Showing posts with label sejahtera. Show all posts
Showing posts with label sejahtera. Show all posts

Sunday, September 9, 2012

Pekerja Belum Cukup Sejahtera

Hits : 221 PDF Cetak E-mail
Minggu, 09 September 2012 11:51
Pekerja_Belum_Cukup_Sejahtera
Bekerja dengan menerima upah atau gaji, baik di kalangan swasta maupun pemerintahan, belum menjamin kesejahteraan. Tidak sedikit pekerja, karyawan, ataupun pegawai negeri sipil yang mempertimbangkan untuk berwirausaha. Mencari penghasilan yang lebih baik.

Tingginya minat berwiraswasta terungkap dari hasil survei Litbang Kompas pada 25-27 Maret lalu. Sebagian besar (70,4 persen) responden yang saat ini bekerja sebagai pegawai negeri sipil (PNS), karyawan swasta, ataupun buruh tertarik untuk memulai usaha sendiri.

Wirausaha kian dilirik seiring semakin mengemukanya ketidakpuasan pada penetapan upah minimum. Tahun ini, rata-rata upah minimum di 33 provinsi di Indonesia hanya Rp 1,15 juta per bulan. Dengan jumlah itu, setiap anggota keluarga dari seorang pekerja dengan satu istri dan dua anak hanya akan mendapatkan rata-rata Rp 290.000 untuk hidup selama sebulan. Angka ini hanya sedikit di atas garis kemiskinan tahun 2011, yakni Rp 233.740 per orang. Kenaikan upah minimum pun terkadang tak dapat mengimbangi inflasi.

Satu dari lima responden yang saat ini berstatus sebagai pekerja mengaku tidak puas dengan penghasilan mereka. Selain itu, sekitar sepertiga dari total responden yang tersebar di 12 kota besar ini mengaku tertarik berwirausaha karena berharap penghasilan yang lebih tinggi. Adapun responden yang tidak tertarik beralih menjadi wirausaha mengaku sudah mendapatkan penghasilan dan kesejahteraan.

Para calon wiraswasta ini tertarik memulai usaha yang mudah dijalankan, berisiko rendah, tetapi menjanjikan dari sisi penghasilan. Usaha di bidang makanan menjadi pilihan 25 persen responden yang saat ini masih berstatus sebagai pekerja. Usaha di bidang fashion, terutama pakaian dan alas kaki, juga banyak diminati.

Usaha yang diminati umumnya yang memerlukan modal relatif kecil mengingat lebih dari separuh responden memilih menggunakan dana pribadi atau patungan dengan kerabat ketimbang meminjam modal usaha ke bank. Prosedur peminjaman yang memakan waktu dan keterbatasan aset yang bisa dijaminkan menyebabkan mereka menjauhi perbankan. Belum lagi jika usaha tidak berjalan mulus, dana dari perbankan akan menjadi beban karena harus dikembalikan beserta bunganya.

Selain ketidakpuasan terhadap pendapatan, keterbatasan lapangan kerja juga memperkuat berkembangnya minat wirausaha. Tidak sedikit lulusan pendidikan tinggi yang menganggur karena sulit mendapatkan pekerjaan. Menurut data Badan Pusat Statistik (Februari, 2011), ada 612.000 orang berpendidikan sarjana di antara 8,12 juta penganggur.

Jumlah penganggur berpendidikan tinggi ini belum termasuk tamatan universitas yang terpaksa harus bekerja seadanya. Tidak sesuai dengan bidang dan kompetensinya. Tak kurang dari 20 persen responden berpendidikan tinggi (sarjana dan pascasarjana) mengaku tak puas dengan pekerjaan mereka saat ini. Sebanyak 35,8 persen responden yang tertarik berwiraswasta juga dari kalangan berpendidikan tinggi.

Kian banyak lulusan universitas yang membuat usaha sendiri menjanjikan masa depan cerah bagi perekonomian. Bakal ada penciptaan lapangan kerja. Para wirausaha yang berlatar belakang pendidikan tinggi punya peluang menciptakan lebih banyak inovasi produk dan lebih kreatif mengatasi masalah pendanaan dan pemasaran. Aktor ekonomi berkualitas seperti ini tak hanya mampu menciptakan kesejahteraan, tetapi juga bisa memanfaatkan kecanggihan teknologi informasi untuk pengembangan usaha. (*kompas.com)

http://www.ciputraentrepreneurship.com/tips-bisnis/37-advise/19921-pekerja-belum-cukup-sejahtera.html

Thursday, July 26, 2012

Apakah Anda Sudah Tergolong Sejahtera?


Kamis, 26 Juli 2012 | 07:55 WIB

Bandingkan total aset Anda dengan total utang Anda. Jika aset lebih besar, Anda sudah dalam kategori sejahtera.
KOMPAS.com - Hentikan membaca tulisan ini sebentar, lalu renungkan, apakah Anda sudah tergolong kalangan yang sejahtera atau tidak. Boleh jadi, Anda menganggap diri Anda belum sejahtera.
Namun, kalau Anda mampu membaca surat kabar ini, siapa pun Anda, di manapun Anda berada, dan apa pun profesi Anda, sebenarnya Anda sudah berada dalam tataran sejahtera kendati secara relatif. Apa Artinya? Artinya, Anda bisa menikmati hidup.

Membaca surat kabar, tentunya hanya dilakukan oleh orang-orang yang ingin mengetahui informasi dan mendapatkan pengetahuan. Dan, itu merupakan salah satu kenikmatan dalam hidup ini. Jadi, jika Anda masih sempat membaca surat kabar, sebenarnya Anda sudah tidak termasuk dalam golongan miskin.

