Showing posts with label pesaing. Show all posts
Showing posts with label pesaing. Show all posts

Friday, November 23, 2012

Menghindari Pesaing, Kesalahan Utama Saat Berbisnis


Kamis, 22 November 2012 | 13:33 WIB

Saat berbisnis jangan hanya memikirkan soal uang dan keuntungan. Tentukan tujuan lain dari bisnis.
KOMPAS.com - Banyaknya kisah sukses di balik sepak terjang wirausahawan tak pelak membuat orang tertarik berkecimpung di dalamnya. Akan tetapi, pada kenyataannya memulai usaha memang tak semudah membalikkan telapak tangan. Banyak faktor yang menuntut pelakunya pantang menyerah dalam memasarkan barang dagangan agar tidak tenggelam di tengah persaingan.

Selain perkara modal, kejelian melihat peluang pun menjadi faktor penting dalam memulai usaha. “Penting diingat bahwa di samping menggapai kesuksesan, bisnis juga bertujuan membantu masyarakat dengan memberikan solusi yang lebih baik untuk memenuhi kebutuhannya,” ujar Laksita Utama Suhud, konsultan bisnis di Business Wizards Consulting.

Tak dapat dipungkiri, seorang pemula memang harus memperbanyak referensi agar terhindar dari kesalahan-kesalahan yang dapat memperlambat atau bahkan mematikan laju pertumbuhan bisnis. Nah, menurut Laksita, terdapat tiga jebakan wirausaha yang seringkali ditemui para pebisnis. Yuk, simak bersama uraian dari business and marketing consultant  ini.

Menghindari pesaing
Memilih produk untuk bisnis membutuhkan begitu banyak perhitungan. Sebelum Anda memutuskan jenis barang atau jasa yang akan ditekuni, ketahui terlebih dahulu atmosfer bisnis dari masing-masing produk.

“Kecenderungan pemula dalam memilih bidang usaha biasanya mencari lahan yang tidak ada kompetitor. Mereka mencari aman dan terjebak di penjualan barang atau jasa yang tidak dibutuhkan pasar dalam jumlah besar,” ujar penulis buku Start Up Business Wizard  ini. Laksita menambahkan, dengan memilih produk yang tidak dibutuhkan pasar dalam jumlah banyak, berarti waktu yang diperlukan untuk mengembangkan usaha semakin panjang.

Memilih produk memang cukup rumit. Di satu sisi, berbisnis dalam bidang yang langka membuat hati tenang karena minimnya pesaing. Namun di sisi lain, pebisnis membutuhkan kesabaran karena produk yang dijual bukan barang primer masyarakat. Sementara ketika memilih produk yang dibutuhkan pasar dalam jumlah yang banyak, “Produk yang memiliki peluang bagus untuk dijual pasti memang ramai akan persaingan, namun permintaan masyarakat pun sudah jelas ada,” tambahnya.

Contoh, Anda ingin membuat usaha di wilayah dekat kampus yang ramai akan mahasiswa. Toko alat tulis serta aneka jenis makanan tentu sudah marak, namun target pemasaran sudah jelas karena Anda menjual barang yang selalu mereka butuhkan. Berbeda jika Anda memutuskan membuka pet shop. Meskipun hanya satu-satunya di wilayah itu, namun gairah konsumsi terhadap produk tersebut terbatas pada golongan tertentu serta intensitasnya tidak terlalu tinggi.

Mudah merasa puas
Ketika seseorang sudah memilih bidang yang akan ditekuni, selanjutnya ia mencari cara agar produk yang ia jual mampu mencuri hati konsumen. “Ingat, pasar selalu mencari yang terbaik. Maka pebisnis harus memiliki keunggulan bersaing,” kata Laksita.

