Showing posts with label perencana keuangan. Show all posts
Showing posts with label perencana keuangan. Show all posts

Thursday, September 13, 2012

Siapapun Bisa Menjadi Kaya

Perencana Keuangan
Siapapun Bisa Menjadi Kaya (1)
Selasa, 28 Agustus 2012 | 08:48 WIB

SHUTTERSTOCKIlustrasi

KOMPAS.com - Pembaca Kompas.com yang bijak, Lebaran baru saja berlalu, pengeluaran uang dalam jumlah yang besar telah dilakukan. Setelah Lebaran usai, kini saatnya anda melakukan akumulasi kekayaan dengan tujuan agar pertumbuhan aset maksimal atau dengan bahasa sederhana kita membuat diri kita menjadi kaya! Anda mau?

Nah artikel berikut ini merupakan salah satu cara yang dapat anda lakukan agar bisa menjadi lebih kaya secara finansial. Paparan ini jika dilakukan dengan disiplin akan membuat diri anda berpotensi besar menjadi kaya. Ini berlaku bagi siapa saja tanpa memandang besarnya penghasilan perbulannya.

Sekali lagi yang terpenting anda mampu untuk melakukannya secara disiplin terhadap penghasilan anda setiap bulannya, jika tidak disiplin maka dapat dipastikan paparan ini tidak ada manfaatnya bagi pertumbuhan aset anda. Namun bagi anda yang mampu untuk disiplin secara konsisten maka potensi peningkatan aset keuangan anda sangat besar, marilah kita mulai secara bertahap.

Tahap 1 – Difinisi Kaya
Setiap orang memiliki difinisi yang berbeda terhadap ‘Kaya’, namun kami membatasinya dalam memandang kekayaan secara finansial saja, jadi di luar itu kami tidak membahasnya. Bagaimana dengan aset non finansial seperti kendaraan, rumah dan barang-barang lain?, untuk hal itu dipersilahkan untuk melakukan konversi teradap aset non finansial menjadi aset finansial (lakukan valuasi aset tersebut menjadi harga pasar wajar).

Baiklah, kita kembali kepada difinisi kaya: Kaya adalah suatu hasil pertumbuhan dari investasi yang telah dilakukan dan pertumbuhannya berhasil melampaui inflasi dari suatu negara di mana sang investor tersebut menetap.

Jadi berdasarkan penjelasan diatas maka seseorang tidak akan bertambah kaya jika dia:
• Tidak melakukan investasi;
• Melakukan investasi tetapi pertumbuhan hasilnya dibawah inflasi.

Marilah kita melakukan introspeksi secara objektif atas diri kita sendiri, sudahkah kita melakukan?:
• Investasi baik di sektor riil maupun sektor finansial?;
• Dalam melakukan investasi apakah kita sudah mengenal karakter profil resiko diri kita sendiri?, apakah kita termasuk dalam golongan konservatif, moderat atau agresif?

Demikian pembaca yang bijaksana, hal diatas adalah merupakan koridor pertama yang harus dilalui jika kita ingin merealisasikan pertumbuhan aset finansial secara signifikan. Untuk melakukannya wajib ada pengorbanan dari sisi keuangan. Pemasukan anda dibelanjakan dengan ketat demi masa depan keuangan yang lebih baik (bukankah anda ingin kaya kelak?).
Uang anda hanya untuk memenuhi kebutuhan rutin dan bukan keinginan rutin
Uang anda hanya untuk memenuhi kebutuhan rutin dan bukan keinginan rutin, sekali lagi bukan keinginan sehingga terjadi efisiensi minimal sebesar 10 persen dari pendapatan anda setiap bulannya. Dengan kalimat sederhana, pendapatan yang dapat digunakan hanya sebesar 90 persen.
Tahap 2 – Lakukan Investasi Bukan SpekulasiSetelah kita sisihkan minimal 10 persen dari pendapatan maka langsung investasikan dana tersebut. Sesungguhnya ada batasan tipis antara investasi dan spekulasi, begitu tipisnya ‘benang’ ini sehingga sering kali seseorang tidak menyadari bahwa ia sedang terjerumus dalam spekulasi.
Untuk menghidarinya, berikut ini bisa dijadikan rambu atau pedoman agar kita tidak terjerumus dalam jurang ‘spekulasi’. Dalam melakukan investasi di sektor finansial seseorang wajib untuk:
• Menentukan jangka waktu investasi yakni:
o Jangka pendek <=1 tahun, potensi hasil investasi rendah;
o Jangka menegah 1 <= 3 tahun, potensi hasil investasi sedang;
o Jangka panjang > 3 tahun, potensi hasil investasi tinggi.

