Showing posts with label kebab. Show all posts
Showing posts with label kebab. Show all posts

Wednesday, August 8, 2012

Satu lagi kemitraan piza dan kebab dari Klender

TAWARAN KEMITRAAN KULINER: PIZA DAN KEBAB

Satu lagi kemitraan piza dan kebab dari Klender

Kendati bukan makanan asli negeri ini, kudapan seperti piza, kebab, dan burger sudah sangat populer di lidah masyarakat Indonesia. Oleh karena itu banyak pengusaha makanan lokal tertarik menjajakannya. Salah satunya, KN Food di Klender Jakarta Timur.

Usaha yang berdiri tahun 2009 ini, sejak awal memang fokus sebagai pemasok makanan cepat saji dengan produk unggulan piza, kebab, dan burger. Untuk mengembangkan usahanya, tahun 2010 KN Food resmi menawarkan kemitraan. "Saat ini kami sudah punya 30 mitra di Jakarta, Bandung, dan Kebumen," kata Nur Handayani, Marketing KN Food.

Dalam kerja sama kemitraan ini, KN Food menawarkan beberapa paket investasi. Di antaranya paket investasi Rp 5 juta. Dalam paket ini, mitra bisa memilih beberapa jenis usaha, seperti piza, kebab, atau gabungan burger dan hotdog. "Masing-masing investasinya Rp 5 juta," kata Nur.

Fasilitas yang didapat berupa neon box, kompor satu tungku, peralatan masak, brosur, bahan baku awal, kaos seragam, dan buku panduan operasional. Bila ingin mendapat fasilitas gerobak, mitra harus merogoh kocek lagi Rp 2,5 juta buat gerobak indoor.

KN Food juga menawarkan paket usaha kebab, burger, dan hotdog dengan gerobak outdoor senilai Rp 12 juta. Terakhir, KN Food menawarkan paket lengkap yang terdiri dari piza, kebab, burger, dan hotdog dengan gerobak outdoor senilai Rp 13 juta.

Dengan harga jual Rp 4.000 - Rp 8.000 per porsi, mitra bisa meraup omzet Rp 4 juta per bulan. "Mitra ditargetkan balik modal dalam tiga sampai enam bulan," ucap Nur.

Bisnis lain dari KN Food adalah melayani pesanan dalam jumlah minimal 100 porsi. Adapun menu yang bisa dipesan antara lain kebab, burger, hotdog, canai, piza, dengan aneka rasa yang bisa dipesan sesuai selera.

Harga yang ditawarkan sesuai dengan jumlah pesanan. Untuk kebab mulai dari Rp 6.000 untuk pesanan minimum 500 porsi. Adapun pesanan 100 porsi dikenakan harga Rp 7.000.

Adapun untuk burger, harga jual mulai Rp 4.000-Rp 8.000 per porsi. Sementara itu, harga roti canai mulai Rp 6000 - Rp 8.000. Adapun hotdog dan piza mulai Rp 5000 - Rp 6.000.

http://peluangusaha.kontan.co.id/news/satu-lagi-kemitraan-piza-dan-kebab-dari-klender

Thursday, July 5, 2012

Ardiansyah, Tawarkan Bisnis Kebab dengan Kemitraan Syariah

Views :189 Times PDF Cetak E-mail
Kamis, 05 Juli 2012 08:41
Salah satu peluang hisnis yang tak pernah akan habis penggemarnya, pastinya adalah bisnis kuliner atau makanan. Beragam inovasi menu dan variasi bumbu, menjadi alasan mengapa bisnis ini terus tumbuh subur di masyarakat. Dengan strategi pemasaran prodak yang prima, bukan mustahil bisnis makanan bisa mendatangkan untung yang berlipat. Salah satu jenis kuliner yang sedang populer dan memiliki prospek bisnis yang cukup menjanjikan adalah bisnis kebab.

Ardiansyah1011Kebab merupakan sebutan untuk bermacam hidangan daging panggang atau bakar. Sajian ini umum ditemui dalam masakan Laut Tengah, Kaukasus, Asia Tengah, Asia Selatan hingga masakan beberapa negara Afrika. Daging yang umum diolah menjadi kebab adalah daging domba dan daging sapi.

