Showing posts with label kepiting. Show all posts
Showing posts with label kepiting. Show all posts

Wednesday, May 9, 2012

BUDIDAYA KEPITING SOKA

BUDIDAYA KEPITING SOKA

Kepiting soka capit laba dengan cangkak lunak (1)


Kepiting soka capit laba dengan cangkak lunak (1)

Lantaran cangkangnya lunak dan bisa dimakan, kepiting soka kini makin diminati konsumen. Tak heran, kepiting ini mulai ramai dibudidayakan. Pelanggan utamanya adalah restoran. Dengan harga jual Rp 55.000 - Rp 75.000 per kilogram, omzet budidaya kepiting soka bisa mencapai Rp 2,6 juta per hari.

Kepiting soka atawa kepiting bakau memiliki cangkang yang lunak. Hewan ini digemari karena sanggup menghadirkan cara baru menyantap kepiting. Dengan cangkang lunak, kita tak perlu lagi bekerja keras memecahkan cangkang dan mengorek-ngorek daging di dalam cangkang.

Dari segi fisik, bentuk kepiting ini sama dengan kepiting jenis lainnya. Hanya dalam proses budidaya, saat masih usia 10 - 12 hari, kepiting soka digunting kaki serta capitnya. Sehingga, yang tersisa hanyalah kaki renangnya saja.

Setelah itu, kepiting akan mengalami pergantian kulit yang lebih lunak atau moulting. Cangkang lunak itulah yang menjadi kelebihan dari kepiting soka.

Rukiyanto, salah seorang pembudidaya kepiting soka dari Sidoarjo, Jawa Timur mengatakan, prospek usaha budidaya kepiting soka saat ini makin menggiurkan. Sebab, permintaan kepiting jenis ini terus meningkat. Selain rumah tangga, konsumen utama kepiting ini adalah hotel dan restoran.

Menurut Rukiyanto, dalam sebulan ia bisa menjual lebih dari 300 kilogram (kg) kepiting soka. Kepiting itu ia jual dengan harga Rp 55.000 per kg. Tiap bulan, dia dapat meraup omzet sekitar Rp 17 juta hingga Rp 20 juta. Adapun laba bersihnya lebih dari 10% dari omzet.

Selain Sidoarjo, pelanggan Rukiyanto selama ini datang dari Jakarta, Malang, Bali, bahkan Batam. "Popularitas kepiting soka semakin naik lantaran permintaan masyarakat semakin meningkat," ungkap Rukiyanto.

Sebetulnya, dia menjelaskan, kepiting soka sudah lama ada. Tapi, baru belakangan ini mulai banyak dilirik seiring meningkatnya permintaan kepiting ini.

Ariyanti Astuti, pengelola UD Tiga Gading Jaya di Sidoarjo, bilang, kepiting soka merupakan hasil rekayasa budidaya sehingga menghasilkan cangkang lunak. "Pemotongan kaki dan capit itu yang mempengaruhi pelunakan dengan pergantian kulit, sehingga tempurungnya tidak balik lagi. Kalau jenisnya, ya, jenis kepiting bakau," jelas Ariyanti.

Dalam membudidayakan kepiting soka, Tiga Gading Jaya bekerja sama dengan dua pembudidaya di daerah Sidoarjo. Ariyanti mengaku, permintaan kepiting soka dalam dua tahun terakhir cenderung meningkat.

Dalam sehari, Ariyanti bisa menerima pesanan sebanyak 40 kg hingga 50 kg. Dia melego kepiting soka dengan harga lebih tinggi, yakni Rp 65.000-Rp 75.000 per kg. Dengan harga jual tersebut, omzetnya dalam sehari bisa mencapai Rp 2,6 juta. "Kebanyakan pelanggan kami restoran dari Surabaya dan Jakarta," katanya.

Selain rasanya yang lezat, kepiting ini banyak peminat karena kandungan gizinya yang tinggi. "Kandungan kalsium dan zat besinya tinggi," tutur Ariyanti.