Keunggulan kompetitif ini, biasanya luput dari pebisnis yang hanya memusatkan perhatian kepada usahanya, tanpa ikut memperhatikan geliat bisnis lain yang ada di sekitarnya. Maka, kesalahan kedua pebisnis adalah mudah merasa puas dengan pencapaiannya sehingga tidak memiliki keunggulan kompetitif yang membuat pelanggan kembali mengonsumsi barang yang ditawarkan. Pasalnya seperti prinsip ekonomi, masyarakat akan memilih mengeluarkan uang sekecil-kecilnya untuk manfaat yang sebesar-besarnya.

Maka untuk mendapatkan konsumen tetap, ada beberapa unsur yang harus diperhatikan dalam berbisnis. Unsur tersebut meliputi product, price, place, promotion, dan people, yang lebih baik dibandingkan tempat lain. “Kita harus memiliki produk yang lebih baik, dilihat dari penyajian, bahan baku, ataupun keunikannya. Akan lebih baik jika kita mengembangkan apa yang sudah banyak di pasaran,” ujar Laksita.

Laksita juga menjabarkan bahwa masalah harga (price) pun harus kompetitif. Dengan produk yang lebih unggul, kita harus mencermati sehingga harga yang ditetapkan sesuai dengan produk yang kita tawarkan.

Sementara dari segi tempat (place), yang perlu diperhatikan bukan hanya memilih tempat strategis yang dilewati banyak calon pembeli, tapi juga bagaimana wirausahawan memperhatikan konsep ruang bisnis yang unik dan membuat nyaman konsumen.

“Bagaimana melakukan promosi yang baik? Kuncinya adalah membuat calon pembeli menjadi pembeli, dan dia yang sudah membeli menjadi langganan bahkan memberi tahu teman-temannya untuk datang,” ujar Laksita. Ingat, pelanggan yang puas, dapat menjadi aset promosi terbaik untuk usaha Anda.

Terakhir adalah better people. Inti dari poin ini adalah bagaimana memperbaiki jasa pelayanan yang dapat membuat konsumen puas dan nyaman. “Karena apabila keempat unsur tadi sudah bagus tapi pelayanannya tidak memuaskan, bisa-bisa pembeli tidak ingin kembali lagi,” tukas Laksita. Untuk hal-hal tersebut, sudah sepatutnya pebisnis tidak merasa cepat puas agar terus ada keinginan untuk mengembangkan dan membuka bisnisnya lebih baik.

Tidak gigih
Jika hal-hal yang penting dilakukan dalam bisnis sudah dilaksanakan namun usaha Anda tak kunjung menunjukkan pertumbuhan, Laksita mengatakan, bisa jadi kesalahannya ada pada kegigihan Anda. “Jebakan yang ketiga adalah jika kita merasa semua yang kita lakukan cukup dan tidak perlu massive action,” pungkasnya.

Ia mengatakan, banyak pebisnis yang sekadar ingin memiliki usaha namun tidak memiliki niat untuk mengembangkannya. “Indikator sukses itu high sales. Jika usaha tak kunjung berkembang, penjualan atau permintaan dari konsumen tidak kunjung tinggi, padahal Anda sudah menawarkan produk, harga, tempat, dan faktor lain yang bagus, berarti Anda kurang ngotot dalam usaha,” tambahnya. Pasalnya, ia menambahkan, pebisnis tidak bisa setengah-setengah. Jiwa bisnis dan keinginan untuk sukses, harus ditanamkan penuh dalam diri sebelum memulai usaha.
(Tabloid Nova/Annelis Brilian)

Editor :
Dini

http://female.kompas.com/read/2012/11/22/13332269/Menghindari.Pesaing..Kesalahan.Utama.Saat.Berbisnis

Friday, September 7, 2012

Cara Memantau Pesaing Berat Bisnis Anda

Hits : 802 PDF Cetak E-mail
Kamis, 06 September 2012 13:14
Apakah para pesaing Anda dengan agresif menggeser posisi Anda di pasar? Mungkin itu karena Anda kurang mengikuti perkembangan yang terjadi. Akibatnya, Anda kurang tanggap dalam menghadapi maneuver pesaing dan akhirnya terperosok. Tak ada yang menginginkan ini terjadi pada bisnis mereka bukan?

