Showing posts with label sosial. Show all posts
Showing posts with label sosial. Show all posts

Tuesday, February 7, 2012

Kriteria Seorang Entrepreneur Sosial

Views :355 Times PDF Cetak E-mail
Selasa, 07 Februari 2012 14:09
sosial0212Anda yakin ingin menjadi seorang entrepreneur sosial? Ada beberapa krieria yang menjadi pembeda antara seorang entrepreneur sosial dengan pebisnis umumnya.

Pertama, menjadi seorang entrepreneur sosial harus mau berkorban dan segera bertindak. Pengorbanan bukan cuma harta benda, melainkan juga naluri untuk bersenang-senang, waktu, tenaga dan pikiran.

Kedua, kesediaan untuk memulai bekerja dengan diam-diam. Entrepreneur sosial memulai karyanya dari hal-hal kecil di daerah yang tidak dikenal. Butet bekerja di pedalaman Sumatera dengan anak-anak suku Kubu. Atau Yayasan Dian Desa yang berkubang lumpur di desa-desa. Ada juga Muhammad Yunus yang bekerja dengan buruh-buruh kasar di Bangladesh. Biasanya mereka baru dikenal setelah karya-karyanya menjadi kenyataan dan ramai dibicarakan orang.

Ketiga, bekerja dengan energi penuh. Orang yang berenergi penuh ’tak ada matinya’. Ia melakukan banyak hal sekaligus dengan menembus berbagai dinding-dinding penyekat. Ia tak mengenal batas-batas yang dibuat manusia untuk membatasi ruang geraknya. Tanpa berpikir keuntungan yang akan didapat, entrepreneur sosial meledakkan segala ide kreatif mereka demi peningkatan kualitas hidup masyarakat luas.

Keempat, ia menghancurkan the established structures. Ia benar-benar bekerja Mandiri dan tak mau terbelenggu oleh struktur yang seakan-akan mewakili kebenaran. Mereka bisa saja ditemukan di antara pegawai-pegawai pemerintahan atau dosen di universitas, tetapi yang adalah kebebasannya dalam bertindak dan berpikir. Mereka punya kecerdasan yang luar biasa dalam mengambil jarak untuk melihat ”beyond the orthodoxy” dalam bidang/pekerjaan mereka. Untuk melakukan hal ini, mereka mengambil risiko yang terlihat aneh, bahkan adakalanya dimusuhi oleh orang umum.

Kelima, kesediaan melakukan koreksi diri. Entrepreneur sosial memerlukan kejernihan berpikir dan sikap-sikap positif. Artinya, kalau suatu langkah tidak bekerja dengan baik, mereka harus rela mengkoreksinya. Pada tahun 1990-an orang-orang sudah meyakini karya besar Muhammad Yunus yang sukses dengan Grameen Bank-nya untuk melayani segmen mikro, tetapi ia melihat tetap ada kelemahan yang merepotkan debitur untuk melunasi hutangnya. Pada tahun 2002, Yunus meluncurkan Grameen Bank II untuk melayani nasabah-nasabah mikro-nya dengan lebih baik lagi.

Keenam adalah kesediaan berbagi keberhasilan. Mereka adalah orang-orang yang rendah hati, yang bekerja dengan prinsip, ”sukses ini bukan karena semata-mata karya saya.” Lebih dari sekedar berkarya dan berbisnis, para entrepreneur sosial membangun sebuah kekuatan, yaitu kekuatan perubahan yang berkelanjutan. Andapun bisa melakukannya. (*/ian)

Sumber:
http://ciputraentrepreneurship.com/pendidikan/serba-serbi/165-entrepreneurship/14998-kriteria-seorang-entrepreneur-sosial.html

Tuesday, January 10, 2012

Benarkah Entrepreneur Sosial Tak Perlu Laba?

Views :283 Times PDF Cetak E-mail
Senin, 09 Januari 2012 16:47
social_enterpriseSebuah istilah yang makin sering kita dengar beberapa waktu ini ialah “entrepreneur sosial”. Dalam terminologi paling sederhana, entrepreneur sosial ialah orang-orang yang bertujuan menghasilkan ‘nilai sosial’ bukan keuntungan material. Mereka menggunakan prinsip-prinsip bisnis tradisional untuk menciptakan dan menjalankan bisnis untuk membuat perubahan sosial dalam masyarakat.

Secara sekilas, ini terkesan seakan entrepreneur yang hendak membangun organisasi nirlaba. Namun istilah ini nampaknya lebih sering diasosiasikan dengan orang-orang yang pekerjaannya ditargetkan membawa perubahan sosial ekonomi jangka panjang. Kita bisa lihat bagaimana kiprah Margaret Sanger dengan gerakan pengendalian kelahirannya dan Mahatma Gandi dengan paham anti kekerasannya yang terkenal.