Untuk menentukan jangka waktu cukup dengan mengetahui tujuan investasinya, misal investasi untuk pendidikan tinggi anak (usia saat ini 12 tahun), maka dana pendidikan tersebut diperlukan 6 tahun dari sekarang, berarti investasi yang dilakukan jangka panjang, dan lain sebagainya.

Sebagai catatan penting:
o Potensi hasil investasi bukan merupakan jaminan, maksudnya adalah hasil investasi dapat berada diatas ataupun dibawah dari hasil yang direncanakan;
o Investasi bisa mengalami pertumbuhan yang besar, sedang maupun kecil bahkan tidak mustahil dapat mengalami kerugian, investasi sangat berhubungan dengan resiko. Nah untuk mengeliminir resiko kerugian maka penentuan jangka waktu investasi menjadi sangat wajib;
o Jika ada investasi yang menjanjikan tingkat imbal hasil secara fix atau tetap maka berhati-hatilah, biasanya iming-iming pengembalian yang sangat luar biasa besar setiap bulannya (agar menarik calon investor). Untuk diketahui bahwa investasi dimanapun tidak bisa menjanjikan tingkat pengembalian yang tetap, mengapa?, karena investasi berkorelasi langsung dengan resiko. Jadi semakin besar potensi tingkat pengembalian maka semakin besar pula potensi resikonya. Berdasarkan data biasanya investasi yang seperti ini dapat dengan cepat menggerus modal anda hingga habis, ludes.

• Alokasikan uang anda pada kendaraan yang tepat
Berbicara investasi di sektor finansial maka berdasarkan hasil riset secara empiris bahwa alokasi aset memegang peranan terbesar (sekitar 90 persen) dalam hal pertumbuhan hasil investasi, sisanya adalah rumor (kabar angin) dan momentum (saat masuk dan keluar investasi), nah kalau hasil riset investasi di sektor finansial sudah membuktikan demikian maka saatnya kita memilih kendaraan yang tepat untuk investasi kita.
Kami merekomendasikan sebagai pemula sebaiknya alokasikan investasi anda di intrumen Reksa Dana, mengapa demikian?, karena kendaraan investasi reksa dana memiliki ‘supir yang berlisensi’, ya bagaikan supir kendaraan ia memiliki ijin atau lisensi dari Bapepam sehingga kendaraan tersebut relatif aman, asalkan kita tepat memilih kendaraan tersebut, nah bagaimana caranya?
Berikut adalah tahapan yang kami ilustrasikan untuk seorang investor reksa dana pemula:
lustrasi Tabel Alokasi Investasi untuk Investor
Jangka waktu
Tenor investasi
Saran kendaraan investasi
Bobot atas alokasi kendaraan investasi (%)
Konservatif
Moderat
Agresif
Jangka pendek
<= 1 Thn
Reksa Dana Pasar Uang (RDPU)
80
50
40
Reksa Dana Pendapatan Tetap (RDPT)
20
45
50
Reksa Dana Campuran (RDC)
0
5
10
Jangka menegah
1 <= 3 Thn
Reksa Dana Pendapatan Tetap (RDPT)
60
40
0
Reksa Dana Campuran (RDC)
40
60
100
Jangka panjang
> 3 Thn
Reksa Dana Campuran (RDC)
60
50
0
Reksa Dana Saham (RDS)
40
50
100
 Catatan penting:                  
Tabel ini hanya ilustrasi untuk pemula bukan merupakan keharusan        
Untuk lebih jelasnya silahkan melakukan konsultasi dengan Perencana Keuangan Anda     

Setelah kita mengetahui kisaran aset alokasi yang tepat, langkah selanjutnya adalah menentukan target pertumbuhan reksa dana, bagaimana caranya? Nantikan penjelasannya di artikel yang akan kami sajikan dalam waktu dekat.
 
