, soto olahannya membekas di lidah para pembeli.

Pelanggan Karyo pun bertambah banyak. Alhasil, usaha sotonya berkembang dan memiliki cabang. Selain rasa soto yang khas, Karyo punya "magnet" lain untuk menarik pembeli.

Salah satunya ialah, setiap pengunjung yang hamil gratis makan soto di Soto Kudus Kauman. Bukan tanpa alasan Karyo memberikan perlakuan istimewa bagi wanita hamil.

Awalnya, Karyo menjelaskan, cara ini bukanlah strategi pemasaran. Tapi, semata-mata lantaran dia teringat pengalaman getir sang ibu yang ketika itu mengidam soto kudus cuma tidak kesampaian.

Maklum, kala itu kondisi ekonomi orang tuanya sangat sulit, sehingga tak mampu membeli soto kudus. Mirisnya, waktu itu tidak ada penjual soto kudus yang iba, meski ibunya tengah hamil.

Karyo mengingat peristiwa itu sebagai perjalanan hidup yang pahit. "Karena uang yang pas-pasan sehingga hanya cukup untuk makan dan bertahan hidup," tutur Karyo getir.

Nah, berangkat dari pengalaman pahit itulah, Karyo berkomitmen untuk tidak menerima bayaran dari perempuan yang tengah hamil. Ternyata, cara itu menjadi strategi dan berkah pemasaran yang jitu. Soto Kudus Kauman makin dikenal orang.

Keberhasilan yang Karyo raih tak membuat ia berpuas diri. Makanya, ketika mendapat tawaran pembinaan usaha dari Kementerian Perdagangan, dia langsung iyakan.

Dari sinilah Karyo mulai mengenal dan belajar mengembangkan usaha dengan sistem waralaba.

Di tahun 2010, Karyo pun mulai mewaralabakan Soto Kudus Kauman. Ia menggandeng tiga temannya, Ubaidilah, Basri, dan Sikin untuk ikut membesarkan usaha soto dengan sistem waralaba. Tak sampai setahun, tiga mitra usaha Karyo pun bergabung bersama Soto Kudus Kauman.

Sayang, saat kesuksesan mulai di depan mata, Karyo pecah kongsi dengan salah satu temannya, Sikin. Sikin membuka usaha soto kudus dengan dengan nama Soto Kudus Kauman juga.

Menurut Karyo, keputusan Sikin berpisah dan mendirikan usaha soto kudus sendiri menjadi cobaan terberat yang pernah dia alaminya selama berwirausaha. Tapi, dia berusaha tidak mempersoalkan kenyataan ini.

Karyo menambahkan, sampai sekarang masalah tersebut belum selesai. Tapi, "Tidak apa-apa yang penting bisa sama-sama menjalankan," ujarnya.

Kini, Karyo cuma bisa berharap Soto Kudus Kauman yang kini sudah punya 14 cabang bisa tetap eksis. Dan, ia akan mengelola sebaik-baiknya.

Karyo ingin sotonya besar seperti McDonald's (3)



Sejak pecah kongsi dengan seorang temannya bernama Sikin, Karyo fokus membenahi manajemen dan sumber daya manusia (SDM) di Soto Kudus Kauman. Ia berharap pembenahan itu bisa membuat usaha sotonya semakin berkibar.

Pengalaman pecah kongsi dengan sang teman sangat membekas Karyo Sampurno Mustiko. Sejak pecah kongsi dengan salah seorang temannya bernama Sikin, ia pun fokus membenahi sistem manajemen dan sumber daya manusia (SDM) di Soto Kudus Kauman.

Karyo tak ingin peristiwa serupa terulang kembali. Seperti diketahui, Sikin kini membuka usaha soto kudus sendiri dengan nama Soto Kudus Kauman juga.

Ia khawatir, tanpa penguatan SDM dan manajemen, maka peristiwa serupa bakal terulang lagi. Karyo sendiri mengakui, pengelolaan SDM-nya masih belum begitu bagus.

