Showing posts with label mainan. Show all posts
Showing posts with label mainan. Show all posts

Tuesday, May 1, 2012

Bisnis Mainan Kayu Tradisional Ini Beromzet Puluhan Juta

Selasa, 01/05/2012 13:35 WIB
Bisnis Mainan Kayu Tradisional Ini Beromzet Puluhan Juta 
Feby Dwi Sutianto - detikFinance




Jakarta - Munculnya berbagai macam produk permainan anak-anak moderen seperti video game, robot, mainan remote control dan sebagainya membuat para pengusaha mainan anak-anak tradisonal kalah bersaing sehingga bahkan banyak yang gulung tikar atau menutup usahanya.

Era moderenisasi yang menggusur usaha mainan anak tradisional. Apakah benar semua usaha mainan anak-anak tradisional tergusur oleh pesatnya peredaran permainan moderen?

Kenyataannya itu tidak terjadi dengan usaha mobil-mobilan tradisonal yang digeluti oleh Ibu Julia. Wanita paruh baya ini, malah berjaya ditengah gempuran permainan anak-anak moderen. Dari usahnya itu, dia bisa menghasilkan omzet mencapai Rp 30 juta per bulan, ia malah mengaku kewalahan memenuhi pesanan dari permintaan mobil-mobilan berbahan baku kayu ini.

Ketika ditemui detikFinance di tokonya di Kawasan Kalibata, Jakarta Selatan, Julia menyebut usaha yang dimulai pada tahun 1970-an. Usahnya pertama kali dimulai oleh suaminya. Ia pun mulai terjun membantu suaminya, tepatnya pada tahun 1986 ketika dia mengalami pemutusan hubungan kerja (PHK)

Ide awal dari usahanya tersebut, berawal dari mainan kayu yang dibuatkan untuk anaknya tetapi kemudian dicoba untuk ditawarkan dan dijual tetapi tanpa disangka-sangka malah memperoleh respon yang positif oleh banyak orang.

"Ini awalnya untuk anak-anak saya, dulu kan pakai plastik dan kok kurang ya. Terus kita coba pakai kayu. Terus coba dijual dan malah laku terjual secara lancar," sebutnya.

Mainan berbahan kayu yang dijual oleh Julia, berupa mobil-mobilan dengan berbagai macam tipe mobil dengan harga yang bervariasi, mulai dari Rp 30.000 sampai Rp 300.000 per buah.

"Mainan paling kecil itu bajaj, bus metromini, trans jakarta, kereta api, truk, mercy," ungkapnya.

Selain itu, ibu Julia juga menerima pesanan mainan mobil-mobilan. Mobilan pesanan itu biasanya untuk keperluan koleksi dan harganya tergantung pada tingkat kerumitan dan juga bahan yang digunakan.

"Harganya bisa sampai Rp 2 juta, tapi ada yang 1 juta, ada yang Rp 500 ribu. Itu tergantung sama bahannya," tambahnya

Menurutnya pelanggan datang dari berbagai kalangan masyarakat, tetapi kebanyakan adalah para orang tua yang ingin membelikan mainan untuk anak atau cucunya. Bahkan ada juga warga negara asing yang juga menjadi pelanggannya.

"Kalau keuntungannya sebulan itu banyak, kalau sehari saja dapet 1 juta. Sebulan dapet 30 juta, kalau keuntungannya lumayan lah, lebih dari setengahnya sebulan (lebih dari Rp 15 juta)," sebutnya.

Ia menuturkan usaha yang digeluti ini bukan tanpa kendala, Julia menyebut harga bahan baku sebagai masalah terbesar dari usahanya tersebut.

"Terutama masalah kenaikan harga cat, paku. Itu pasti dan kesulitannya disitu. Makanya omzetnya, misalkan harga mau naik kita jadi bingung mau kasih harganya. Nanti kalau harga bakal naik, omzet sekarang juga harus dinaikkan juga kalau nggak begitu kita nggak bisa beli lagi (bahan)," tutupnya

Apakah anda tertarik juga dengan model bisnis seperti ini? Jika anda tertarik dan ingin mengetahui tentang bisnis mainan anak ini atau ingin memesan, anda bisa datang ke toko 'Kasih Sayang Anak' di Jalan Raya Pasar Minggu, tepatnya Sebelah Taman Makan Pahlawan Kalibata, Jakarta Selatan.