Benar bahwa ada yang lebih kaya daripada Anda. Namun, itu jika Anda menafsirkan kesejahteraan sebagai wujud besarnya kekayaan. Namun, sejahtera tidak semata diukur dari banyaknya aset yang Anda miliki. Sejahtera pada hakikatnya adalah ketika Anda merasa cukup dengan apa yang Anda miliki, dan Anda bisa menikmati semua itu. Namun, sebagian kalangan tetap saja merasa kalau asetnya masih terlalu sedikit. Dengan kata lain, ada keinginan untuk menjadi lebih kaya agar juga menjadi lebih sejahtera.

Aset versus utang
Untuk menjadi lebih sejahtera, harus dimulai dengan mengetahui posisi aset yang dimiliki saat ini. Coba cek berapa total aset Anda. Berapa pula total utang Anda. Mengenai aset, periksa lagi, berapa persen yang berbentuk produktif, dalam arti bisa menghasilkan pendapatan, dan berapa persen aset yang notabene menjadi beban biaya.

Mobil dan kendaraan bermotor lainnya tergolong aset yang menimbulkan beban biaya. Demikian juga dengan rumah, sepanjang rumah itu Anda tempati, pasti akan menimbulkan biaya perawatan, biaya listrik, air, dan telepon. Nah, setelah Anda jumlahkan, bandingkan total aset Anda dengan total utang Anda. Jika aset lebih besar, Anda sudah dalam kategori sejahtera.

Namun, untuk meningkatkan kesejahteraan atau meningkatkan aset Anda, coba bandingkan dengan aset produktif Anda, apakah itu deposito atau investasi lainnya dengan total utang Anda. Atau, paling tidak dengan kewajiban angsuran dan bunga yang mesti Anda bayarkan. Apakah penghasilan dari aset produktif Anda mencukupi untuk membayar beban bunga dan angsuran?

Jika ya, Anda benar-benar sudah sejahtera dan aset Anda bisa membesar. Namun, jika penghasilan dari aset produktif Anda tidak cukup membiayai bunga plus angsuran utang, hati-hati. Bukan tidak mungkin aset Anda akan tergerus karena mesti dipakai untuk melunasi utang. Dengan kata lain, kekayaan Anda saat ini masih bersifat artifisial. Nah, kalau situasinya seperti itu, lantas apa yang mesti dilakukan? Siapkan perencanaan. Itu jawabnya.

Perencanaan
Perencanaan seperti apa? Perencanaan mulai dari pengelolaan pendapatan dan pengeluaran sampai dengan melakukan investasi.

Apakah Anda bersedia mematuhi dan berdisiplin diri untuk mengeksekusi hal-hal yang telah direncanakan tersebut? Sebab, kegagalan sebagian orang dalam mencapai tujuan keuangannya, termasuk menyejahterakan kehidupannya, bukanlah karena tidak ada rencana atau rencana yang jelek, melainkan karena lemah dalam eksekusi alias tidak disiplin dalam menjalankan rencana keuangan tersebut.

Hal mendasar yang mesti diingat dalam pembuatan perencanaan keuangan adalah bahwa pengeluaran harus lebih rendah dibandingkan dengan pendapatan. Lalu, pencapaian tujuan investasi harus memiliki jangka waktu sehingga semuanya terukur.

Berikutnya apa setelah memiliki perencanaan keuangan? Kontrol seluruh aspek keuangan Anda. Artinya, Anda ”berkuasa” penuh terhadap keuangan dan perencanaan yang sudah Anda susun. Kalau dalam praktiknya Anda masih mempertimbangkan faktor-faktor lain, apakah itu faktor teman, lingkungan, sanak saudara, dan lain sebagainya, bisa dipastikan pengelolaan keuangan Anda akan berantakan.

Oleh karena itu, jika Anda memiliki tipe yang kurang disiplin, tatkala perencanaan keuangan disusun, sebaiknya libatkan pihak-pihak yang selama ini mungkin memengaruhi Anda, khususnya keluarga. Jadi, ketika keluarga telah dilibatkan, rencana keuangan bisa dijaga sama-sama dan tidak mudah bagi Anda untuk mengubahnya meski Anda mendapatkan saran dari teman, misalnya.

Umpamakan Anda sudah yakin mampu mengontrol keuangan Anda, apakah persoalan selesai dan Anda bisa menuju kesejahteraan yang Anda inginkan? Belum tentu. Mengapa?
Salah satu bagian dari meningkatkan kesejahteraan adalah dengan melakukan investasi. Anda mungkin sudah mengalokasikan dana dari penghasilan Anda setiap bulan untuk diinvestasikan. Dalam realitasnya, investasi Anda bisa juga berantakan. Sebab, ada sebagian orang yang kadang tidak membedakan, mana yang disebut investasi, mana pula yang sebenarnya merupakan spekulasi. Konkretnya, jangan pernah berspekulasi.

Apa contohnya? Membeli tanah yang tidak jelas prospeknya, membeli saham karena ikut-ikutan, atau bersama-sama dengan teman melakukan bisnis yang Anda tidak pahami. Banyak sekali contoh kegiatan yang sebenarnya bukan investasi, melainkan spekulasi, yang seharusnya dihindari.
Kesimpulannya, menjadi lebih sejahtera bukan hal yang tidak mungkin, tetapi juga bukan hal yang sederhana, kecuali Anda bersungguh-bersungguh menjalankan semua formula kesejahteraan.

(Elvyn G. Masassya, praktisi keuangan)


Sumber: Kompas Cetak
Editor :
Dini
http://female.kompas.com/read/2012/07/26/07554615/Apakah.Anda.Sudah.Tergolong.Sejahtera