Terkadang mereka juga memakai daging kambing, daging ayam, ikan, atau kerang. Kelezatan dagingnya yang dikombinasi dengan aneka sayuran segar membuat kebab banyak disukai masyarakat dari kalangan anak-anak hingga dewasa. Cita rasa yang mampu disesuaikan dengan lidah masyarakat Indonesia menjadi salah satu keunggulan makanan bergizi tersebut. Berbagai varian menu kebab makin bertambah menarik ketika para pelaku usaha memberikan sentuhan produk dengan bahan yang bervariasi. Di Timur Tengah, kebab dibuat dari bahan baku daging kambing atau domba, sementara di Indonesia kebab berhasil dikreasi dengan daging sapi, ayam, maupun seafood.

Meski bukan jenis makanan baru, kebab tetap menjadi pilihan menarik untuk kudapan. Inilah yang mendorong Ardiansyah Murdiawan  membuka Corner Kebab pada 2007 di daerah Jakarta Selatan. Dari berbagai riset, ia menyimpulkan, prospek bisnis kebab cukup cerah di Indonesia.

Usianya baru 29 tahun, tapi Ardiansyah Murdiawan Saputra berhasil menggaet 150 mitra ikut nimbrung berbisnis kebab. Kesuksesan dirintis sejak kuliah di ITS Surabaya. Saat di bangku kuliah, Ardiansyah memenangi lomba pembuatan proposal bisnis. Sejak itu, cakrawala bisnis Ardiansyah semakin terbentang.

Sejak memulai bisnis ini, Ardiansyah kini menjadi juragan Corner Kebab yang memiliki 150 mitra di seluruh Indonesia. Rata-rata setiap mitra mencatat omzet Rp 10 juta per bulan, atau sekitar Rp 1,5 miliar untuk 150 gerai. Setelah dikurangi biaya produksi, operasional serta bagi hasil dengan mitra, Ardiansyah membawa pulang profit kotor sebesar Rp 92,5 juta sebulan.

Darah bisnis Ardiansyah agaknya mewarisi mental bisnis sang ayah. Bapaknya adalah pedagang kelontong, sementara ibunya berprofesi sebagai pegawai negeri sipil (PNS). Nah, sedari kecil, Ardiansyah sudah terbiasa membantu orangtuanya berjualan kelontong.  Selepas tamat dari bangku SMA, Ardiansyah melanjutkan kuliah di Fakultas Teknik Elektro Institut Teknologi 10 November, Surabaya (ITS). Bangku kuliah agaknya berperan besar mengasah mental pebisnis Ardiansyah. Sebab, semasa kuliah itu, Ardiansyah bertekad untuk Mandiri dan tak mau membebani orangtuanya.

Sebagai seorang enterepreneur muda, Ardiansyah terus melakukan inovasi produk. Ia menyediakan menu chicken sozzis, beef sozzis, chicken syawarma hingga fish finger kebab. Harganya, mulai Rp 8.000 sampai Rp 12.000 per porsi. Setelah setahun membuka usaha, Ardiansyah berani menawarkan kerja sama kemitraan. Hingga saat ini mitra Corner Kebab telah mencapai 150 outlet, tersebar di Pulau Jawa dan Kalimantan. Corner Kebab menawarkan dua jenis waralaba: tipe outdoor gerobak dengan investasi awal sebesar Rp 36 juta dan tipe outdoor booth dengan investasi awal senilai Rp 46 juta.

Selain menjelaskan perbedaan teknis, Ardi mengatakan, bisnis kebabnya menjalankan sistem pengembangan yang ‘tidak umum’. Mulai tahun 2010, ia menawarkan sesuatu yang berbeda kepada para calon mitra. Yakni, sistem kemitraan bagi hasil secara syariah. Menyasar calon mitranya yang super sibuk, sistem bagi hasil secara syariah ini teknisnya adalah dengan cara mengirimkan karyawan sebagai operator dengan sistem penggajian berupa bagi hasil.Tawaran ini ternyata cukup menyedot minat calon mitra Ardiansyah.

Walaupun optimistis, Ardiansyah mengaku memiliki tantangan dalam melakukan ekspansi. Salah satunya adalah penutupan keran impor daging sapi dari Australia. Saat ini, Ia belum bisa memperkirakan dampaknya penghentian impor sapi itu bagi usahanya. Ia khawatir, penghentian impor sapi dari Australia itu membuat harga daging di dalam negeri kian mahal.

Namun, ancaman kenaikan harga daging itu membuat otak bisnis Ardiansyah bekerja. Ia sekarang sedang mempersiapkan strategi untuk meningkatkan promosi kebab ikan di semua gerai miliknya. Ia mengaku tidak bisa mengurangi komposisi daging pada menu kebab di Corner Kebab. "Kalau saya kurangi daging, maka itu akan merusak kepercayaan pelanggan kepada kami," ungkap Ardiansyah, seperti dikutip dari Kontan Online.

