Showing posts with label Mie Ayam. Show all posts
Showing posts with label Mie Ayam. Show all posts

Thursday, September 13, 2012

Peluang bisnis mi ayam

TAWARAN KEMITRAAN

Peluang bisnis mi ayam

Terdorong tren gaya hidup sehat, Maryati Catursari memproduksi mi ayam pangsit dan bakso dengan bahan-bahan yang aman untuk dikonsumsi. Di bawah bendera usaha Pangsito, ia telah menekuni usaha ini sejak tahun 2010 di Depok, Jawa Barat. "Produk yang kami buat aman untuk anak-anak dan penderita maag," ujar Maryati.
Dalam pembuatan mi, Maryati tidak menggunakan soda ash (soda abu). Bahan ayam yang digunakannya juga pilihan. Yakni, ayam probiotik atau ayam yang tidak disuntik hormon dan antibiotik. Ia juga tidak menggunakan zat pewarna. Jika membutuhkan warna yang lebih terang, ia memakai sayuran organik. Bakso buatannya juga tanpa MSG (monosodium glutamate).
Untuk mengembangkan usaha, ia telah menawarkan kemitraan sejak 2010. Saat ini, Maryati telah memiliki tujuh gerai. Dua milik sendiri dan lima sisanya milik mitra.
Dalam kerjasama ini, mitra tidak dibolehkan memakai merek Pangsito. Soalnya, ia masih menetapkan standar untuk membawa Pangsito ke konsep waralaba. Dalam kemitraan ini, biaya investasi ditetapkan Rp 10 juta. Mitra akan memperoleh booth, peralatan masak, peralatan makan, dan bahan baku.
Dengan harga jual Rp 8.000-Rp 12.000 per porsi, mitra dapat meraup omzet Rp 9,5 juta per bulan. Asumsinya mitra dapat menjual 30-35 mangkok per hari. Biaya produksi per mangkok Rp 5.000 -Rp 6.000 per porsi. Setelah dikurangi sewa tempat dan gaji karyawan, mitra mendapat laba Rp 2 juta per bulan. "Diharapkan lima sampai enam bulan, mitra balik modal," ujarnya. 

Monday, August 6, 2012

Mencicipi Kemitraan Mi Ayam Malioboro


Senin, 6 Agustus 2012 | 10:06 WIB

KONTAN/BAIHAKI Mie Ayam

JAKARTA, KOMPAS.com - Bisnis mi ayam memang sudah bejubel pemainnya. Toh, tak berarti peluang bisnis mi ayam kian sempit. Celah pasar tetap terbuka lebar bagi pemain baru.
Maklum saja, mi sudah seperti makanan pokok bagi sebagian besar masyarakat kita. Jadi, tak heran pedagang mie ayam nyaris tak pernah kehilangan pelanggan. Lagipula, penggemar makanan ini tak mengenal kasta, mulai anak-anak hingga orang dewasa, dari kaum berduit hingga yang penghasilannya pas-pasan.
Wajar, semakin banyak yang menyisir rezeki dari bisnis mi ayam. Ada pula yang mengembangkan bisnisnya itu lewat jalur kemitraan.
Ambil contoh, Agus Wiratno, pemilik Mie Ayam Malioboro. Ia memulai usahanya itu sejak 2004 silam. Nah, mulai 2010, Agus menawarkan kemitraan Mie Ayam Malioboro.
Saat ini, Mie Ayam Malioboro telah memiliki 10 mitra, dan dua gerai milik sendiri, yang tersebar di Yogyakarta dan sekitarnya. "Jadi total cabang mencapai 12 gerai," jelas Agus.
Sesuai namanya, Mie Ayam Maliboro menawarkan rasa mi ayam khas Yogyakarta yang manis. Ukuran topping ayamnya pun juga mantap. Harganya pun terjangkau antara Rp 6.000 hingga Rp 10.000 per porsi, tergantung pilihan menunya..
Beberapa menu mi ayam yang dijual adalah mi ayam original, mi ayam bakso, mi ayam bayam dan mi ayam wortel. Agus bilang, akan terus melakukan inovasi produk agar menunya terus bertambah.
Bagi yang berminat, Mie Ayam Malioboro menawarkan dua paket kemitraan. Paket pertama dengan investasi Rp 20 juta. Terdiri dari investasi kemitraan
Rp 15 juta, dan dana cadangan Rp 5 juta. Dari paket ini, mitra akan mendapatkan alat masak seperti kompor gas, dandang rebus kotak, termasuk peralatan saji seperti mangkok, sendok atau sumpit.
Calon mitra juga akan mendapat bahan baku dan training. Agus menargetkan, mitra bisa mendapatkan omzet sekitar Rp 13 juta hingga Rp 15 juta per bulan. "Balik modal sekitar tiga sampai empat bulan," jelas Agus.
Paket kedua dengan investasi Rp 30 juta, terdiri dari investasi kemitraan  Rp 25 juta dan dana cadangan Rp 5 juta. Di paket ini, mitra akan mendapatkan mesin pembuatan mi ayam sehingga tidak perlu lagi memesan mi dari pusat. Paket ini juga akan menjadi master franchise yang akan mensuplai bahan baku mi ayam kepada mitra yang berada di wilayahnya. Estimasi omzet dalam sebulan sekitar Rp 17 juta - Rp 20 juta.
Agar laris, Agus menyarankan calon mitra mencari lokasi strategis seperti mal, daerah perkantoran, pasar dan kampus. (Noverius Laol/Kontan)
 