(feb/hen) Sumber:
http://finance.detik.com/read/2012/05/01/133536/1905953/480/bisnis-mainan-kayu-tradisional-ini-beromzet-puluhan-juta

Friday, March 9, 2012

Tips Berbisnis Mainan Edukatif

Hits : 1740 PDF Cetak E-mail
Jumat, 09 Maret 2012 15:16
mainan_edu0312Ada beberapa hal yang perlu Anda perhatikan saat mengembangkan bisnis mainan edukatif yang Anda buat. Menurut konsultan keuangan Pietra Sarosa dari Sarosa Consulting Group, kita harus lebih kreatif saat membuat desain. Salah satu keunggulan produk kita, Indonesia, dibanding produk negara lain, terutama China, adalah bahannya. Mainan yang kita produksi lebih dikenal baik karena terbuat dari kayu, sementara produk-produk China dibuat dari plastik yang tidak terjamin aspek keamanannya.

Untuk bahan kayu, kita bisa memanfaatkan sisa kayu dari pabrik-pabrik. Banyak pabrik yang mengizinkan limbah kayunya diambil dengan cuma-cuma alias gratis. Kalaupun dikenakan biaya, harganya relatif murah.

Demikian pula jika Anda hendak membuat mainan dari bahan kain. Sebisa mungkin, manfaatkanlah kain sisa. Motif yang tidak selalu seragam justru menjadi sebuah kelebihan karena mainan jadi kaya warna.

Saat bisnis Anda sudah berjalan sukses, lakukanlah pengembangan. Karena pelanggan Anda juga berasal dari kalangan sekolah, Anda bisa menawarkan kepada mereka untuk membuat berbagai perabot sekolah yang menarik bagi anak-anak. Misalnya rak buku, lemari tas, lemari sepatu, lemari mainan, dan masih banyak lagi. Hal yang sama juga bisa ditawarkan kepada pelanggan individu.

Ikutilah saran yang diberikan Pietra agar bisa menjadi pengusaha yang baik:
1. Perhatikan target usia yang dituju. Jangan membuat mainan yang terlalu sulit atau terlalu mudah untuk setiap level.
2. Berkonsultasilah dengan yang ahli dalam dunia anak. Ahli ini bisa saja guru, psikolog, dan juga orang tua.
3. Kembangkan kreativitas. Gali lagi apa yang bisa dikembangkan untuk mainan. Kalau bisa menciptakan mainan yang tidak biasa dan tetap mendidik, usaha Anda bisa menonjol.
4. Cantumkan target usia dalam setiap kemasan mainan. Ini akan sangat membantu orang tua memilih mainan yang cocok bagi anaknya.
5. Sertakan instruksi penggunaan yang jelas dalam kemasan. Kalau bisa, instruksinya dalam bentuk gambar dan tulisan. Ini terutama diperlukan untuk mainan-mainan baru yang tidak biasa.

Produsen mainan seringkah lupa menyertakan instruksi tersebut sehingga orang yang baru pertama kali membelinya jadi kebingungan ketika hendak menggunakannya. Sayang sekali kalau mainan itu malah tidak bisa dimanfaatkan.

Sementara itu, Anna Surti Ariani, psikolog dari Medicare Clinic, menyarankan, sebaiknya dalam instruksi itu juga tercantum apa-apa saja yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Misalnya mainan tidak boleh terkena air.

6. Selalu utamakan keamanan mainan yang diproduksi. Untuk bayi dan batita, buatlah mainan dalam ukuran besar.
7. Miliki tenaga kerja terampil dan teliti. Mereka harus bisa membuat mainan dengan kondisi sesuai standar yang sudah ditetapkan. Tidak asal jadi.
8. Gencarkan promosi. Rajin-rajinlah berpartisipasi dalam bazar, pameran, atau acara lainnya.
9. Jangan lupa memberi nama pada usaha Anda sehingga mudah dikenal. Pilih nama yang unik dan mudah diingat. Apabila memiliki toko, Anda bisa menampilkan satu booth mainan untuk setiap jenis sebagai contoh. Dengan cara ini, pengunjung bisa tahu pasti mainan seperti apa yang dibeli. (*/Kompas.com/ian)

http://www.ciputraentrepreneurship.com/bisnis-mikro/15104-tips-berbisnis-mainan-edukatif.html

Monday, January 16, 2012

Raup Laba dari Mainan Edukasi

Views :185 Times PDF Cetak E-mail
Senin, 16 Januari 2012 10:32
Tak semua mainan anak bersifat mendidik. Oleh karena itu para orangtua harus selektif memilih mainan yang tepat bagi si buah hati. Berbekal hal ini, Alih A.S membuat puzzle sebagai mainan perangsang otak anak. Tidak disangka, mainan ini laris manis hingga luar negeri.

puzzle_0112Bisnis yang berkaitan dengan kebutuhan anak termasuk mainan anak sangat menjanjikan. Selama manusia masih berkembang biak, maka bisnis dengan sasaran anak-anak sebagai konsumen tak akan pernah kehilangan pembeli. Para orang tua juga tak keberatan keluar duit untuk membelikan mainan anak.