 

Kepiting soka: Perhatikan pemilihan bibit (2)

Kepiting soka: Perhatikan pemilihan bibit (2) Budidaya kepiting soka dapat dilakukan di keramba bambu yang ditaruh di tengah kolam atau tambak. Untuk mendapatkan hasil yang maksimal, ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam budidaya kepiting ini. Di antaranya proses pemotongan capit dan kaki, serta pemberian pakan.

Budidaya kepiting soka atawa kepiting bakau gampang-gampang susah. Hal utama yang perlu diperhatikan adalah pemilihan bibit. Umumnya, bibit kepiting yang baik memiliki bobot maksimal setengah ons, dengan usia rata-rata 10-12 hari.

Setelah mendapatkan bibit yang cocok, kepiting lalu dimasukkan ke dalam tambak selama satu hari sebagai bagian dari proses adaptasi. Setelah adaptasi, bisa dilakukan pemotongan kedua capitnya dan keenam kaki jalannya. Sementara kaki renangnya dibiarkan utuh.

Proses pemotongan ini yang sangat menentukan keberhasilan panen kepiting soka. Bila salah gunting dan menimbulkan pendarahan, bisa-bisa bibit keburu mati sebelum sampai tahap pergantian kulit yang lunak.

“Jadi pemotongannya itu perlu ketelitian dan ini yang cukup sulit ya,” ujar Ariyanti Astuti, pengelola UD Tiga Gading Jaya, perusahaan pembudidaya kepiting soka di Sidoarjo.

Setelah pemotongan, kepiting dimasukkan lagi ke dalam keramba tambak dan dipelihara selama sekitar 15 hari. Bila dilakukan perawatan dengan benar, maka setiap satu bulan kepiting sudah bisa dipanen. Ariyanti menyarankan, agar tambak yang digunakan memiliki konstruksi yang kuat.

Selain itu, di kolam tambak perlu dibuat keramba bambu atau kurungan. Hal itu penting untuk mencegah kepiting melarikan diri dan masuknya hama dari luar.

Ukuran keramba bambu itu kurang lebih 2 meter (m) x 1 m x 1 m. Keramba tersebut bisa menampung sekitar 60-70 ekor kepiting. Setelah panen, bobotnya mencapai 15-25 kilogram (kg).

Dengan harga Rp 65.000 per kg, maka nilai kepiting setiap satu keramba sekitar Rp 900.000 per bulan. Itu sudah termasuk perhitungan risiko kematian kepiting sebanyak 20% selama budidaya.

"Kalau ingin mendapatkan omzet lebih besar, buatlah keramba sebanyak-banyaknya," ujar Ariyanti.

Rukiyanto, pembudidaya lainnya menambahkan, untuk mendapatkan pertumbuhan maksimal, pemberian pakan kepiting harus diperhatikan. Ia menyarankan, kepiting diberi pakan alami, seperti cacing atau hancuran daging siput. Pakan diberikan dua kali sehari, setiap pagi dan sore hari.

Menurut Rukiyanto, dengan pemberian pakan teratur, kepiting sudah bisa dipanen dalam waktu 20 hari setelah dimasukkan ke dalam tambak. Sementara saat melakukan pemotongan atau cutting, sebaiknya dilakukan secara perlahan.

Setelah dipotong, kepiting juga jangan langsung dilempar ke dalam keramba bambu. Tujuannya, supaya kepiting tidak tambah stres. "Jadi setelah proses cutting, letakkan kepiting dengan perlahan-lahan," ujarnya.

(Selesai)
Sumber:
http://peluangusaha.kontan.co.id/news/kepiting-soka-capit-laba-dengan-cangkak-lunak-1



Thursday, April 19, 2012

Bisnis olahan kepiting Graha Makmur kian gurih

OLAHAN KEPITING



Bisnis olahan kepiting Graha Makmur kian gurih

JAKARTA. PT Graha Makmur Cipta Pratama, menargetkan ekspor produk olahan kepiting naik 45% pada kuartal II tahun ini. Respon pasar yang positif, serta suplai bahan baku yang lancar menjadi penunjang eskpor.