Sumber :
KONTAN
Editor :
Erlangga Djumena
http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2012/08/06/10061513/Mencicipi.Kemitraan.Mi.Ayam.Malioboro

Thursday, December 1, 2011

TAWARAN KEMITRAAN KULINER: MI AYAM

Peluang Usaha

 
Kamis, 01 Desember 2011 | 13:31  oleh Ragil Nugroho
TAWARAN KEMITRAAN KULINER: MI AYAM
Dari pelangi warna-warni laba mi ayam meluncur

Mi ayam dan bakso adalah dua sejoli makanan yang dijajakan di mana-mana. Tengok saja, hampir setiap waktu, kita pasti mendapati penjaja mi ayam dan bakso, baik itu yang keliling di kompleks perumahan atau yang menggelar dagangannya di pinggir jalan.

Maklum, menu ini bisa disantap kapan saja. Pagi, siang, atau malam hari. Penggemarnya pun tak lagi memandang usia ataupun golongan.

Karena sudah sangat umum, perlu ada terobosan baru dalam penyajian menu ini. Itulah yang dilakukan Isnu Aji, pemilik Mie Ayam Bakso Cita Rasa Pelangi di Yogyakarta.

Ia membuat kreasi baru, berupa mi yang berwarna-warni untuk menarik perhatian konsumen dan menambah selera makan. "Tapi kami tidak menggunakan bahan pewarna yang berbahaya," ujar Isnu. Sebagai pewarna, Isnu menggunakan sari tumbuhan dan buah-buahan.

Adapun produk mi warna-warni Isnu antara lain, mi ayam merah buah bit, mi ayam hijau sawi, mi ayam orange wartel, mi ayam pelangi, mi cumi hitam, hingga pangsit basah pelangi. Beragam produk mi ini dijual dengan harga berkisar Rp 6.000 hingga Rp 7.500.

Meski baru berdiri pada Oktober 2011, Isnu mengaku sudah memiliki banyak pelanggan. Itulah sebabnya, ia berani menawarkan kerja sama kemitraan pada awal November 2011.

Isnu menawarkan paket gerobak senilai Rp 7,5 juta dan paket ruko senilai Rp 51,7 juta dengan jangka waktu kerja sama tiga tahun. Hingga saat ini ia sudah menggandeng sepuluh mitra yang tersebar di Yogyakarta, Semarang, Magelang, dan Malang. "Saya berharap produk ini bisa lebih cepat menyebar," ujarnya.

Dengan paket Rp 51,7 juta, mitra memperoleh peralatan lengkap mulai dari gerobak, bahan baku awal, kompor, hingga lima set meja dan kursi. Mitra juga akan memperoleh pelatihan untuk dua karyawan.

Karena kemitraan, Isnu tidak memungut royalty fee dan franchise fee. Dengan target penjualan 50 porsi per hari, mitra bisa mengumpulkan omzet hingga Rp 12 juta per bulan. Dengan omzet segitu, mitra bisa balik modal dalam kurun 16 bulan.