Lalu apa yang bisa entrepreneur dan pemilik bisnis lakukan untuk selalu unggul dalam persaingan? Secara umum, disarankan untuk selalu mengetahui dna mempelajari gerak-gerik pesaing bisnis, dan yang paling penting rencana dan strategi bisnis apa yang akan mereka terapkan. Ini karena jika Anda tak mengetahui pesaing dengan baik, Anda akan kesulitan dalam menempatkan diri di pasar dan menjadi berbeda dan lebih baik dari pesaing yang sudah ada dan mapan. Simak tips dari Mike Lieberman dan Eric Keiles berikut ini agar Anda tak lagi ketinggalan dari para pesaing:


Periksa situs mereka seminggu sekali
Setidaknya seminggu sekali Anda perlu mengunjungi dan membaca dengan cermat berita apa yang muncul dalam situs bisnis pesaing Anda. Mayoritas entrepreneur di abad digital seperti sekarang telah melek Internet sehingga mereka juga akan memperbarui konten dalam situsnya secara berkala agar konsumen juga terus berdatangan. Situs juga sering menjadi tempat awal kegiatan bisnis terjadi. Dengan mengamati situs pesaing, Anda dapat menemukan produk dan layanan terbaru mereka, atau pengumuman yang mereka rilis untuk para pelanggan. Itu semua penting untuk diketahui.


Jangan lupa mendaftar newsletter via email
Sebagian besar perusahaan memiliki newsletter yang dikirimkan via email kepada para klien dan calon konsumen. Dengan alamat email gratisyang bisa didapatkan sekarang, Anda tak akan terlalu sukar mendaftar newsletter di situs pesaing dan mengetahui pembaharuan terkini tentang bisnis dan perusahaan mereka di kotak masuk surat elektronik Anda.

Ikuti mereka di jejaring sosial
Jejaring sosial menjadi arena berikutnya tempat Anda bisa mengintai pesaing dengan sangat mudah. Di arena terbuka ini, hamper semua perusahaan memiliki akunnya sendiri dan bisa diakses secara bebas dan jika Anda hendak mengetahui apa yang para pesaing Anda katakan selama berinteraksi di jejaring social , Anda bisa membaca update atau tweet mereka kapanpun di manapun.

Daftar di Google Alerts
Setiap hari Google memindai dunia maya untuk Anda dan email yang Anda perbarui yang berhubungan dengan kata kunci tertentu. Ini merupakann cara termudah untuk selalu bisa mengamati gerak-gerik pesaing Anda dan mengetaui apa yang orang katakan mengenai Anda dan perusahaan Anda. Anda juga bisa dengan mudah mengetahui apa yang sedang dibicarakan orang mengenai pesaing Anda.

Tanyalah para konsumen potensial
Sebagian orang merasa kurang nyaman untuk datang dan bertanya secara langsung tetapi konsumen potensial biasanya tak begitu segan memberikan Anda komentar mengenai pesaing. Ingat saja bahwa mereka mungkin membicarakan mengenai Anda juga sehingga pastikan bahwa tidak ada komentar atau ucapan negatif yang terlontar.

Ingatlah untuk mencoba dan mengamati pesaing dari sudut pandang konsumen. Misalnya jika pesaing Anda menjanjikan perbaikan dalam jangka waktu 24 jam dan Anda mengetahui bahwa sukar bagi mereka untuk mewujudkan janji itu tepat waktu, jangan remehkan fakta tersebut. Konsumen Anda tak mengetahui apa yang Anda lakukan dan mungkin akan tertarik pada aspek kecepatan layanan. Dalam pemasaran, jika seseorang mengatakan suatu janji, maka itu benar adanya, meski dalam benak si konsumen.