Apakah tujuannya untuk menghasilkan laba atau modal sosial lain, unsur yang sama-sama bisa ditemukan untuk semua entrepreneur ialah pengakuan bahwa ada permasalahan yang membutuhkan pemecahan atau ada peluang untuk memperbaiki keadaan yang sudah ada.


Visinya selalu mengenai bagaimana menjadi agen perubahan positif, menemukan dan memperkenalkan pada khalayak ramai pendekatan-pendekatan yang baru dan lebih baik dan mengajak orang-orang untuk maju lebih cepat. Dalam setiap kasus, semua ini membutuhkan sebuah upaya perwujudan terbaik dengan komitmen tinggi dengan tekad bulat untuk senantiasa menghadapi tantangan yang menghadang.

Cara lain untuk membedakan antara dua jenis entrepreneurship ialah dengan menemukan ciri-ciri organisasi yang bukan jenis entrepreneurship sosial.


Bukan strategi pengumpulan dana untuk nirlaba
Sebuah bisnis sosial mungkin bisa menghasilkan untung atau tidak menghasilkan sama sekali tetapi dihasilkannya dana bukan menjadi prioritas utama . Prioritas utama dalam entrepreneurship sosial ialah upaya mencapai keberhasilan yang berdampak positif terhadap lingkungan sosial dan lingkungan hidup di sekitarnya dalam kacamata visi. Upaya mencetak laba tidak semestinya menjadi prioritas utama.


Bukan mengenai laba sebelum berdampak sosial lebih luas
Sebuah bisnis dengan nuansa entrepreneurship sosial seharusnya berkelanjutan secara finansial karena dengan begitu, ia akan dapat mencapai tujuan utamanya: mewujudkan perubahan sosial dan lingkungan dengan lebih baik dan cepat. Misi entrepreneur bisnis selalu berkisar tentang laba, tetapi hanya sebagian yang mengurusi dampak sosialnya.


Bukan sebuah batasan untuk sektor nirlaba
Tujuan utama dan bukti yang jelas dari entrepreneurship sosial seharusnya ialah membuat dunia menjadi tempat tinggal yang lebih baik. Caranya dengan bekerja menjalankan bisnis. Tentu ini juga memberikan potensi untuk meningkatkan vitalitas sektor nirlaba tetapi  hal ini tidak memberikan perbaikan dalam hal moral.

Bukan peluang investasi untuk investor bisnis
KIta masih banyak temukan entrepreneur yang ingin menemukan investor angel dan venture capitalists untuk memulai usaha sosial. Pendanaan usaha seperti itu berada dalam wilayah wewenang filantropis, hibah pemerintah, atau pemakaian dana sendiri. Investor bisnis mencari keuntungan finansial, bukan laba berupa modal sosial.
Bukan mengenai entrepreneurship dalam sektor pemerintahan
Hingga kini sumber terbesar layanan dan pendanaan usaha sosial dan entrepreneur sosial ialah pemerintah baik pusat atau daerah, lembaga-lembaga yang berkepentingan, dan sebagainya. Namun usaha-usaha itu bukan milik pemerintah dan proses menuju keberhasilan membuat mereka menjadi bisnis yang menguntungkan.


Entrepreneurship sosial bukan sosialisme
Doktrin sosialisme mendikte kontribusi pembayar pajak wajib kepada pembiayaan gerakan dan upaya sosial sementara entrepreneur sosial menggunakan model bisnis baku dan pendekatan inovatif untuk menarik pelanggan, mendanai kegiatan bisnis dan mewujudkan perubahan sosial.


Unsur pokok dala kedua jenis entrepreneurship ialah bahwa seorang entrepreneur itu lebih dibutuhkan dari seorang administratur. Entrepreneur ialah seseorang yang mau dan mampu untuk menciptakan usaha baru berdasarkan ide-ide inovatif, dan bersedia untuk bertanggung jawab atas risiko yang ada dan hasil yang mungkin tercapai kelak.

Sehingga jika Anda seorang entrepreneur sejati, tetapi Anda terdorong untuk membuat perubahan yang lebih bermakna bagi lingkungan daripada hanya mencetak laba tinggi , entrepreneurship sosial mungkin adalah bidang yang sesuai untuk diri Anda. Entrepreneurship sosial masih tergolong baru di tanah air. Inter. Interpretasi atas makna entrepreneurship sosial memang majemuk dan dinamis tetapi sebagian besar sepakat bahwa sesungguhnya isu ini berkenaan dengan bagaimana membuat dunia menjadi lebih baik. Dan untuk itu, ada banyak sekali cara yang bisa ditempuh.(*Akhlis)

Sumber:
http://www.ciputraentrepreneurship.com/pendidikan/serba-serbi/165-entrepreneurship/14152-benarkah-entrepreneur-sosial-tak-perlu-laba.html