Hal lain yang bisa menghambat ambisi Ardiansyah adalah kepopuleran kebab pada masyarakat. Ia khawatir muncul kemitraan atau waralaba kebab yang menawarkan harga kemitraan atau waralaba yang lebih murah. Tapi, Ardiansyah mengaku ada beberapa teknik cara mempertahankan diri dari gempuran kompetitor. Antara lain, menerapkan program garansi membeli gerai kembali, menerapkan sistem syariah, dan menggunakan peralatan yang berkualitas. "Saya tidak seperti kemitraan yang lain yang hanya menjual putus," tegas Ardiansyah.

Meski sudah berhasil menggandeng 150 mitra kerja, Ardi memilih ambisi untuk paling tidak merangkul hingga 300 mitra hingga akhir tahun2011.  Untuk mencapai target tersebut. Ardiansyah juga mempersiapkan strategi berani, yakni dengan  cara memberikan garansi membeli kembali gerobak gerai kebab yang kontrak kemitraannya telah berakhir. Ia yakin dengan starteginya memberikan garansi pembelian gerobak kembali, menerapkan sistem syariah, dan menggunakan peralatan yang berkualitas, bakal cukup ampuh menahan gempuran kompetitor.

Bagi Ardiansyah, dalam mengambangkan bisnis, modal yang paling penting adalah kejujuran, sedangkan modal merupakan nomor dua. "Kejujuran menghasilkan kepercayaan dan dengan kepercayaan orang akan mau berbisnis dengan kita. Jika kepercayaan hilang, maka tidak satupun orang mau berteman apalagi untuk kerja sama bisnis," tegas Ardiansyah.  (*/AS)

http://ciputraentrepreneurship.com/kuliner/18284-ardiansyah-tawarkan-bisnis-kebab-dengan-kemitraan-syariah.html

Thursday, April 19, 2012

Menjajal sedapnya bisnis kebab

TAWARAN KEMITRAAN KULINER: KEBAB


Menjajal sedapnya bisnis kebab

Kendati bukan makanan asli Indonesia, kebab sudah populer di tanah air. Terbukti, banyak orang Indonesia hobi menyantap makanan ringan asal Timur Tengah ini. Lantaran pasarnya ada, penjaja kebab pun terus bermunculan, mulai dari kelas gerobak hingga kelas restoran.

Bahkan, banyak di antara mereka yang menawarkan kemitraan atau waralaba untuk mengembangkan usaha. Salah satu yang menawarkan kemitraan adalah CV Gazzaa, selaku pemilik merek Gazzaz Kebab di Jakarta.

Memulai usaha sejak 2005, Gazzaz Kebab mulai menawarkan kemitraan pada tahun ini. Nuha Muhammad, pemilik CV Gazzaa mengaku, pihaknya sebenarnya telah membuka kemitraan sejak 2008. Namun, kala itu masih menerapkan sistem kemitraan putus. "Jadi mitra diperkenankan memesan bahan baku dan peralatan, tapi tidak diizinkan menggunakan merek dagang Gazzaz Kebab," jelasnya.

Dari sistem kemitraan putus ini, Nuha bisa menggandeng 100 mitra bisnis. Namun, seiring berkembangnya Gazzaz Kebab, Nuha bilang, banyak yang meminta dirinya untuk membuka kemitraan dengan sistem franchise.

Setelah memperkuat brand dengan mengikuti banyak pameran, Nuha pun membuka kemitraan dengan sistem franchise pada tahun ini. Ia mengklaim, sudah memiliki dua mitra di Balikpapan dan Samarinda. "Totalnya, kami telah memiliki empat gerai, karena sebelumnya kami telah memiliki dua gerai milik sendiri," ujarnya.

Dalam tawaran kemitraan ini, ia menawarkan satu paket kerja sama. Yakni, paket gerobak dengan investasi Rp 50 juta di luar sewa tempat. Mitra akan mendapat perlengkapan, bahan baku awal, dan hak menggunakan merek.

Mitra bisa merogoh kocek lebih besar jika membuka gerai dengan konsep mini resto. "Jadi gerobak ini bisa dikombinasikan untuk mendirikan gerai mini resto," jelasnya.

Selain kebab, ia juga menjual menu lain, seperti hotdog dan burger. Harga jual makanan mulai dari rata Rp 10.000-Rp 15.000 per porsi.

Nuha menargetkan, omzet mitra pada hari biasa sebesar Rp 1,5 juta per hari, dan Rp 2 juta per hari pada akhir pekan. Dengan omzet itu, diperkirakan mitra bisa balik modal dalam 3 bulan-6 bulan.