Makanya, pembenahan SDM ini menjadi prioritas utama. Selama melakukan pembenahan, Karyo menutup sementara tawaran kemitraan Soto Kudus Kauman. "Selama pembenahan ini saya juga belum akan membuka gerai baru," ujar Karyo.

Ia menargetkan, pembenahan manajemen dan SDM ini bisa selesai paling lambat akhir tahun ini. Menurut Karyo, hingga saat ini permintaan menjadi mitra masih terus berdatangan.

Namun, selama perbaikan belum selesai, ia belum membuka lagi tawaran kemitraan. Karyo bilang, dengan sistem saat ini, mengelola 14 gerai saja ia sudah kewalahan. "Nah, nanti kalau setiap permintaan saya terima tapi tidak siap, sama saja bunuh diri pelan-pelan," ujar karyo.

Ia khawatir, jika kualitas produk dan pelayanan menurun, nama Soto Kudus Kauman bisa buruk di mata pelanggan.

Karyo berjanji, begitu perbaikan internal selesai, ia akan memproses setiap permintaan menjadi mitra. Ia menargetkan, sistem kemitraannya ini akan efektif lagi mulai tahun depan.

Bila pembenahan selesai dilakukan, ia berharap usaha sotonya bisa semakin berkibar. "Harapan saya waralaba Soto Kudus Kauman bisa besar seperti McDonald's," ujar Karyo.

Karyo ingin jaringan gerai sotonya semakin kuat dan menjamur. Minimal, kata dia, di setiap kota ada Soto Kudus Kauman.

Ia juga berharap brand Soto Kudus Kauman bisa semakin kuat di masyarakat. "Sehingga saat mengingat soto, masyarakat mengingat soto kudus Kauman," ujarnya.

Karyo juga ingin waralaba sotonya bisa menjadi tempat nongkrong yang digemari sekaligus trendsetter di lini bisnisnya.

Maka itu, Karyo juga berencana menambah menu-menu baru yang di setiap gerai sotonya. "Namun, soto tetap akan menjadi menu unggulan kami," jelas karyo.

Selain membesarkan usaha sotonya, Karyo juga berniat merambah usaha lain. Saat ini, ia sudah mulai terjun ke usaha laundry. "Saya mulai bisnis ini dari kecil-kecilan," jelas Karyo.

Selain laundry, ia juga sudah merencanakan untuk merambah jenis usaha lain. Namun, Karyo belum mau blak-blakan menyebut sektor usaha yang akan digarapnya.

"Yang penting ada hasilnya dan saya menyukai bidangnya," jelas Karyo yang semakin mantap berwirausaha.

Selama mengelola usaha soto ini, Karyo memang banyak belajar tentang bisnis. Dari sebelumnya awam, kini ia sudah banyak menguasai, terutama bisnis dengan sistem waralaba. Tak heran, bila naluri bisnisnya kian terasah.

http://peluangusaha.kontan.co.id/news/karyo-kini-sukses-jadi-juragan-soto-1
http://peluangusaha.kontan.co.id/news/karyo-gratiskan-wanita-hamil-membawa-keberuntung/2012/08/02
http://peluangusaha.kontan.co.id/news/karyo-ingin-sotonya-besar-seperti-mcdonalds-3

Wednesday, July 25, 2012

Bisnis soto masih pedas

TAWARAN KEMITRAAN KULINER: SOTO

Bisnis soto masih pedas

Soto termasuk makanan yang merakyat dan tak mengenal kasta. Penggemarnya datang dari berbagai kalangan. Maklum, bukan hanya harganya yang bersahabat, menyantap soto pun nikmat.

Berbisnis soto agaknya juga senikmat rasanya. Itu sebabnya, penjual soto dengan mudah bisa kita temui. Malah, tak sedikit dari mereka yang mengembangkan usaha dengan menawarkan kemitraan atau waralaba.

Dalam review kali ini, KONTAN mengupas perkembangan usaha beberapa kemitraan soto, seperti Soto Ayam Jolali, Soto Kudus Kauman, dan Soto Semarang Songo-Songo. KONTAN pernah mengulas tawaran usaha mereka di tahun lalu.