Isnu menegaskan, segmen pelanggan mi ayam bakso Cita Rasa Pelangi adalah semua kalangan. "Karena produk kami ini aman dan menyehatkan," klaim Isnu.

Supaya produk Cita Rasa Pelangi ini semakin terkenal, Isnu pun punya tim pemasaran dan promosi yang siap membantu mitra. Maklum, persaingan di bisnis ini juga sangat ketat.

Isnu juga memberi panduan untuk para mitra tentang bagaimana memilih lokasi usaha yang tepat. Meski begitu, Isnu tetap memberi kebebasan mitra memilih lokasi, asalkan memenuhi beberapa kriteria yang ditetapkannya. "Karena ini produk makanan, lebih diutamakan yang dekat dengan keramaian," pungkasnya.

Levita Supit, pengamat waralaba yang juga ketua Waralaba dan Lisence Indonesia (WALI), menilai tawaran kemitraan dari Mie Cita Rasa Pelangi cukup menarik, karena mengusung tampilan warna-warni yang menggugah banyak orang untuk mencicipi mi itu. "Alangkah baiknya jika tampilan itu dibarengi rasa yang lezat," ujarnya.

Menurutnya, peta persaingan di bisnis mi sudah sangat ketat, karena itu ia menyarankan ada diferensiasi menjadi wajib hukumnya. "Nah, tugas yang perlu dilakukan franchisor adalah memasarkan brand ini agar dikenal publik secara luas," jelasnya.

Adapun untuk paket investasi dan perkiraan balik modal cukup relevan dan masuk akal, mengingat bisnis mi masih sangat prospektif ke depannya.


Mie Ayam Bakso Cita Rasa Pelangi
Mejing Timur Gamping, Yogyakarta
HP. 085743777237

Sumber:
http://peluangusaha.kontan.co.id/v2/read/peluangusaha/84137/Dari-pelangi-warna-warni-laba-mi-ayam-meluncur-

Friday, September 9, 2011

Gurihnya Laba Mie Ayam Gerobakan

PDF Cetak E-mail
Kamis, 08 September 2011 09:19
Memulai suatu bisnis waralaba atau franchise, tidaklah harus berawal dari suatu hal yang besar. Dengan kreatifitas, tekad yang kuat dan perhitungan yang matang, seseorang bisa merubah alur rezekinya melalui jalur bisnis tersebut. Sebut saja bisnis mie ayam gerobakan milik Wahyu Indra, warga Depok, Jawa Barat yang dikembangkan dengan sistem waralaba.

mieayam0911Melalui bisnis olah perut, yang mungkin bagi beberapa orang dipandang “kampungan”, Wahyu kini bisa meraup keuntungan sedikitnya Rp14 juta per bulan. Selain itu melalui sistem waralaba yang ia jalankan, waralaba Mie Ayam Grobakan kini telah memiliki 65 gerai, sejak diresmikan tahun 2010.

Awal ketertarikan Wahyu Indra terhadap bisnis ini bermula dari ketertarikannya terhadap kuliner. Sebagai “penggila” mie ayam yang dijual di gerobak, Wahyupun mulai tertarik untuk bisa mengolah menu favoritnya tersebut. Merasa puas dengan mie ayam olahannya, Wahyu pun memberanikan diri untuk menjual hasil karyanya. Dengan keyakinan dan tekad yang kuat, Wahyupun mulai memberanikan diri untuk menjadi seorang pedagang mie ayam gerobakan.

Melihat pangsa pasar mie yang begitu tinggi di masyarakat, ia pun memilih makanan tersebut sebagai ‘ladang’ usahanya. Bahkan, pekerjaan lamanya sebagai produser sebuah rumah produksi film pun ia tinggalkan.