Bahkan, orangtua tak segan-segan merogoh kocek dalam-dalam jika mainan tersebut dapat merangsang kecerdasan si buah hatinya. Masalahnya, bukan perkara mudah mencari mainan anak yang mendidik. Beberapa jenis mainan malah membuat anak makin konsumtif. Bagi, Alih kondisi ini adalah peluang bisnis.

Alih kemudian membuat mainan puzzle sebagai salah satu mainan alternatif bagi anak. Puzzle buatan Jumadi memang unik. Ada yang berbentuk bola, kubus, silinder, dan sebagainya. Puzzle berbahan kayu buatannya laris manis. Namun buah manis Alih tak didapat dengan mudah begitu saja.

"Pada awalnya usaha ini hanya memproduksi alat-alat dapur dari kayu," kata Alih. Namun seiring perkembangan zaman dan celah bisnis, Alih membuat alat-alat peraga edukatif berupa puzzle. Namun karya alih tak langsung dikenal publik. Alih pun rajin ikut pameran yang diadakan pemda setempat.

Menurut Alih, bahan baku alat peraga edukatif sangat mudah didapat. Namun ada kendala pada bahan baku pendukung seperti cat. Sebab harga cat terus naik setiap tahun. Alih menambahkan, agar usahanya tetap lancar, dia harus selalu berinovasi dengan bentuk baru sehingga anak-anak tidak bosan. (*/liputan6.com)

Sumber:
http://ciputraentrepreneurship.com/manufaktur/14351-raup-laba-dari-mainan-edukasi.html

Tuesday, September 6, 2011

Paul Budnitz, Sukses dengan Mainan Berdesain Unik

PDF Cetak E-mail
Senin, 05 September 2011 11:05
Paul Budnitz adalah founder Kidrobot, perusahaan yang memproduksi mainan limited-edition. Dibanding dengan mainan lainnya, produk Budnitz memiliki karakter dan desain yang unik. Selain mainan, Kidrobot juga bergerak di bidang desain grafis, ilustrasi, desain industri, graffiti dan musik. Lima tahun mengelola bisnis yang sarat akan kreatifitas ini, Budnitz sukses membuka sejumlah toko dan galeri seni Kidrobot di New York, Los Angeles serta San Francisco.

kidrobotIde mendirikan Kidrobot timbul saat Budnitz bekerja di studio film animasi. Pekerjaan itu rupanya membuat Budnitz ketagihan mengoleksi mainan yang berasal dari Jepang dan Hong Kong. Terdorong oleh rasa candunya tersebut, Budnitz lalu hijrah ke China untuk membuka jaringan dengan pabrik-pabrik pembuat mainan. Tujuannya hanya satu, Budnitz berniat memproduksi mainan rancangannya sendiri.

Desain Kidrobot terlihat unik. Ini dipengaruhi oleh selera fashion Budnitz yang berkiblat pada rancangan kelas dunia seperti Louis Vuitton, Marc Jacobs, Comme des Garcons dan Hysteric Glamor. Gaya gothik, death rocker dan tren-tren yang berkembang di era tahun 1980-an juga turut memengaruhi desain Kidrobot secara keseluruhan. Tak heran bila rancangan produk Kidrobot menyimpan seni keindahan yang tampak berbeda dibanding dengan produk sejenis lainnya.

Budnitz memakai sistem limited-edition sebagai business model-nya. “Jika hanya memproduksi 200 buah mainan atau produk lain seperti baju misalnya, maka saya hanya butuh 200 konsumen untuk membeli produk tersebut,” jelas Budnitz kepada situs Graphics.com. Cara ini memang terlihat berbeda dengan model bisnis manufaktur lain tapi cukup ampuh untuk menghasilkan profit yang lebih tinggi. “Coba lihat Gucci. Bila rumah mode itu mengeluarkan tas limited edition, harga yang dipasang akan jauh lebih tinggi dibanding dengan tas bermodel standard,” lanjut Budnitz.

Kelemahan sistem limited edition seperti diakui oleh Budnitz adalah seberapa pun besarnya permintaan akan produk tersebut namun produsen tak bisa memproduksinya kembali dalam jumlah yang lebih besar. Itu adalah salah satu konsekuensi yang harus dibayar bila memasarkan produk limited edition. Produsen harus konsekuen dengan model bisnis yang telah diambilnya. “Hal itu takkan menjadi masalah karena kami memiliki ide dan kreatifitas tinggi untuk mencipta produk yang lebih unik lagi,” tutur Budnitz. (*/ely)

Sumber:
http://ciputraentrepreneurship.com/entrepreneur/internasional/bisnis/10836-paul-budnitz-sukses-dengan-mainan-berdesain-unik.html