Siapa Pun Bisa Menjadi Kaya (2)
Kamis, 13 September 2012 | 07:34 WIB

ShutterstockIlustrasi

KOMPAS.com - Seperti dijelaskan pada artikel kami yang pertama bahwa batasan antara investasi dan spekulasi adalah tipis sekali, sering kali dalam melakukan investasi kita tidak memiliki batas minimal pertumbuhan dana yang kita inginkan, memang semua orang pasti senang dengan pertumbuhan dana yang sebesar-besarnya, namun alangkah bijaknya jika kita waspada.
Secara psikologis ada dua sifat yang kerap kali menghinggapi investor, yaitu takut (fear) dan tamak (greedy).
Menenentukan target pertumbuhan reksa dana.
Berdasarkan fakta yang ada, kita berpotensi menjadi takut ketika nilai investasi kita menurun atau modal kita menjadi sangat berkurang, sebaliknya kita berpotensi menjadi tamak ketika nilai investasi kita sedang meningkat secara signifikan.
Dalam kondisi sedang meraih untung, umumnya perasaan tamak terus menghantui sehingga dengan mudahnya investasi terus ditambah (kondisi high return high risk pun terlupakan) harapannya adalah mendapat keuntungan yang sebanyak mungkin. Jika ternyata untung maka kita tersenyum, namun sebaliknya jika rugi, hmm, tentu sangat menyesakkan hati. Nah pada kondisi seperti itulah investasi berubah menjadi spekulasi.
Sekali lagi untuk menghindari spekulasi dalam berinvestasi di sektor finansial, kita wajib menentukan 2 hal yakni:
1. Jangka waktu;
2. Target pertumbuhan minimal yang ingin dicapai.
Dengan melakukan dua hal di atas maka investasi yang dilakukan berada dalam jalur yang benar. Mengenai penjelasan penentuan jangka waktu telah dijelaskan pada artikel kami yang pertama.
Berikutnya untuk menentukan target pertumbuhan minimal, calon investor mutlak mengetahui pertumbuhan rata-rata dari reksa dana yang akan dipilihnya, di sini penulis membagi menjadi 4 (empat) kelompok besar reksa dana. Tabel berikut merupakan hasil olahan data dari seluruh performa reksa dana tersebut yang masih aktif di Indonesia:


Rata-rata pengembalian (return) reksa dana di Indonesia - data hingga 24 Agustus 2012
 
 
 
RDPU
RDPT
RDC
RDS
 
5.134%
12.401%
12.509%
16.225%
 
rata-rata 1 tahun
rata-rata 3 tahun
 
 
 Keterangan:
1. Reksa Dana Pasar Uang (RDPU);
2. Reksa Dana Pendapatan Tetap (RDPT);
3. Reksa Dana Campuran (RDC);
4. Reksa Dana Saham (RDS);
5. Sampling data tingkat pengembalian (return) reksa dana (kecuali reksa dana pasar uang) diambil selama 3 tahun terakhir serta dihitung secara aritmatik menjadi rata-rata tahunan (data selama 3 tahun dibagi 3),data terakhir pertanggal 24 Agustus 2012.
Untuk lebih jelasnya kami memberikan contoh berikut dari seorang investor yang melakukan investasi di sektor finansial:
Seorang bapak berusia 30 tahun memiliki kebutuhan untuk meningkatkan kekayaannya sebagai berikut:
1. Ingin memberikan warisan kepada anaknya ketika kelak berusia 25 tahun sebesar minimal Rp 800 juta, usia anak saat ini 2 tahun;
2. Ingin memiliki modal usaha sebesar Rp 450 juta, 10 tahun dari sekarang.
Saat ini sang bapak memiliki deposito senilai Rp 25 juta yang dibagi menjadi Rp 10 juta untuk warisan dan Rp 15 juta untuk usahanya kelak.
Nah untuk mencapai keinginannya maka sang bapak wajib melakukan:
• Perhitungan investasi yang harus dilakukan setiap bulannya agar kebutuhan No. 1 dan No. 2 dapat tercapai, adalah sebesar:
o Rp 132.000 selama 23 tahun agar tersedia dana sebasar Rp 800 juta;
o Rp 1.250.000 selama 10 tahun agar tersedia dana sebesar Rp 450 juta;
o Jadi total dana yang harus di investasikan pada reksa dana setiap bulan dalah sebesar Rp 1.382.000.
Agar mudah silahkan melihat dalam bentuk tabel:
Untuk Warisan:
Jumlah yang sudah tersedia saat ini
 
 
 Rp                   10,000,000.00
Waktu yang tersedia untuk investasi
 
 
23 Tahun
Target investasi Anda 23 tahun yang akan datang
 
 
 Rp                 800,000,000.00
Target hasil investasi (minimal per tahun)
 