Sumber gambar:
retaildoc.com

http://ciputraentrepreneurship.com/tips-bisnis/37-advise/19840-5-cara-memantau-pesaing-berat-bisnis-anda.html

Monday, March 12, 2012

Jangan Takut Dengan Pesaing

Views :553 Times PDF Cetak E-mail
Senin, 12 Maret 2012 14:00
world_class_team
Tahun 1990, Kodak, perusahaan film dan kamera dari Amerika Serikat, melakukan lompatan. Kodak memodifikasi kamera film menjadi kamera digital. Untuk tahap pertama, Kodak memodifikasi kamera sesuai dengan keinginan konsumen. Kalau konsumen menyukai kamera Canon atau Nikon, kamera tersebut akan dimodifikasi menjadi kamera digital Canon dan kamera digital Nikon.
Tujuh tahun kemudian, warga dunia terpesona oleh kehadiran kamera digital. Tahun 1999, Kodak membuat kamera digital. Nikon dan Canon juga memproduksi kamera dengan teknologi yang tergolong sangat canggih. Tahun 2002, terjadi boom kamera digital. Kamera film tergerus.
Dalam persaingan ketat, pasar dunia lebih menyukai dua produk Jepang, Nikon dan Canon. Kodak berjuang, tetapi kalah telak. Kamera lainnya, Leica dan AGFA, juga tergeser. Hukum ekonomi yang berbicara. Siapa yang mampu menawarkan produk dengan mutu prima dan harga murah, dialah yang disukai.
Awal tahun ini muncul kabar, Kodak yang menjadi pionir kamera dan cetak foto sejak berusia 133 tahun lalu resmi mengajukan permohonan perlindungan kepailitan. Dunia terperangah sebab Kodak adalah aset dan pelaku sejarah foto. Pujian terhadap Kodak pun tidak pernah surut. Foto yang dicetak Kodak selalu bertahan lama. Akan tetapi, perusahaan ini ternyata keasyikan bermain kualitas, lupa pada pemasaran, penjualan yang agresif, dan survei lapangan.
Tumbangnya Kodak dan sejumlah perusahaan kamera dari merek lain sungguh mengingatkan kita bahwa kelengahan adalah awal dari kejatuhan. Tidak mudah menjadi perusahaan nomor satu di dunia. Sebetulnya, kalau Kodak ingin bertahan, secara teori tidaklah sulit. Sebagai perusahaan raksasa, ia punya dana untuk riset, survei lapangan, pemasaran, penjualan, dan promosi. Dari beberapa faktor ini, pasti ada yang diabaikan Kodak.
Tentu tidak hanya Kodak yang bernasib seperti ini. Ada banyak raksasa lain yang menderita karena terlambat bereaksi atau bereaksi, tetapi tidak efektif. Sejumlah maskapai penerbangan yang sangat masyhur kini dipinggirkan oleh maskapai penerbangan baru beberapa dari Asia.
Di dalam negeri, juga banyak drama jatuh bangun perusahaan atau usahawan besar. Intinya, jangan remehkan pesaing. Perlu rencana taktis, berani, dan cepat mengambil putusan. Cepat membaca situasi bisnis.
Budi Hartono, pemimpin Djarum, sadar bahwa rokok adalah bisnis masa lalu. Dengan intuisi bisnis yang tajam, ia membeli sebagian besar saham BCA, membesarkan usaha elektronik, masuk properti, dan tetap menjaga perusahaan rokok Djarum. Kini, Djarum menjadi raksasa bisnis di Indonesia. Budi Hartono bahkan pengusaha terkaya di Indonesia. (sumber: kompas.com/ *Sept)

Sumber:
http://www.ciputraentrepreneurship.com/tips-bisnis/175-penjualan-dan-pemasaran/15171-jangan-takut-dengan-pesaing.html