Saimi Saleh, Direktur PT Graha Makmur Cipta Pratama mengatakan, ekspor kepiting olahan kuartal II tahun ditargetkan naik menjadi 16 kontainer atau sekitar 240 ton. Jumlah ini naik 45% dibandingkan realisasi ekspor kepiting kuartal I sebanyak 165 ton.

Sekedar informasi, Graha Makmur Cipta Pratama merupakan anak usaha dari Indokom Group yang berdiri sejak 1994. Awalnya, perusahaan ini bergerak dibidang ekspor kopi dan tambak udang saja.
Hingga kini, Graha Makmur Cipta Pratama sudah memiliki dua pabrik pengolahan kepiting yang berlokasi di Purwakarta dan Gresik Jawa Timur.

Kapasitas terpasang pabrik pengolahan kepiting yang berada di Purwakarta mencapai 600 ton per tahun, sedangkan pabrik pengolahan di Gresik lebih besar yakni sekitar 1.500 ton per tahun. "Kuartal II tahun ini, pabrik yang berada di Gresik sudah mulai beroperasi," kata Saimi.

Rencananya, Graha Makmur Cipta Pratama akan menambah pabrik pengolahan ikan baru di Makassar tahun ini juga. Meski demikian, Saimi bilang, pembangunan pabrik baru akan melihat kinerja pabrik di Gresik. Saimi memperkirakan, dana untuk pabrik itu mencapai Rp 20 miliar.

Sumber:
http://industri.kontan.co.id/news/bisnis-olahan-kepiting-graha-makmur-kian-gurih/?utm_source=twitterfeed&utm_medium=twitter

Monday, January 23, 2012

Peluang ekspor kepiting tetap menggiurkan

Industri

 
Senin, 23 Januari 2012 | 15:38  oleh Handoyo
EKSPOR KEPITING
Peluang ekspor kepiting tetap menggiurkan
JAKARTA. Krisis perekonomian yang melanda Amerika Serikat (AS) dan Eropa nampaknya tidak mempengaruhi kinerja ekspor produk kepiting olahan. Terbukti, saat ini ada perusahaan yang melebarkan saya ekspor hewan bernama latin callinectes sapidus ini.

Saimi Saleh, Direktur PT Graha Makmur Cipta Pratama, salah satu eksportir kepiting olahan mengungkapkan, ceruk pasar ekspor kepiting masih tersedia walaupun ada krisis ekonomi global. "Krisis perekonomian tidak terlalu berpengaruh industri makanan," kata Saimi kepada KONTAN (20/1).

Sekedar informasi, PT Graha Makmur Cipta Pratama merupakan anak usaha dari Indokom Group yang berdiri sejak tahun 1994 dan awalnya bergerak dibidang ekspor kopi dan tambak udang.

Mulai beroperasi pada November 2011 lalu, Saimi bilang dalam sebulan, PT Graha Makmur Cipta Pratama memperoleh pendapatan US$ 1 juta. Melihat peluang yang cukup menjanjikan itu, tahun ini PT Graha makmur Cipta Pratama menargetkan pendapatan US$ 40 juta.

Saimi menceritakan, hingga awal tahun ini saja sudah ada pemesanan kepiting olahan sebanyak empat kontainer atau setara dengan 60 ton dengan nilai lebih dari US$ 1 juta. "Kita juga menargetkan tahun 2014 bisa menembus ekspor US$ 200 juta," ujar Saimi.

Saat ini keseluruhan produksi PT Graha makmur Cipta Pratama membidik pasar ekspor dengan negara tujuan seperti Amerika, Eropa, China, Jepang dan Timur Tengah. Masih belum dibidiknya pasar domestik tidak lain karena masih minimnya permintaan. Dibandingkan dengan jenis produk olahan laut yang lain, harga jual kepiting olahan masih relaif mahal.

Kepiting olahan produksi PT Graha Makmur Cipta Pratama ini dibanderolnya dengan harga US$ 22 per kg. Sementara untuk biaya produksinya bisa mencapai US$ 17 per kg-US$ 19 per kg. "Kalau kepiting susah didapat, margin keuntungan menjadi lebih rendah lagi," kata Saimi.

Sumber:
http://industri.kontan.co.id/news/peluang-ekspor-kepiting-tetap-menggiurkan