 
16.225%
Pajak (per tahun)
 
  
0.00%
Target hasil investasi bersih (minimal per tahun)
 
 
16.225%
Besar investasi Anda setiap awal bulan
 
 
 Rp                       131,919.30
 
Untuk Modal Usaha:
Jumlah investasi Anda saat ini
 
 
 Rp                   15,000,000.00
Waktu yang tersedia untuk investasi
 
 
10 Tahun
Target investasi Anda 10 tahun yang akan datang
 
 
 Rp                 450,000,000.00
Target hasil investasi (minimal per tahun)
 
 
16.225%
Pajak (per tahun)
 
  
0.00%
Target hasil investasi bersih (minimal per tahun)
 
 
16.225%
Besar investasi Anda setiap awal bulan
 
 
 Rp                    1,246,700.92

 Catatan:
Perhitungan investasi di atas adalah berdasarkan hasil perhitungan dalam ‘Aplikasi TGRM untuk Menggapai Kekayaan’ (Aplikasi diberikan gratis kepada pembaca Kompas.com dengan cara melakukan add PIN BB 29788928 atau SMS ‘Aplikasi TGRM’ kirim ke 0816 132 4712).

Kemudian bagaimana kita dapat memilih produk dan perusahaan reksa dana dengan tepat?, berikut adalah beberapa hal yang harus dipertimbangkan oleh investor pemula:
1. Return atau tingkat pengembalian yang merupakan kinerja reksadana secara historis harus optimal, sesuai dengan tingkat risiko yang dihadapinya, contoh Reksa Dana Saham (RDS) lebih berisiko dibanding dengan Reksa Dana Pendapatan Tetap (RDPT), namun Reksa Dana Pendapatan Tetap lebih berisiko dari Reksa Dana Pasar Uang (RDPU). Tolok ukur (Benchmark) return harus relevan dengan jenis reksadana tersebut, contoh:
• IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan) dengan RDS;
• Indeks Obligasi Pemerintah dengan RDPT;
• Sertifikat Bank Indonesia (SBI) dengan RDPU
Jadi Anda dapat menanyakan kepada wakil agen penjual reksa dana tersebut mengenai tolok ukur versus kinerja reksa dana yang akan kita pilih tersebut.
2. Sharpe Ratio (SR), rasio ini berfungsi untuk mengukur konsistensi dari kinerja return dalam kurun waktu yang relatif panjang. Selain itu, Anda juga perlu menanyakan Standar Deviasi (SD). Secara awam SD adalah cerminan risiko di reksa dana tersebut secara historis, jadi SD semakin rendah berarti reksa dana relatif tidak terlalu berisiko, sedangkan SR semakin tinggi berarti kinerja relatif lebih baik. Jika ingin mengetahui lebih dalam mengenai metode Risk and Return, ini silakan dipelajari di sini: http://www.efmoody.com/investments/sharperatio.html

3. Untuk melihat tingkat kepercayaan nasabah ada baiknya membeli reksa dana yang dikeluarkan oleh Manajer Investasi (MI) yang telah mempunyai Dana Kelolaan atau Asset Under Management (AUM) 10 terbesar di Indonesia, silakan anda melakukan browsing via internet untuk mengetahuinya. Namun, ini bukan suatu hal yang mutlak karena AUM berbanding lurus dengan lamanya produk atau perusahaan tersebut beroperasional di Indonesia.

4. Biaya, perhatikan biaya masuk (subscription), biaya managemen, biaya switching (jika ada) serta biaya keluar (redemption). Biaya bukan sekedar pernik, tetapi dapat mempengaruhi pertumbuhan aset Anda secara jangka panjang.

Setelah kita mengetahui bagaimana memilih perusahaan dan produk reksa dana yang tepat maka langkah selanjutnya adalah melakukan implementasi atas perhitungan dan seluruh perencanaan serta analisa-analisanya.

Sebagai informasi implementasi reksa dana dapat dilakukan pada beberapa pintu masuk yakni:
1. Perusahaan Manajer Investasi secara langsung;
2. Bank sebagai Agen Penjual Reksa Dana.