Ia mengklaim, keunggulan Gazzaz Kebab terletak pada peralatan masak yang berkualitas, sehingga daging cepat matang dengan proses pemanggangan yang maksimal. Keunggulan lainnya, Gazzaz memproduksi roti sendiri, sehingga kualitasnya terjamin.

Pengamat waralaba dari Ben WarG Consulting, Bije Widjajanto, menilai, konsep kemitraan yang ditawarkan Gazzaz Kebab cukup bagus. Namun, nilai investasinya terkesan tanggung karena berada di tengah-tengah konsep booth dan resto. Mestinya, Gazzaz mengemas secara all out paket kemitraan agar terlihat menarik bagi mitra.

Ia menyarankan calon mitra mencermati dengan baik tawaran ini sebelum bergabung. Ia juga tak menampik bahwa pasar kebab di Jakarta sudah tidak sebesar dulu lagi. Ia menyarankan franchisor menyasar luar Jakarta.

CV Gazzaa,
Jl. Daud No 42 Kebon Jeruk
Jakarta Barat
Telp: 021-5321972

Sumber:
http://peluangusaha.kontan.co.id/news/menjajal-sedapnya-bisnis-kebab/?utm_source=twitterfeed&utm_medium=twitter

Tuesday, February 7, 2012

TAWARAN KEMITRAAN KULINER: KEBAB

Peluang Usaha

 
Selasa, 07 Februari 2012 | 12:32  oleh Fahriyadi, Noverius Laoli, Eka Saputra
TAWARAN KEMITRAAN KULINER: KEBAB
Enak disantap, laba kebab mantap
Kebab sudah makin akrab di lidah masyarakat kita. Makanan ringan asal Timur Tengah ini mulai populer di Indonesia sejak awal 2000-an. Para pewaralaba kebab ikut andil besar mempopulerkan roti isi daging ini.

Terbukti memiliki pasar, mereka pun gencar membuka gerai di mana-mana. Jangan heran, kalau sekarang kita bisa dengan mudah menemukan gerai kebab.

Bagi para pelakunya, bisnis ini masih menjanjikan. Bahkan peluang pasarnya pun masih sangat besar, terutama ke daerah-daerah. Indikasi ini terlihat dari penambahan jumlah mitra para pewaralaba kebab tersebut.

Strategi bisnis para pemain kebab juga menjadi resep usaha ini masih awet bertahan. Para pemilik kemitraan kebab berupaya melakukan inovasi mulai dari peremajaan menu secara periodik, memperbarui paket investasi, hingga meningkatkan kualitas dan variasi produk demi bertahan dari persaingan.

Nah, berikut ulasan mengenai perkembangan beberapa kemitraan kebab, seperti Kebab Kings, Corner Kebab, dan Zahfy Kebab.


• Kebab Kings

Mulai berdiri tahun 2006 dan membuka kemitraan tahun 2007, Kebab Kings racikan Bobby Hendrawan mampu berkembang cukup pesat. Saat KONTAN mengulas kemitraan kebab asal Surabaya pada 3 April 2009, Kebab Kings baru memiliki 75 mitra yang tersebar di 13 kota besar di Jawa, Sumatera, dan Kalimantan, Bali, dan Nusa Tenggara.

Waktu itu, Bobby menawarkan paket investasi mulai dari Rp 45 juta-Rp 75 juta dengan omzet Rp 20 juta per bulan dengan balik modal 13-15 bulan. Hampir tiga tahun berlalu, gerai Kebab Kings sudah bertambah menjadi 345 gerai, 20 di antaranya milik sendiri.

Bobby bilang keberhasilannya merangkul mitra sebanyak itu tak lepas dari keagresifan mengenalkan tawaran usahanya hingga tingkat kabupaten. Selain itu, Bobby juga mengubah paket investasi yang ditawarkan ke calon mitra agar semakin menarik.

Kini, Bobby menawarkan empat paket investasi, yakni, memakai gerobak Rp 35 juta, booth Rp 40 juta, kios di mal Rp 50 juta, dan sepeda motor roda tiga Rp 55 juta.

Dari keempat paket itu mitra bisa memperoleh omzet antara Rp 15 juta-Rp 60 juta per bulan. "Kini mitra bisa balik modal antara 3-9 bulan," klaim Bobby.

Peningkatan omzet itu juga tak lepas dari perubahan harga jual ke konsumen. Sebelumnya Kebab Kings menjual produknya dari Rp 8.000-Rp 12.000 per porsi. Sekarang naik menjadi Rp 12.000-Rp 15.000 per porsi.