Dengan bekal kreatifitas dalam mengolah menu makanan, Wahyu mampu menjadikan mie ayam miliknya lain dari mie ayam pada umumnya. Dibanding mie ayam yang biasa ditemui, Wahyu mengklaim bahwa Mie Ayam Grobakan miliknya memiliki rasa lebih gurih. Selain itu, mie tersebut lebih halus dan lembut di lidah, serta tak mudah putus. “Tidak hanya nikmat, mie yang kami gunakan juga bebas dari bahan pengawet. Jadi konsumen tidak perlu khawatir saat mengkonsumsi prodak kami,” ungkap Wahyu kepada Ciputraentrepreneurship.com, saat dihubungi via telepon.

Hal lain yang juga menjadi ciri khas dari produknya adalah, dari cara penyajian. Wahyu sengaja memilih untuk menggunakan gerobak kayu, untuk melayani pelangganya. Menurutnya, selain unik, gerobak kayu akan makin memperkuat citra porduknya, dibandingkan prudak waralaba makanan yang lain.  Dengan menggunakan gerobak kayu, ternyata pelanggan yang datang makin tertarik karena terkesan unik dan terjangkau.

Untuk bisa bersaing, Wahyupun mengaku bahwa harga produknya terjangkau bagi semua golongan masyarakat. Bahkan Wahyu lebih memilih untuk bermain di kelas menengah ke bawah, agar bisa dinikmati siapa saja. Cukup seharga Rp 7.500 hingga Rp 12.000, mie ayam gerobak bisa disantap. Dengan cara ini, Wahyu berharap bisa mempertahankan citra “kaki lima” pada produknya. “Sudah banyak produk lain yang harganya mahal. Saya ingin agar produk saya bisa down to earth, dan bisa dinikmati banyak orang,” tambah Wahyu.

Seiring dengan terus meningkatnya permintaan, Wahyu berpikir untuk meningkatkan dan memperluas usahanya. Sempat terpikirkan untuk membuka cabang di lokasi lain. Namun, itu pasti membutuhkan modal yang tidak sedikit. Wahyu pun memilih waralaba. Hal ini dilakukan sejak Juni 2010. Dengan  modal Rp 5,2 juta, Mie Ayam Grobakan bisa dimulai. Dengan modal tersebut, Wahyu menyediakan satu gerobak, dandang mie, timbangan digital, tempat ayam, serokan mie, talenan, tabung gas, dan juga menyertakan bahan baku mie mentah 10 kg untuk meracik 110 porsi mie ayam.

Paket kemitraan ini akan berlangsung selama 5 tahun. Kelak, bagi mitra biasa yang serius menjalankan bisnis dan memiliki perkembangan pesat, bisa saja naik kelas menjadi pemilik cabang produksi.

Pemilik modal kemudian dilatih agar menguasai resep pembuatan bumbu masakan yang diciptakan Wahyu. Tetapi tidak semua resep diberikan. Resep khusus pembuatan mie hanya akan dimiliki oleh Wahyu. Dengan cara itu, kualitas mie yang dijual pasti sama di semua tempat. Selain uang Rp 5,2 juta, Wahyu pun meminta syarat bagi calon tewaralaba. Syarat tersebut tidak terlalu rumit, seperti yang diharuskan pemilik merek dagang lainnya. Wahyu hanya meminta kepada partner agar, jujur dalam menjalankan usaha, memiliki semangat, dan modal seperti yang telah ditentukan. “Saya inginnya, mitra saya juga mencicipi dan suka terhadap prodak yang akan mereka jual. Jadi tidak hanya sebatas jualan prodak saja,” jelas Wahyu.

Dengan hitungan penjualan 25 mangkuk, sang mitra akan memperoleh pendapatan Rp 550.000 per hari. Omzet satu bulannya bisa mencapai Rp 16,5 juta. Omzet sebesar inilah yang membuat sang mitra balik modal hanya dalam waktu dua pekan.

Dengan besarnya potensi yang dibawa oleh nikmatnya mie ayam gerobak, Wahyu berharap mie ayam kreasinya nantinya bisa dicicipi di setiap daerah di Tanah Air. “Harapan saya supaya mie ayam gerobak bisa menjadi ikon kuliner nasional. Saat ini memang kami masih fokus untuk daerah Jabodetabek, namun ke depannya kami mau go nasional,” pungkas Wahyu penuh harap. (*/Gentur)

Sumber:
http://ciputraentrepreneurship.com/kuliner/10938-gurihnya-laba-mie-ayam-gerobakan.html