Demikian pembaca yang bijak, tanpa implementasi investasi Anda tidak akan menjadi kaya karena seseorang akan menjadi kaya melalui investasi bukan sebaliknya kita menunggu menjadi kaya dahulu baru melakukan investasi. Selamat melakukan implemantasi investasi Anda. (bersambung)
--
Taufik Gumulya, CFP
Wealth & Financial Planner pada TGRM Perencana Keuangan

Editor :
Erlangga Djumena
 
http://nasional.kompas.com/read/2012/08/28/0848329/Siapapun.Bisa.Menjadi.Kaya.1.
http://nasional.kompas.com/read/2012/09/13/07343530/Siapapun.Bisa.Menjadi.Kaya.2

Friday, August 3, 2012

Bijak Kelola Keuangan Jelang Lebaran

Hits : 113 PDF Cetak E-mail
Jumat, 03 Agustus 2012 08:45
uanglebaran0812Tunjangan Hari Raya (THR) kerap digunakan sebagai andalan dalam memenuhi kebutuhan hari raya Idul Fitri. Namun, sebenarnya, dana pengeluaran hari raya ini bisa disiapkan jauh-jauh hari, yaitu dengan menyisihkan 5-10 persen dari penghasilan bulanan.

Dana itu bisa digunakan untuk pos dana mudik, misalnya membeli tiket atau persiapan kendaraan pribadi.

"Jika ada dana tersendiri, ketika mendapat THR, dapat dialokasikan untuk tabungan," ujar Asset Product and Marketing Head Citi Indonesia, Jacqueline Hartono.

Bagi Anda yang belum berkeluarga, dana ini bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan jangka panjang. Sementara itu, untuk pasangan bekerja, THR suami bisa digunakan bagi keperluan Lebaran, dan THR istri bisa ditabung atau investasi. Yang penting, sisakan THR untuk ditabung atau investasi.

Cermat menggunakan uang ketika Ramadan juga sangat penting, karena pada bulan puasa, masyarakat sering terjebak dalam pola hidup konsumtif. Disiplin dalam mengelola anggaran bisa dilakukan dengan hal-hal sederhana, seperti pertama, lebih selektif memilah budaya buka puasa bersama keluarga sahabat dan kerabat.

Tanpa disadari, kegiatan silaturahmi ini cukup menguras kantong. Oleh karena itu, tentukan prioritas Anda. Kedua, jangan tergoda berbagai promo yang gencar ditawarkan retailer di bulan puasa. "Ingat dan bedakan mana keinginan serta mana kebutuhan pokok Anda," ujarnya.

Ketiga, tentukan anggaran belanja terlebih dahulu dan disiplin mematuhinya. Budaya serba baru di hari raya juga bukan merupakan suatu kewajiban. Terakhir, gunakan kartu kredit secara bijak dan sesuai proporsi. (VIVA.co.id)

http://ciputraentrepreneurship.com/component/content/article/209-personal-finance/19046-bijak-kelola-keuangan-jelang-lebaran.html

Friday, January 20, 2012

Inilah Tips Mengelola Gaji

Perencanaan Keuangan
Inilah Tips Mengelola Gaji
R. Adhi Kusumaputra | Robert Adhi Ksp | Kamis, 19 Januari 2012 | 20:38 WIB

Robert Adhi Ksp/KOMPAS Eko Endarto, financial planner saat berbicara di kantor Redaksi Kompas, Kamis (19/1/2012).
JAKARTA, KOMPAS.com - Ada direktur yang gajinya Rp 85 juta, namun utangnya 60 persen dari jumlah gajinya. Tapi ada karyawan yang gajinya tidak sebesar itu, namun memiliki aset yang nilainya terus meningkat. Bagaimana kita harus mengelola gaji? Inilah tips mengelola gaji yang disampaikan Eko Endarto, financial planner saat berbicara di kantor Redaksi Kompas, Kamis (19/1/2012).

Menurut Eko, seseorang disebut kaya, tidak ditentukan dari jumlah uang yang didapat setiap bulan, tetapi dari bagaimana seseorang mengelola gajinya.
Ada empat hal yang perlu diperhatikan untuk bisa mengelola gaji dengan benar. Yaitu, konsumsi, utang, investasi, dan proteksi.
-- Eko Endarto
"Ada orang yang gajinya tinggi, tapi setiap bulan selalu habis karena ia terlalu konsumtif. Bagaimana seorang direktur bergaji Rp 85 juta, malah duitnya habis untuk bayar utang yang jumlahnya 60 persen dari gajinya? Karena pengeluarannya ada 76 macam. Sang direktur menghabiskan gajinya untuk ikut fitnes, ikut main golf, istrinya sering ke spa dan lainnya," ungkap Eko Endarto.