Nah, dari tiga pemain bisnis soto itu, ada yang kini semakin berkembang, tapi ada pula yang stagnan dan belum berhasil menjaring mitra sama sekali. Seperti apa persisnya perkembangan usaha mereka, berikut ulasannya:


Soto Ayam Jolali

Tawaran kemitraan yang satu ini mengusung menu soto ayam kampung khas Surabaya. Sang pemilik, Hendro Dwi Sriyantono memulai usaha soto tahun 2006 di Surabaya, Jawa Timur.

Pada Maret 2008 Hendro pun mulai menawarkan kemitraan. Saat diulas KONTAN pada April 2011 lalu, Soto Ayam Jolali telah memiliki 25 mitra yang tersebar di Surabaya, Jakarta, Pekanbaru, dan Samarinda.

Setahun berselang, jumlah mitranya kini sudah ada 30 mitra. "Mitra kami tetap masih banyak di Jawa. Namun kini ada tambahan di Sumatra, Kalimantan, dan Sulawesi," ujar Hendro.

Ia mencontohkan kini gerainya sudah ada di Duri dan Manado. Hendro mengaku, tidak memiliki trik khusus agar mitranya bisa tetap bertumbuh. Sebagai soto khas Surabaya, ia mengklaim, kekuatan sotonya ada pada rasa.

Meski mitranya tersebar di berbagai daerah, Hendro selalu mempertahankan agar citarasa kuah pada setiap sajian soto di gerai-gerai mitra tetap sama. Untuk itu, mitra wajib membeli koya dan bumbu soto dari pusat. Sementara bahan baku lain boleh dibeli di daerah masing-masing.

Dari segi menu, Hendro mengaku belum ada varian baru. Pilihan menunya ada soto ayam campur, soto ayam jeroan, dan soto ayam kulit.

Hanya, harga jual ke konsumen mengalami kenaikan. Bila sebelumnya dijual di kisaran Rp 5.000-Rp 7.500 per porsi, kini naik menjadi Rp 8.000-Rp 12.000 per porsi.

Selain harga menu, tak ada yang berubah dari tawaran Soto Ayam Jolali. Nilai paket investasinya masih sama. Pertama, paket senilai Rp 20 juta. Dalam paket ini, mitra mendapatkan perlengkapan, seperti gerobak, tenda ukuran 3 meter (m) x 3 m, meja, dan kursi sebanyak empat set, mangkuk soto, perlengkapan memasak, dan bahan baku.

Kedua, paket Rp 30 juta. Mitra mendapatkan peralatan yang sama dengan jumlah lebih banyak. Dalam kemitraan ini, Soto Jolali juga memberikan pelatihan standar bagi mitra. Di antaranya pelatihan meracik soto, menyajikan, melayani konsumen, hingga pemasaran.

Biaya setiap paket sudah termasuk franchise fee dan pembinaan selama enam tahun. Namun, mitra akan dikenakan royalty fee sebesar 3,5% dari omzet bulanan.

Hendro mengklaim, sebagian besar mitranya sudah balik modal saat ini. "Rata-rata balik modal dalam waktu enam bulan," ujar Hendro.

Ia memang menargetkan mitranya balik modal dalam rentang waktu tersebut. Target omzetnya sebesar Rp 18 juta per bulan, dengan laba bersih 20%.

Hendro optimistis usaha sotonya ini masih akan berkembang. Ia menargetkan, bisa memperoleh paling tidak 10 mitra baru hingga akhir tahun ini.



Soto Kudus Kauman

Mengusung cita rasa soto asal Kudus yang banyak digandrungi masyarakat, Soto Kudus Kauman mulai menawarkan kemitraan sejak tahun 2010. Saat itu, usaha soto ini sudah berjalan sekitar lima tahun.

Meski mengusung merek Kudus, usaha soto ini justru dirintis di Jakarta. KONTAN pernah mengulas tawaran kemitraan soto ini pada Juli 2011. Saat itu Soto Kudus Kauman baru memiliki tiga mitra di Jabodetabek.