Bobby mengatakan, harga itu dapat disesuaikan dengan lokasi tempat mitra berjualan. Ia mencontohkan, harga jual kebab di Papua bisa Rp 18.000-Rp 20.000 per porsi. Ia yakin bisnis kebab ini masih cerah. "Tahun ini kami akan buka 255 gerai lagi," ujarnya.


• Corner Kebab

Pertumbuhan bisnis kebab juga dirasakan Ardiansyah Murdiawan, pemilik Corner Kebab yang bermarkas di Kompleks Ruko Ogie Plaza, Pamulang, Tangerang Selatan.

Jika Maret 2011, Ardiansyah hanya memiliki 110 gerai Corner Kebab yang tersebar di Pulau Jawa dan Kalimantan. Namun saat ini, jumlah gerai Corner Kebab mengembang dua kali lipat menjadi 226 gerai. "Punya saya sendiri hanya 10 gerai," kata dia.

Penambahan jumlah gerai tersebut tak terlepas dari usahanya untuk membangun brand Corner Kebab. "Saya banyak melakukan pameran di berbagai daerah," katanya.

Dia mengatakan, kebab harus dibangun sebagai makanan yang menyehatkan. Dus, demi memperkuat citra tersebut, Ardiansyah mewajibkan mitra memiliki lemari pendingin untuk menyimpan daging. "Supaya daging yang ada di tiap gerai segar," jelasnya.

Selain itu, Corner Kebab juga menawarkan menu baru yang menyehatkan bernama Kebab Gandum. Kebab ini terdiri dari biji gandum utuh yang kaya akan serat.

Karena semakin berkembang, tahun ini Ardiansyah mengubah paket investasi yang ditawarkan ke mitra. Untuk tipe outdoor gerobak misalnya, nilai investasi awal menjadi Rp 38 juta dari sebelumnya Rp 36 juta. Adapun tipe outdoor booth, sebelumnya Rp 46 juta, saat ini menjadi Rp 48 juta.

Target omzet, rata-rata per hari Rp 500.000 per hari atau Rp 13 juta per bulan dan bisa balik modal 15 bulan. "Prediksi omzet dan pengembalian modal masih sama seperti yang dulu. Saya mau membangun citra kebab sebagai makanan sehat dulu," imbuhnya.


• Zahfy Kebab

Merintis usaha kebab di tahun 2009 dan tak hanya menjual kebab tapi juga burger dan roti maryam menjadi daya tarik dari Zahfy Kebab. Tak heran, banyak yang berminat menjadi mitra Zahfy. Dus, pada awal 2010, Hefni Tri Sriyantono, pemilik Zahfy Kebab, menawarkan kemitraan.

Pada tanggal 22 Oktober 2010 lalu, KONTAN mengulas kemitraan kebab yang bercokol di Bekasi ini. Kala itu, Hefni memiliki tujuh gerai yang tersebar di Bekasi, Surabaya dan Sidoarjo.

Investasi yang ditawarkan saat itu terdiri dari tujuh paket investasi yang berkisar Rp 16 juta-Rp 65 juta dengan omzet Rp 15 juta per bulan dan balik modal sekitar 11 bulan. Dari sana Hefni juga mengutip royalty fee 3,5% dari omzet. Harga kebab pun dibanderol antara Rp 9.000-Rp 11.000 per porsi.

Saat ini, gerai Zahfy Kebab telah berkembang menjadi 28 gerai, 10 gerai di antaranya milik sendiri. Ia bilang, kebab makin disukai konsumen sehingga turut mendongkrak pertumbuhan gerainya. "Kini kami sudah sampai ke Samarinda dan Tarakan, Kalimantan Timur," ucapnya.

Lantaran makin berkibar, Hefni mengubah paket investasi menjadi enam paket dengan menghapus paket investasi Rp 16 juta. "Kini kami menawarkan investasi dari Rp 22,5 juta-Rp 65 juta," tuturnya. Dia mengatakan, omzet para mitranya kini bisa Rp 10,5 juta-Rp 24 juta per bulan, dengan balik modal 8 bulan-12 bulan.

Menurut Hefni, potensi bisnis kebab masih cukup bagus setidaknya hingga 10 tahun-15 tahun ke depan. Maka itu, Hefni berencana menambah gerai menjadi 50 gerai tahun ini dan 70% di antaranya dimiliki mitra. "Saya juga akan mengembangkan gerai di Singapura," imbuhnya.

Sumber:
http://peluangusaha.kontan.co.id/news/enak-disantap-laba-kebab-mantap