Menurut Eko, ada empat hal yang perlu diperhatikan untuk bisa mengelola gaji dengan benar. Yaitu,  konsumsi, utang, investasi, dan proteksi.

Buatlah prioritas
Dalam hal konsumsi, kata Eko, kita harus membuat prioritas, mulai dari sosial keagamaan, pembayaran cicilan utang, investasi, dan kebutuhan hidup. Dari keempat hal itu, yang tidak terbatas adalah kebutuhan hidup. Karena itu pengeluaran untuk kebutuhan hidup harus dilakukan secara bijak.

Pengeluaran tak ada batasnya, namun pemasukan terbatas. Untuk itulah kita harus bisa menjadikannya wajar dengan mengalokasikan secara tepat.

Pengeluaran untuk sosial keagamaan minimal 2,5 persen, pembayaran cicilan utang maksimal 30 persen, dan untuk investasi minimal 20 persen.  "Utamakan kebutuhan daripada keinginan," ingat Eko.

Bolehkah berutang?
Soal utang, Eko mengingatkan bahwa utang selalu menjadi masalah. Seseorang yang memiliki utang sebenarnya membuat aset yang dibelinya dari hasil utang menjadi tambahan biaya. Seseorang yang memiliki kartu kredit, sebaiknya membayar lunas sebelum jatuh tempo karena jika hanya membayar jumlah minimal, artinya jumlah yang harus dilunasi bertambah dan waktunya makin banyak.

Misalkan seseorang berutang Rp 1 juta, lalu membayar minimalnya 10 persen setiap bulan, artinya yang bersangkutan baru bisa melunasi utangnya selama 29 bulan. "Masalah ini kadang diremehkan. Jika dibiarkan bertahun-tahun, akan menjadi masalah besar. Bahkan seseorang harus keluar dulu dari perusahaannya dan mendapat pesangon, baru bisa membayar utang dari pesangon itu," jelas Eko.

Jadi, kata Eko, utang sebenarnya pengurang kekayaan kita. Utang hanya merupakan penambahan biaya, apalagi aset konsumtif. "Dan hak atas aset kita akan hilang, bila kita tak bisa membayar utang itu.  Seseorang membeli mobil, yang diperoleh malah debt collector, dan asetnya malah hilang.
Namun Eko mengatakan, kita boleh berutang jika pengeluaran itu merupakan kebutuhan yang mendesak. "Misalkan ada anggota keluarga yang sakit, tak ada tabungan, tidak ada penggantian," ujarnya.

Eko menambahkan pula, kita boleh berutang asalkan mendapatkan aset yang produktif. Kalaupun tidak mendapatkan dalam bentuk tunai, tapi nilainya baik.  "Berutanglah untuk aset yang nilainya terus naik,  misalnya membeli properti atau emas," katanya.

Kunci investasi
Eko menjelaskan pula soal pentingnya berinvestasi untuk menjamin keuangan masa depan. Jika hanya menabung, jumlahnya bertambah dan nilainya bertambah, tapi nilainya masih di bawah inflasi. Sedangkan jika berinvestasi, jumlahnya bertambah, nilainya juga bertambah, tapi nilainya lebih tinggi dari inflasi.

Mempersiapkan keuangan di masa depan setelah pensiun sangat penting. Selama ini pensiunan hanya mempersiapkan dari tabungan, pesangon kantor, dan Jamsostek.

Lalu apa kunci investasi? Pertama, miliki tujuan. Kedua, sesuaikan dgn profil risiko. Ketiga, pilih produk yang tepat, Ini kadang tidak diperhatikan dengan benar.

Proteksi
Untuk melindungi diri dan keluarga, apakah Anda sudah mengikuti asuransi? Asuransi jiwa minimal harus bisa mengganti 100 bulan pengeluaran bulanan.

Tapi untuk asuransi kesehatan, jika biaya kesehatan ditanggung perusahaan, apakah masih perlu ikut asuransi kesehatan? "Ambillah yang dibutuhkan, bukan yang ditawarkan," ingat Eko.

Lalu ikutilah juga asuransi kerugian untuk harta benda. Namun jika rumah berada di gunung, untuk apa rumah diasuransikan soal banjir? 
Sumber:
http://nasional.kompas.com/read/2012/01/19/20382191/Inilah.Tips.Mengelola.Gaji