Namun, jumlah mitranya saat ini sudah 13 mitra. "Jika dulu outlet kami hanya di pinggiran Jakarta seperti Depok, Bogor, dan Tangerang, kini kami sudah berada di Jakarta seperti Mampang, Duren Tiga, dan Condet," kata Ubaidilah, pemilik Soto Kudus Kauman.

Ubaidilah bilang, paket investasi untuk menjadi mitra kini sudah mengalami kenaikan. Dulu paket investasinya masih Rp 50 juta. Nah, sekarang naik menjadi Rp 60 juta. Biaya itu sudah termasuk franchise fee Rp 30 juta dan peralatan, namun belum termasuk sewa tempat.

Selain itu, harga jual soto juga dinaikkan. Sebelumnya satu porsi Soto Kudus Kauman dibanderol Rp 7.000. Namun, sekarang naik menjadi Rp 9.000 per porsi. Seiring kenaikan harga jual ini, target omzet mitra juga dinaikkan Rp 50 juta per bulan. Sebelumnya, omzet mitra ditargetkan Rp 30 juta per bulan. Namun masa balik modalnya dibuat lebih lama menjadi setahun dari sebelumnya sekitar delapan bulan.

Pilihan menu juga mengalami penambahan variasi. Selain soto, juga ada varian menu lain, seperti sop iga, pecel lele, dan bebek goreng.

Menurut Ubaidilah, prospek bisnis soto masih cukup bagus karena bukan termasuk makanan musiman. "Bisa dibilang sebagian besar masyarakat Indonesia adalah penyantap soto," tandasnya.



Soto Semarang Songo Songo

Soto Semarang Songo Songo sudah berdiri sejak 1999. Pertama sekali hadir di Jalan Imam Bonjol No. 99 Salatiga, Jawa Tengah. Soto Semarang resmi menawarkan kemitraan pada tahun 2009.

KONTAN pernah mengulas tawaran tawaran kemitraan soto ini pada Mei 2011. Saat itu, Soto Semarang belum punya mitra. Saat ini, kondisinya juga masih sama alias belum memiliki mitra.

Satriyo Yudiarto, pemilik Soto Semarang mengaku masih optimistis bisa mendapatkan mitra tahun ini. Satriyo mengklaim, selama ini sudah ada calon mitra yang berminat bekerja sama. Namun, mereka tak mau memakai brand Soto Semarang Songo Songo karena harus mengeluarkan biaya tambahan lagi.

Apalagi masa kontraknya hanya setahun. Namun, menurut Satriyo, bila ada calon mitra yang keberatan, kini pihaknya bersedia menegosiasi ulang biaya kemitraan yang nilainya Rp 25 juta ini.

Dalam kemitraan ini, mitra akan mendapatkan hak penggunaan merek selama setahun, perlengkapan usaha, dan promosi. Mitra diwajibkan membeli bumbu soto dari kantor pusat.

Setiap bungkus bumbu soto dibanderol Rp 50.000 yang bisa dipakai untuk 60 porsi. Tiap porsi soto ayam dijual ke pembeli seharga Rp 5.000.

Harga jual ke konsumen ini sebenarnya cukup bervariasi. Selain Rp 5.000 per porsi, juga ada paket soto dan gorengan yang dijual Rp 7.500 per porsi. Selain itu, ada juga paket soto, gorengan, dan sate yang dibanderol Rp 9.500 per porsi. "Paket-paket harga itu masih bisa nego lagi," jelas Satriyo.

Dengan asumsi omzet rata-rata per hari sebesar Rp 500.000 hingga Rp 700.000, mitra bisa balik modal dalam waktu tiga bulan. Satriyo sendiri mengaku, saat ini rata-rata omzetnya dalam sehari mencapai Rp 800.000 per hari - Rp 1 juta. Omzet ini meningkat dari tahun lalu yang masih berkisar Rp 500.000 - Rp 700.000 per hari.
http://peluangusaha.kontan.co.id/news/bisnis-soto-masih-pedas